RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, RANTAU – Tidak semua orang berani berdiri di depan publik, apalagi mengendalikan jalannya acara yang dihadiri pejabat penting. Namun, keberanian itu justru menjadi jalan hidup bagi Bintari Widyaputri Utami, perempuan kelahiran Banjarmasin, 30 Agustus 1997, yang kini dikenal sebagai protokol sekaligus master of ceremony (MC) dalam berbagai agenda pemerintahan.
Awalnya, Tari hanyalah pegawai di Sekretariat DPRD Kabupaten Tapin. Perjalanan tak terduga dimulai ketika ia diminta langsung oleh Sekretaris Dewan untuk menjadi MC rapat paripurna pergantian antar waktu (PAW). “Jujur, takut dan grogi pasti. Karena sebelumnya belum pernah sama sekali,” kenangnya.
Dukungan rekan kerja membuatnya berani menerima tantangan itu, dan dari momen penuh kegugupan itulah jalan panjangnya di dunia keprotokolan terbuka.
Seiring waktu, kemampuannya mulai terbaca. Tari dinilai memiliki bakat alami dalam mengatur jalannya acara, berkomunikasi, hingga menjaga ritme kegiatan resmi. Tak butuh lama, ia dipercaya masuk ke lingkaran protokol. Peran strategis yang bukan sekadar tampil, melainkan memastikan seluruh rangkaian acara berjalan tanpa cela.
“Protokol itu bukan sekadar berdiri dan bicara. Kita mengatur segalanya, dari tata tempat, koordinasi lintas instansi, sampai manajemen waktu pimpinan,” ujarnya.
Ketelitian menjadi syarat mutlak. Kesalahan kecil bisa berdampak besar, apalagi jika berhadapan dengan tamu VIP seperti kepala daerah hingga Forkopimda. Karena itu, koordinasi menjadi kunci utama.
Dalam perjalanannya, Tari mengaku setiap kegiatan menyimpan kesan tersendiri. Salah satu yang paling berharga adalah ketika ia terlibat dalam agenda berskala nasional dan berkesempatan bertemu langsung dengan pejabat negara, bahkan Wakil Presiden RI.
Kepercayaan besar juga datang saat ia dipercaya membawakan event besar seperti MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Selatan dan Hari Jadi Kabupaten Tapin. “Tentu itu jadi tantangan sekaligus kehormatan. Saya berusaha tampil maksimal dan terus meningkatkan kemampuan, bahkan ikut pelatihan di luar kedinasan,” katanya.
Di balik penampilan tenang di depan publik, realitas lapangan sering jauh dari mulus. Perubahan jadwal mendadak hingga situasi genting adalah menu harian seorang protokol. “Kuncinya tetap tenang. Jangan panik. Cari solusi, koordinasi cepat dengan panitia, ajudan, dan pimpinan,” jelasnya.
Baginya, profesional bukan berarti tanpa kesalahan, melainkan bagaimana menyikapinya. Bahkan saat terjadi kendala teknis, Tari memilih tetap tersenyum dan menjaga nada suara agar acara tetap berjalan.
Sebagai perempuan, Tari menghadapi tantangan tersendiri. Tuntutan tampil prima dalam waktu terbatas hingga kemampuan multitasking yang tinggi. Namun, ia justru melihat itu sebagai kekuatan. “Perempuan punya empati dan cara komunikasi yang lebih halus tapi tegas. Itu sangat membantu dalam dunia protokol,” katanya.
Meski jadwal padat, Tari tetap berusaha menjaga keseimbangan hidup. Musik menjadi pelariannya. Bermain gitar, mendengarkan lagu, hingga menonton film menjadi cara sederhana untuk mengisi ulang energi. “Sesibuk apa pun, tetap harus ada waktu untuk diri sendiri,” ujarnya.
Bagi Tari, profesi ini bukan sekadar pekerjaan. Ada kebanggaan tersendiri saat dipercaya berada di barisan depan dalam berbagai agenda penting pemerintahan. Ia pun berpesan kepada perempuan muda yang ingin terjun di dunia keprotokolan agar menjaga etika, integritas, dan terus belajar. “Jangan hanya belajar soal acara, tapi juga kebijakan publik dan isu terkini. Protokol itu harus jadi solusi di setiap situasi,” pesannya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief