BATULICIN – Bagi Irma Silviyana, mendengarkan bukan sekadar aktivitas mengisi waktu. Sejak lama, perempuan kelahiran 4 Februari 1981 ini menemukan makna mendalam dari setiap cerita yang dibagikan orang lain.
Kebiasaan itu kini menjadi bagian penting dari tugasnya sebagai Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Tanah Bumbu, jabatan yang ia emban sejak Maret 2024.
Setiap hari, Irma berhadapan dengan perempuan yang datang mencari perlindungan. Ada yang mengalami kekerasan fisik, ada yang hidup dalam tekanan psikologis, dan ada pula yang tidak menyadari bahwa hubungan yang dijalaninya sebenarnya tidak sehat. “Kasus yang paling banyak adalah kekerasan fisik maupun psikologis yang dilakukan pasangan,” ujarnya.
Namun, yang membuatnya paling prihatin bukan hanya bentuk kekerasan itu sendiri, melainkan alasan mengapa banyak korban memilih diam. Rasa malu, ketakutan, hingga keraguan laporan akan dipercaya karena minim bukti, menjadi penghalang besar.
“Banyak yang menganggap persoalan rumah tangga adalah aib keluarga. Ada juga yang takut jika pelaku mengetahui mereka melapor, kekerasannya justru semakin parah,” kata Irma.
Irma menekankan bahwa kekerasan tidak selalu meninggalkan luka di tubuh. Ada bentuk kekerasan yang lebih sulit dikenali, kekerasan verbal. Ejekan, hinaan, atau kata-kata merendahkan sering kali dianggap sekadar candaan. “Kalau seseorang terus direndahkan sampai merasa bodoh dan tidak berharga, itu bukan lagi bercanda. Itu kekerasan verbal,” tegasnya.
Ia memahami bahwa keluar dari hubungan tidak sehat bukanlah perkara mudah. Hambatan terbesar yang sering ditemui adalah persoalan ekonomi. Banyak korban bergantung secara finansial pada pasangan sehingga merasa tidak memiliki pilihan lain selain bertahan. Karena itu, Irma menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan.
“Perempuan perlu memiliki ruang untuk berkembang dan berkontribusi dalam ekonomi keluarga. Bentuknya tak harus besar, bisa dari usaha kecil atau hobi yang menghasilkan,” ujarnya.
Bagi Irma, pemberdayaan bukan hanya soal uang. Ia mengingatkan bahwa perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Peran mendidik dan membentuk karakter generasi penerus merupakan tanggung jawab yang tak kalah penting. “Perempuan juga merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Itu peran yang sangat penting,” katanya.
Irma percaya perlindungan terhadap perempuan tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah harus berjalan bersama menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. “Mari mencintai diri sendiri. Jadilah perempuan yang lebih berharga dan berdaya. Jangan biarkan kekerasan terus tumbuh,” pesannya.
Di balik kesibukannya mendengarkan dan menangani berbagai persoalan, Irma tetap menyisihkan waktu untuk dirinya sendiri. Ia gemar mengikuti Pound Fit, olahraga yang membantunya menjaga kebugaran sekaligus keseimbangan hidup. Aktivitas itu menjadi ruang pribadi untuk menguatkan diri, agar tetap tegar mendampingi mereka yang membutuhkan perlindungan.
Editor : Muhammad Rizky