Maitsa Salzabila Almas, Kemas Sejarah Biar Diterima Anak Muda

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 12:34 WIB
Maitsa Salzabila Almas
Maitsa Salzabila Almas

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Ada satu hal yang mengusik pikiran Maitsa Salzabila Almas. Ketika pertama kali berkunjung ke Candi Agung, Amuntai. Saat itu, masih duduk di bangku SMA.

Di bangunan bersejarah itu, ia heran pengunjungnya mayoritas orang tua. Sementara anak-anak muda jauh lebih sedikit.

Pertanyaan sederhana pun muncul di benaknya: mengapa tempat dengan cerita sejarah panjang justru tidak banyak didatangi anak muda?

Rasa penasaran itu membuat Maitsa mulai mencari tahu. Ia membaca dan menelusuri cerita di balik peninggalan sejarah tersebut.

Dari sanalah ketertarikannya terhadap sejarah Banjar perlahan tumbuh.

Kini, perempuan 20 tahun itu menempuh pendidikan S1 Jurusan Pendidikan Sejarah semester lima. Maitsa berasal dari Muara Tuhup, Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.

Meski berasal dari daerah berbeda, ketertarikannya terhadap sejarah membawanya semakin dekat dengan cerita masa lalu Kalimantan Selatan.

Menariknya, kecintaan Maitsa terhadap sejarah juga tumbuh dari sesuatu yang dekat dengan keseharian anak muda. Ia gemar menonton konten horor, termasuk Jurnal Risa. Namun, bukan cerita mistis yang membuatnya tertarik. Maitsa justru penasaran dengan sejarah tempat yang menjadi latar cerita. “Ulun (saya, red) bedah dari sudut pandang sejarahnya, bukan mistisnya,” ujarnya.

Kebiasaan itu membuatnya semakin sadar bahwa banyak bangunan tua di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan menyimpan cerita yang belum banyak diketahui. Bangunan yang bagi sebagian orang hanya tampak kusam dan terbengkalai, bagi Maitsa bisa menjadi pintu untuk memahami kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Semakin banyak mempelajari sejarah, semakin berbeda pula cara pandangnya terhadap sebuah tempat. Pasar Sudimampir, Jalan Veteran, hingga tepian Sungai Martapura tidak lagi sekadar ruang yang dipenuhi aktivitas masyarakat. Di balik keramaian itu, ada jejak masa lalu yang ikut membentuk wajah Banjarmasin.

Bangunan tua peninggalan kolonial pun tak lagi dilihatnya sekadar sebagai bangunan yang menua. Begitu pula sungai dan lingkungan kota yang kini terlihat biasa. “Sekarang kalau melihat bangunan kolonial tua atau sungai yang mulai menyempit, ulun langsung terbayang jejak masa lalu,” tuturnya.

Sejarah Tak Hanya Soal Perang

Bagi Maitsa, belajar sejarah bukan sekadar menghafal nama, tempat, dan tahun. Semakin mendalami sejarah Banjar, ia menemukan bahwa masa lalu tidak hanya berisi kemenangan, tokoh besar, atau perang.

Ada pula kisah tentang orang-orang yang mengalami penderitaan dan tidak selalu mendapat ruang dalam narasi sejarah.

Salah satu yang paling membekas baginya adalah kisah jugun ianfu, perempuan-perempuan yang menjadi korban eksploitasi seksual pada masa pendudukan Jepang.

Bagi Maitsa, kisah tersebut menunjukkan bahwa sejarah juga memiliki sisi kelam yang perlu dibicarakan. Ia melihat narasi sejarah kerap lebih banyak menampilkan perang dan tokoh laki-laki. Sementara pengalaman perempuan yang menjadi korban kekerasan dan eksploitasi sering tidak mendapat perhatian yang sama. “Sejarah tuh bukan cuma soal kemenangan perang,” katanya.

Menurut Maitsa, sejarah juga berbicara tentang empati. Tentang mereka yang pernah mengalami penderitaan, tetapi kisahnya tidak selalu terdengar.

Pandangan itu membuat ketertarikannya terhadap sejarah Banjar semakin dalam. Baginya, sejarah menyimpan nilai kehidupan, termasuk tentang perjuangan, daya tahan, dan kreativitas masyarakat pada masa lalu.

Karena itu, cerita sejarah perlu terus dipelajari dan diceritakan kembali. “Kalau bukan kita yang belajar dan menjaga ceritanya, siapa lagi yang bakal meneruskannya?” ujarnya.

Membawa Sejarah ke Dunia Anak Muda

Maitsa menilai persoalannya bukan semata-mata sejarah yang dianggap membosankan. Cara menyampaikan cerita juga menentukan bagaimana anak muda memandangnya.

Bagi generasi yang akrab dengan TikTok dan Reels, cerita sejarah bisa dikemas melalui storytelling yang singkat, visual, dan menarik.

Ruang yang dekat dengan anak muda juga bisa dimanfaatkan.

Kafe dengan konsep vintage, misalnya, dapat menjadi medium untuk memperkenalkan cerita sejarah di balik sebuah tempat atau benda.

Dengan begitu, sejarah tidak harus selalu ditemui melalui buku pelajaran atau ruang kelas.

Sejarah bisa hadir ketika seseorang membuka media sosial, sedang nongkrong di kafe, atau sekadar berjalan melewati bangunan tua.

Maitsa sendiri belum tahu persis ke mana ketertarikannya terhadap sejarah akan membawanya. Namun, satu hal sudah ia yakini: cerita yang telah dipelajarinya tidak ingin berhenti pada dirinya.

Apa pun jalannya nanti, ia ingin terus membagikan pengetahuan sejarah kepada orang-orang di sekitarnya, baik melalui konten, pendidikan, maupun percakapan sederhana.

Ia ingin orang lain ikut merasakan rasa penasaran yang dulu membawanya mengenal sejarah lebih jauh. Sebab, bagi Maitsa, sejarah bukan hanya tentang menengok masa lalu. Sejarah adalah cara untuk memahami tempat, mengenali identitas, sekaligus melihat kembali cerita orang-orang yang pernah membentuk kehidupan hari ini. Dan seperti ketika pertama kali melihat Candi Agung, semuanya bisa bermula dari satu hal sederhana: rasa penasaran. (zkr/gr/dye)

Maitsa Salzabila Almas
Maitsa Salzabila Almas

 

Maitsa Salzabila Almas

Panggilan: Maitsa
TTL : Muara Tuhup, 22 Februari 2006
Usia: 20 tahun
Domisili: Kelurahan Muara Tuhup, Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah
Pendidikan: S1 Pendidikan Sejarah, semester 5

Editor : Arief M
sosok inspiratif Perempuan Sejarah