Faizah: Pindah dari Makkah ke Balangan, Pernah Diolok Arab Sesat

M Dirga • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 23:50 WIB
FAIZAH
FAIZAH

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Pengalaman berpindah tempat tinggal dengan budaya yang jauh berbeda sering kali tidak mudah bagi seorang anak. Faizah, mahasiswi asal Kabupaten Balangan, merasakan betul beratnya masa penyesuaian tersebut sejak ia harus pindah dari Kota Makkah ke Balangan pada tahun 2015 silam.

Kondisi lingkungan dan kebiasaan berpakaian yang sangat berbeda, antara Makkah dan Balangan sempat membuatnya kaget. Bukannya mendapat sambutan hangat di sekolah barunya, ia justru harus menghadapi perlakuan kurang menyenangkan dari teman-teman sebayanya karena dianggap sebagai warga pendatang.

"Pas pertama kali pindah ke Balangan, aku sempat dianggap warga pendatang. Aku bahkan pernah mengalami perundungan, dipanggil dengan sebutan Arab sesat atau Arab terjatuh dari pesawat. Teman yang mau bergaul denganku juga kadang ikut dijauhi," tutur Faizah mengenang masa adaptasinya.

Pengalaman pahit di masa kecil itu rupanya tidak membuat Faizah patah semangat. Lulus dari sekolah menengah, ia memberanikan diri merantau ke Kota Malang untuk kuliah di program studi Ilmu Hukum Universitas Islam Malang.

Di sana, ia kembali belajar menyesuaikan diri dengan bahasa dan keramahan budaya Jawa, sekaligus mematangkan bakat kesenian Islami yang sudah ia tekuni sejak di Balangan.

Ia membuktikan bahwa mahasiswa hukum yang identik dengan hafalan pasal juga bisa melembutkan hati lewat seni. Kemampuannya melantunkan ayat suci membawanya meraih Juara 1 Tilawah Putri MTQ tingkat universitas pada 2022.

Baginya, kesenian ini bukan sekadar lomba untuk mencari piala, melainkan cara untuk menyampaikan pesan dari Alquran. "Tilawah itu seni untuk memperindah bacaan, bagaimana kita menyampaikan makna dari ayat melalui irama dan penghayatan. Jika membacanya dengan hati, yang mendengarkan juga bisa ikut terbawa suasana sampai menangis," ucapnya.

Kesibukannya di kampus tidak hanya sebatas kuliah dan mengasah bakat bernyanyi. Ia juga dipercaya memegang posisi penting di organisasi, salah satunya sebagai Ketua Umum Putra Putri Fakultas Hukum UNISMA. Tak hanya itu, ia juga mengemban posisi Sekretaris Umum Kerukunan Mahasiswa Balangan Malang.

Menghadapi berbagai watak rekan sesama perantau menuntutnya untuk bisa menurunkan ego dan lebih banyak mendengarkan sudut pandang orang lain.

Padatnya jadwal antara urusan akademik, memimpin organisasi, dan latihan kesenian tentu membuat waktu istirahatnya banyak tersita. Namun, ia menyadari bahwa setiap pilihan yang ia ambil memiliki konsekuensi.

"Sebagai mahasiswa, tugas utama tetap kuliah. Urusan organisasi dan latihan tilawah biasanya aku kerjakan di waktu senggang. Kalau ditanya apa yang dikorbankan, ya pasti waktu tidur. Semua keputusan kan ada risikonya," selorohnya.

Di sela berbagai rutinitas padat tersebut, Faizah juga menaruh perhatian besar pada masalah kesehatan mental. Ketertarikan ini ternyata bermula dari pergumulan pribadinya di rumah. Di mana ia harus berjuang mencari jalan keluar dari tekanan psikologis akibat pola asuh generasi lama yang belum terlalu paham soal isu kesehatan mental.

Pengalaman pribadi menyembuhkan diri sendiri itulah yang pada akhirnya mendorong Faizah untuk lebih peka. Ia memutuskan untuk aktif membagikan edukasi kesehatan mental melalui media sosialnya agar orang lain tidak merasa sendirian.

"Aku mulai mencari tahu akar masalah yang aku rasakan, berusaha memperbaikinya, dan memutus rantai itu. Setelah belajar dari pengalaman sendiri, aku mencoba mengedukasi orang lain tentang kesehatan mental agar mereka juga punya kesadaran," terangnya.

Kini, setelah berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya dengan predikat lulusan terbaik atau cumlaude, Faizah ingin kembali dan berkontribusi secara nyata. Ia berharap perjalanan hidupnya bisa menjadi bukti bagi generasi muda di desa bahwa segala keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya.

"Jangan takut mencoba keluar dari zona nyaman dan perluas wawasan. Balas dendam paling baik untuk orang yang pernah merendahkan kita adalah dengan membuat diri kita jauh lebih berharga dan berkualitas dari apapun yang mereka punya," pesannya. (mud/mof)

Editor : Arief
for her Perempuan paringin