RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Di tengah dominasi peserta dari kalangan direksi, profesional senior dan tokoh nasional, peran anak muda justru bukan sekedar pelengkap. Bahkan, di antara ratusan peserta dari berbagai sektor dan generasi, nama Anisa Razak Khairina muncul sebagai pembeda.
Ia membuktikan, bahwa peran generasi muda juga memiliki ruang dan kapasitas dalam forum strategis kebangsaan. Anisa mewakili Banjarmasin di Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI Angkatan ke-118 yang digelar di Jakarta sejak 2–8 Juni 2026.
Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Banjarmasin periode 2025-2026 itu mengaku sempat merasa minder saat pertama kali bergabung. Namun, perasaan itu tak bertahan lama. Sebagai peserta termuda, ia justru cepat menyadari ruang belajar justru terbuka lebar, bukan hanya dari narasumber tetapi juga dari sesama peserta. “Awalnya tentu terasa intimidating. Saya melihat peserta lain sudah sangat senior dan memiliki jam terbang tinggi,” ujarnya Jumat (12/6).
Kesadaran itu membuatnya semakin percaya diri. Menurutnya, kesempatan mengikuti program Lemhannas tidak diperoleh secara instan. Ada proses panjang yang telah dilalui hingga akhirnya mendapat kepercayaan menjadi bagian dari angkatan tersebut. “Artinya saya juga punya sesuatu yang bisa ditawarkan. Karena itu saya berusaha memanfaatkan kesempatan emas ini sebaik mungkin,” katanya.
Selama kegiatan, suasana justru berbalik dari yang dibayangkannya. Para peserta senior disebut sangat terbuka dan menyambut hangat untuk berbagi pengalaman dan berdiskusi, terutama pada momen-momen informal di luar sesi utama.
Namun itu bukan hal terpenting, baginya pengalaman paling berkesan selama di Lemhanas justru kesempatan melihat langsung bagaimana para tokoh senior membedah berbagai isu strategis. Mulai dari persoalan nasional hingga dinamika geopolitik global beserta solusi yang ditawarkan.
Dari berbagai diskusi itu pula, ia menemukan jawaban atas keresahan yang selama ini dirasakannya mengenai semakin terkikisnya nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda.
Menurutnya, salah satu benang merah yang muncul dalam forum adalah berkurangnya program edukasi yang secara konsisten menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Kalaupun ada, metode penyampaiannya dinilai belum sepenuhnya adaptif terhadap perkembangan gaya hidup generasi muda saat ini.
“Karena itu yang diperlukan bukan hanya mempertahankan program yang ada, tetapi juga menghadirkan inovasi dan pendekatan baru yang lebih dekat dengan anak muda,” jelasnya.
Sepulang dari Lemhannas, dara 23 tahun ini mengaku membawa lebih dari sekadar teori. Ia pulang dengan rencana aksi yang ingin diwujudkan bersama rekan-rekan alumni Angkatan 118 dan generasi muda di Kalsel.
Gagasan yang ingin dibawanya berangkat dari hal sederhana namun mendasar, yakni mengurangi sekat antara ruang profesional, ekonomi dan ruang pengabdian sosial bagi anak muda. “Bukan program besar yang muluk-muluk. Saya membayangkan ruang-ruang diskusi kreatif, sharing session, workshop, hingga inkubasi keterampilan yang relevan dengan kebutuhan anak muda saat ini. Mereka tidak hanya diajak bicara soal idealisme, tetapi juga dibekali kemampuan untuk menghadapi realitas ekonomi,” ungkapnya.
Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini tidak hanya berada pada aspek kebangsaan, tetapi juga persoalan mental dan ekonomi. Ketidakpastian ekonomi membuat banyak anak muda dihadapkan pada benturan antara idealisme dan pragmatisme.
Kondisi tersebut, mendorong munculnya sikap yang semakin individualistis. Ditambah tekanan gaya hidup digital yang kerap memicu perilaku konsumtif. “Tantangannya adalah bagaimana kita berbicara tentang nasionalisme, gotong royong dan kontribusi untuk daerah ketika banyak anak muda masih berjuang bertahan di tengah tekanan ekonomi. Karena itu pendekatan kebangsaan harus mampu menjawab realitas yang mereka hadapi,” katanya.
Salah satu pengurus aktif BKOW Kalsel ini juga menilai perempuan muda memiliki peran penting sebagai perekat sosial di tengah berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam forum-forum strategis nasional perlu terus diperkuat.
Berkaca dari pengalamannya di Lemhannas, sekitar 30 persen peserta berasal dari kalangan perempuan. Meski secara jumlah belum sepenuhnya seimbang, ia melihat kualitas keterwakilan perempuan sudah sangat kuat.
“Perempuan yang hadir bukan sekadar memenuhi kuota. Mereka datang dari berbagai sektor strategis, vokal dalam menyampaikan gagasan, solutif, bahkan banyak yang memimpin jalannya diskusi. Menurut saya, kualitas keterwakilan seperti inilah yang perlu terus didorong,” imbuhnya.
Kepada perempuan muda di daerah, khususnya di Kalsel, Nisa berpesan agar tidak pernah meragukan kemampuan diri sendiri. “Berada di daerah bukanlah batasan. Justru dari daerah kita memiliki ruang yang paling nyata untuk menciptakan perubahan,” pesannya.
Anisa Razak Khairina
TTL : Banjarmasin, 11 Maret 2003
Prestasi/Pengalaman :
- Peserta termuda Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Kolaboratif Lemhannas RI Angkatan ke-118 Tahun 2026
- Founder Yayasan Generasi Resiliensi Indonesia
- Ketua Umum KOHATI Cabang Banjarmasin Periode 2025–2026
- Pengurus Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Kalimantan Selatan Periode 2026–2030
- Penerima Beasiswa CIMB Niaga Scholarship Program 2023–2025 dan Beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) 2022–2023.
- Lulusan S1 Ilmu Komunikasi Universitas Lambung Mangkurat dengan IPK 3,90
- Aktif dalam berbagai program kepemimpinan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan pemuda di tingkat daerah maupun nasional
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief