BANJARMASIN – Kasus napi Lapas Teluk Dalam yang melakukan aksi kriminal terencana secara online membuat banyak masyarakat resah. Pasalnya sudah bukan rahasia lagi jika di dalam penjara, handphone bisa diakses. Beberapa narapidana bahkan ditengarai biasa berselancar di media sosial.
Sumber Radar Banjarmasin menyebutkan bahwa ponsel adalah hal yang biasa di penjara. "Mereka punya handphone, biasa nyewa dan meminta pulsa ke keluarga atau teman-temannya," ucap J, warga Banjarbaru. Dia sekali lagi menegaskan itu bukan rahasia lagi. "Sipir sudah tahu, biasa itu."
Dia mengatakan memang tak semua menggunakan ponsel dengan internet. Beberapa hanya menggunakan handphone biasa. "Kalau ingin pakai yang android harus bayar pula dulu," ucapnya yang tak mengatakan kepada siapa ponsel internet dibayar.
Benarkah semudah itu mengakses internet di penjara?
Kepala Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Teluk Dalam Banjarmasin Rudi Charles Gil mengakui adanya kecenderungan itu. Meski dia membantah jika penjaga dan sipir pun terlibat. Anggota dari tim Satuan Tugas (Satgas) Keamanan dan Ketertiban sudah sering kali melakukan razia ke seluruh sel tahanan. Tanpa terkecuali.
" Waktunya tidak menentu. Bisa pagi hari, siang atau malam bahkan subuh," ucapnya.
Dalam razia itu, petugas lapas banyak menemukan ponsel milik narapidana. Barang-barang tersebut disita kemudian dimusnahkan. Itu adalah bukti bahwa pihaknya sudah berupaya semaksimal mungkin mencegah narapidana bisa mengakses ponsel. "Lapas Teluk Dalam Banjarmasin ini paling sering melakukan razia, bahkan pernah dapat piagam terbaik,” bangganya.
Tapi diakuinya, meskipun sudah sering kepergok atau terjaring saat razia, masih ada saja warga binaan yang mencoba untuk mendapatkan handphone. Mereka kucing-kucingan dengan petugas untuk mendapatkan handphone dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan diselundupkan dari luar.
Di Lapas Banjarbaru, narapidana juga tak diperbolehkan membawa handphone ke Lapas. Namun, berulangkali pihak Lapas kecolongan dan tanpa sadar sejumlah napi dapat menyelinapkan ponsel dalam sel.
Kepala Lapas Banjarbaru Abdul Azis, mereka selama ini sudah memperketat penjagaan. "Setiap pengunjung dan warga binaan atau tahanan yang baru masuk selalu kami geledah barang bawaannya, untuk mencegah masuknya alat komunikasi. Tapi, terkadang masih ada yang lolos," katanya.
Masih ada celah untuk memasukkan barang terlarang, menurut Kalapas lantaran personel penjaga yang masih minim. Bayangkan, dari total 1.548 napi hanya dijaga oleh 11 orang setiap shift-nya. "Idealnya 20 orang, agar penjagaan dapat maksimal," pungkasnya.
Kasub Bidang Keamanan Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Kalsel, Sugito mengakui kondisi ini benar terjadi di lapangan. Napi yang bandel biasa menggunakan berbagai macam modus agar dapat memasukan barang-barang yang dilarang termasuk ponsel dan barang terlarang lainnya. "Bisa dengan melempar dari balik tembok yang tinggi atau dari lewat orang yang disuruh membawa makanan. Anggota yang bertugas di lapangan sudah melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pemeriksaan," katanya.
Lalu bagaimana jika ada temuan napi seperti itu? Sugito memastikan akan diberi tindakan tegas. “Pasti kita tindak tegas,” tukasnya.
Sebelumnya tiga narapidana Lapas Teluk Dalam Banjarmasin memperdaya dan memeras seorang perempuan di Banjarbaru. Mereka telah mengaturnya dengan baik. Awalnya, napi bernama Faisal Ramadhan mencari seorang wanita melalui media sosial. Dia menemukan MU, perempuan 19 tahun yang berlokasi di Banjarbaru.
Dia kemudian mengenalkan MU kepada M Rafi’i yang disebutnya sebagai anggota TNI. Seiring berjalannya waktu, M Rafi'i dan MU semakin dekat. Saling kirim inboks dan pesan-pesan mesra. MU diminta mengirimkan foto-foto bugilnya.
Setelah mendapatkan foto-foto yang dia inginkan, Rafi’i kemudian menjalankan tujuannya, yaitu memeras. Dia meminta uang dikirimkan ke rekening salah seorang napi bernama Arifudin Firdaus. Jika tak diberikan, Rafi’i mengancam bakal menyebar gambar telanjang korban.
MU yang panik kemudian menyadari bahwa dia telah dijerat. Tapi, dia tak bisa melakukan apa-apa. Dia kemudian mengabulkan apa yang diminta para begundal di sel itu sebelum akhirnya melaporkannya ke Polresta Banjarbaru. (gmp/ris/ay/ran)
Editor : Arief