Keyco Cira Tabina: Buktikan Lewat Karya, Tak Tumbuh Secara Instan

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:38 WIB
Keyco Cira Tabina
Keyco Cira Tabina

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU - Di tengah kesibukan anak muda Kotabaru mengejar ruang berekspresi, sosok Keyco Cira Tabina (23) tampil berbeda. Ia bukan sekadar potret perempuan muda yang multiperan.

Lebih dari itu, perempuan yang akrab dipanggil Cici ini adalah simbol ketangguhan seorang anak muda yang tak gengsi mengandalkan otot dan keringatnya sendiri demi sebuah kemandirian.

Siapa sangka, di balik pekerjaannya sebagai staf Dinas Perikanan Kotabaru, pengurus HMI, mahasiswi Hukum Universitas Terbuka, serta pemeran utama dalam film lokal Bagandang Nyiru dan Kapuhunan, ia menyimpan rekam jejak masa lalu yang ditempuh dengan kerja keras tanpa gengsi.

Kemandirian Cici tidak tumbuh secara instan, melainkan ditempa oleh keadaan sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Ketika remaja sebayanya menikmati waktu bermain, ia justru sudah belajar mencari uang sendiri demi membiayai kebutuhan sekolah dan tugas kelompoknya.

Pekerjaan apa saja ia lakoni. Tanpa pilih-pilih. Mulai dari menjual kue titipan di sekolah, menjadi penjaga kedai ayam geprek, karyawan minimarket, hingga menyapu dan membersihkan rumah gurunya.

“Dari SMP saya sudah kerja ikut orang. Macam-macam dikerjakan, tidak pernah memilih-milih pekerjaan. Kuncinya satu, saya tidak mau bergantung pada orang lain,” kenang Cici.

Ujian hidupnya kian berat saat keluarganya mengalami perubahan pada 2014. Terpisah jarak dari sang ibu sejak kelas IV SD (saat awal menetap di Kotabaru pada 2013), Cici harus menata hidup dengan menumpang di rumah kerabat sembari terus bekerja.

Puncak tekanan emosional sempat menghampirinya saat di SMAN 1 Kotabaru. Pengalaman diremehkan dan kekecewaan hidup sempat membawanya ke titik terendah. Namun, kelulusannya pada 2021 menjadi momentum bagi Cici untuk berdamai dengan keadaan.

“Dari pelajaran diremehkan orang, sekarang saya memilih untuk diam. Tidak perlu membalas dengan kata-kata, lebih baik tunjukkan dengan action dan bukti nyata,” tegasnya.

Prinsip pembuktian lewat karya itu terbukti. Secara otodidak, Cici menembus dunia seni peran hingga dipercaya menjadi pemeran utama dalam dua judul film lokal Kalimantan Selatan, Bagandang Nyiru dan Kapuhunan.

Baginya, dunia perfilman bukan sekadar ajang tampil di depan kamera, melainkan ruang menempa kedewasaan. “Pelajaran terpenting di film adalah bagaimana kita menurunkan ego, jangan merasa paling bisa, jangan angkuh, dan fokus pada tujuan bersama,” ujarnya.

Kini, hidup Cici ibarat mesin yang tak pernah berhenti bergerak. Pagi hingga siang, ia menjalankan tugasnya di kantor Dinas Perikanan. Di sela jam istirahat siang, ia pulang ke rumah untuk mengolah adonan Gabin Fla.

Usai jam kantor jam 14.00 WITA dan berlanjut hingga pulang kerja sore, ia bergegas menuju kawasan Siring Laut Kotabaru untuk membentang lapak dagangannya hingga malam hari.

Bagi Cici, menjadi perempuan mandiri bukan berarti menutup diri dari bantuan orang lain, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab penuh atas jalan hidup yang dipilih.

“Mengeluh itu wajar sebagai manusia. Tapi sekarang saya sadar, kesuksesan itu tergantung sejauh mana usaha kita. Yakin saja bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil,” tuturnya.

Ia pun menitip pesan mendalam bagi sesama perempuan dan anak muda yang tengah berjuang menembus keterbatasan hidup.

“Jangan pernah merasa sendirian. Kalau capek, menangis saja, itu tidak apa-apa. Tapi jangan pernah menyerah. Masalah ini pasti akan terlewati. Mari kita sama-sama peduli, karena satu kepedulian kecil dari kita bisa berdampak sangat besar bagi orang lain untuk bertahan hidup,” katanya. (jum/mof)

Editor : Arief
Kotabaru for her sosok inspiratif Perempuan