RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Bagi sebagian orang, komentar miring bisa menjadi penghalang untuk maju. Namun tidak bagi Faridah. Perempuan kelahiran Banjar, 7 Juli 1997 ini, justru menjadikannya sebagai bahan bakar untuk terus melangkah dan membuktikan kemampuan dirinya.
Putri pasangan Maman dan Sanirah ini tumbuh dari keluarga sederhana. Meski demikian, keterbatasan tidak pernah membuatnya menyerah mengejar mimpi. Baginya, kesuksesan tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga, melainkan kemauan untuk terus belajar dan bekerja keras.
Faridah menghabiskan tujuh tahun masa pendidikannya di Pondok Pesantren At-Thahiriyah. Selama menjadi santri, berbagai prestasi berhasil diraihnya. Mulai dari juara baca kitab, juara pidato Bahasa Arab tingkat provinsi, hingga aktif dan berprestasi dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka.
Saat ini Faridah mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Pondok Pesantren Raudhatul Muta'alimin An-Nahdiyah (RMA) Cabang Limamar Astambul. Tak hanya mengajar, ia juga dipercaya sebagai Kepala Sekretariat di lingkungan pondok pesantren tersebut.
Di luar aktivitasnya sebagai pendidik, Faridah aktif berorganisasi melalui Fatayat NU tingkat Kota Banjar. Dari organisasi itulah ia banyak mendapatkan relasi, pengalaman, wawasan, dan kesempatan untuk terus berkembang. "Menambah wawasan, menambah teman, menambah ilmu, dan membuat hidup lebih produktif," ujarnya saat ditanya alasan aktif berorganisasi.
Perjalanan yang dilaluinya tidak selalu mulus. Komentar pedas yang menyebut perempuan seharusnya hanya berada di dapur. Bahkan, ia juga sering dipandang sebelah mata karena berasal dari keluarga biasa, justru menguatkan tekatnya.
Ia memilih menutup telinga, dan fokus menunjukkan kemampuan melalui karya nyata. "Tidak perlu digubris. Buktikan saja dengan hasil," tegasnya.
Salah satu pencapaian yang paling membanggakan bagi Faridah adalah ketika dirinya mampu menjadi aktivis yang dapat menyuarakan suara-suara yang selama ini terbungkam. Ia berharap semakin banyak perempuan berani tampil, berpendapat, dan mengambil peran di tengah masyarakat.
Di tengah kesibukan mengajar dan berorganisasi, Faridah berusaha menjaga keseimbangan hidup dengan mengatur jadwal jauh-jauh hari. Saat memiliki waktu luang, ia memilih berkumpul bersama teman-teman, bermain bowling, atau sekadar menikmati permainan favoritnya.
Sosok yang paling menginspirasinya adalah sang ayah. Menurutnya, sang ayah selalu berusaha memenuhi keinginannya selama mampu. Jika belum mampu, sang ayah selalu mengajarkan arti kesabaran. "Beliau selalu bilang, asal sabar, apa pun akan tercapai," kenangnya.
Bagi Faridah, sukses memiliki arti yang sederhana. Bukan tentang jabatan atau kekayaan, melainkan mampu mencukupi kebutuhan orang tua dan selalu hadir saat mereka membutuhkan bantuan.
Melalui perjalanan hidupnya, Faridah ingin menyampaikan pesan kepada perempuan muda agar terus berjuang dan mandiri. "Terus berjuang dan berdiri di kaki sendiri. Jangan takut speak up. Ketika perempuan sudah mandiri, masalah apa pun pasti bisa diselesaikan," pesannya.
Perempuan penyuka warna merah, hijau, dan nuansa alam itu memilih kopi sebagai minuman favoritnya. Jika ada kesempatan berlibur, pegunungan menjadi destinasi yang paling ia sukai. Sementara untuk hiburan, menonton film menjadi pilihan utama.
Sesuai motto hidup yang selalu dipegangnya, Faridah terus melangkah dengan tenang dalam berpikir dan tajam dalam bertindak. Tenang di kepala, tajam di langkah. (gmp/mof)
Editor : Arief