BANJARMASIN - Insiden yang menimpa pekerja di kapal terulang, kemarin (9/10) pagi. Kali ini giliran tukang las. Bernama Wintoro, 32 tahun, warga Jalan Pembangunan Ujung, Banjarmasin Barat. Dia tewas saat memperbaiki sebuah tongkang di galangan milik PT Nogopatmolo, Jalan PM HM Noor, Banjarmasin Barat.
Kejadian bermula sekitar pukul 08.30 Wita. Menurut keterangan para saksi, kala itu korban bersama empat rekannya; Abdul Aziz (30), Musa (30), Bambang Akhmadi (44) dan Yansah (36). Keempatnya juga sempat tak sadarkan diri. Beruntung, mereka selamat.
Saksi kejadian, dua bersaudara Toni dan Yoyok Dwi Santoso; pekerja di PT Nogopatmolo, menceritakan, sebelum kejadian korban sibuk menyiapkan peralatan. Namun, entah ke mana, tiba-tiba dia menghilang begitu saja.
Lantaran penasaran, Toni, adik Yoyok bertanya kepada empat pekerja lain. Hasilnya nihil. Tak satu pun melihat.
Toni lalu curiga dengan lambung tongkang yang sudah dijebol. Rupanya, korban membuat lubang seukuran tubuh di sana sebagai pintu masuk.
Toni lantas meminta bantuan pekerja lain untuk mengecek. Akhirnya satu per satu teman korban masuk ke dalam.
Rupanya perasaan Toni tak nyaman. Sebab, empat pekerja yang masuk menyusul tak kunjung keluar. Dia lalu mencoba mengecek sendiri.
“Dia (Toni,Red) sempat masuk dan melihat mereka terdampar di dalam lambung tongkang. Karena merasa ada bau yang cukup menyengat, dia langsung bergegas keluar,” ungkap Yoyok memaparkan cerita adiknya.
Mengetahui ada yang tak beres, Toni lantas meminta bantuan dengan pekerja lain. Mereka pun berupaya melakukan penyelamatan dengan membawa alat pernapasan. Tapi sayang, baru satu orang terevakuasi, tabung alat pernapasan itu pecah. Terbentur dinding lambung tongkang.
“Satu persatu kami evakuasi para korban. Menggunakan kompresor dengan menyemprotkan angin di dalam lambung. Tetapi korban (Wintoro,Red) lebih jauh di dalam. Sehingga kesulitan dievakuasi keluar. Dan sedikit terlambat, karena badan korban besar dan tinggi,” cerita Yoyok.
Dari cerita Yoyok, tongkang yang menelan korban itu tiba di galangan, Minggu (7/10) dini hari. Sebelumnya kapal tersebut digunakan mengangkut batubara. “Sebenarnya standartnya manhole dan palka terlebih dahulu dibuka, dan ini belum dibuka sama sekali masih tertutup. Apakah rusak atau tak bisa, saya tidak mengetahui itu,” ungkapnya.
Menurut Yoyok, mereka punya standar kerja. Setiap kali pengerjaan las tongkang, palka dan manhole harus dibuka. Minimal dua hari sebelumnya. Sehingga ada pergantian udara. “Korban sepertinya lalai. Entah mengapa kami tak mengetahui. Padahal dia sudah lama menggeluti pekerjaan itu,” tuturnya.
Setelah dievakuasi, korban lalu dilarikan ke Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin. Sayang, nyawanya tak tertolong. Keluarga yang mengetahui terlihat syok. Istri korban, Netri Sumarni (29) tak henti-henti menangis. Perempuan itu ditemani Fahri (7) putranya.
Terkait insiden itu, Wakil Kepala Satuan Reskrim Polresta Banjarmasin, AKP Sony L Gaol belum bisa memberi keterangan lebih banyak. Mereka butuh waktu untuk melakukan penyelidikan mendalam.
“Kami belum tahu apa penyebabnya yang pasti. Kami sudah mengecek TKP dan melakukan pemeriksaan. Tetapi kami tidak bisa berandai-andai untuk menyatakan hasilnya," ucap Sony. Menurutnya, bisa saja karena sakit atau. "Ya, kita tunggu nanti apa hasilnya,” tutupnya saat di lokasi kejadian.
Sementara itu, pihak PT Nogopatmolo, melalui petugas keamanan jasa pekerjaan dan perbaikan kapal mengaku jika atasan mereka masih sibuk. Dan belum bisa ditemui.(lan/at/nur)
Editor : Arief