Kamila, seorang perempuan muda yang di usia 25 tahun memilih bertumbuh dengan caranya sendiri. Berangkat dari mimpi mengajar hingga meracik harapan lewat Virany Cake
*****
BANJARBARU - Usia 25 tahun bukan sekadar angka bagi Kamila Rizqa Devisasmita. Di fase inilah perempuan kelahiran 29 Februari 2000 ini merasa sedang berdiri di persimpangan hidup, antara mimpi yang belum sepenuhnya tercapai dan jalan baru yang perlahan terbuka.
“Usia 25 tahun bagi saya adalah fase bertumbuh. Banyak pelajaran hidup yang saya lewati, proses mengenal diri sendiri, belajar dari kegagalan, dan berusaha melangkah menuju kedewasaan,” ujar Kamila, Minggu (18/1).
Kamila sejak awal bercita-cita menjadi pendidik, dan latar belakang pendidikannya menumbuhkan harapan untuk mengabdi di dunia pendidikan. Namun kenyataan tidak selalu berjalan searah rencana. Ia sempat berupaya membangun kembali mimpi tersebut, tetapi terkendala sulitnya mencari sekolah dan belum dibukanya Program Profesi Guru (PPG) untuk jurusan Bahasa Inggris.
“Saya sempat berusaha kembali ke jalur sebagai pendidik, tapi waktunya terus berjalan sementara peluangnya belum terbuka. Dari situ saya belajar untuk tidak berhenti di satu pintu,” tutur perempuan lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris FKIP ULM itu.
Beberapa rencana yang telah disusun pun harus kandas. Termasuk rencana yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Meski demikian, Kamila memilih tidak larut dalam kekecewaan. “Alhamdulillah, meski banyak mimpi yang belum terwujud, saya tetap berusaha mencari jalan dan peluang. Dari kegagalan itu, Allah justru membukakan rezeki dari arah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” tuturnya.
Kini, Kamila bekerja di PT Geoservices Banjarbaru. Di luar pekerjaan utamanya, ia juga menekuni usaha rumahan bernama Virany, yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Virany lahir pada 2021, di masa transisi pandemi Covid-19. Usaha ini bermula dari hal sederhana keinginan menambah uang jajan dan kebutuhan pribadi. Kamila mulai berjualan gulali arum manis, aneka keripik, hingga camilan jadul yang dipasarkan melalui Instagram.
“Waktu itu saya juga sedang praktik mengajar. Jualan saya bawa ke sekolah dan ternyata banyak dibeli murid-murid,” kenangnya sambil tersenyum.
Jiwa wirausaha sebenarnya sudah tumbuh sejak lama. Sejak SMA, Kamila bercerita pernah menjadi dropshipper tas, sepatu, hingga makeup, meski masih terbatas di lingkungan pertemanan. Saat kuliah, kesadarannya makin kuat melihat peluang kerja yang semakin sempit.
“Saya mulai belajar marketing, bikin postingan jualan di media sosial, sambil cari-cari potensi lain di luar jurusan kuliah,” ujarnya.
Perjalanan Virany cake kemudian menemukan bentuknya ketika Kamila melihat potensi dari dapur rumah. Sang ibu memiliki keahlian membuat bolu hias, yang sebelumnya hanya dijual dari mulut ke mulut. “Saya melihat peluang besar dari keahlian ibu. Apalagi saat tren Korean bento cake mulai ramai dan diminati anak muda,” kata Kamila.
Respons pasar yang positif membuat Virany fokus pada produk kue. Mulai dari kue ulang tahun hingga wedding cake. Pengalaman Kamila sebagai freelance crew wedding organizer membantunya membaca tren pernikahan masa kini. “Saya melihat banyak tren wedding cake viral. Dicoba mengikuti tren itu dengan gaya sendiri, dan alhamdulillah banyak yang menyukai hasil Virany,” ujarnya.
Memasuki usia 25 tahun, Kamila tidak memasang target muluk. Ia memilih tujuan yang lebih membumi. “Target saya di 25 tahun berikutnya adalah menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur, terus belajar, menerima kegagalan, dan bermanfaat. Saya ingin berkembang, baik dalam karier maupun usaha Virany,” ucapnya.
Sebagai anak muda, Kamila juga menaruh harapan besar pada peran media. Menurutnya, media memiliki kekuatan untuk menjadi ruang inspirasi bagi generasi muda. “Media seperti Radar Banjarmasin bukan hanya menyampaikan berita, tapi juga memberi panggung bagi cerita perjuangan dan karya anak muda agar saling belajar dan termotivasi,” katanya.
Di usia seperempat abad, Kamila belum sampai pada garis akhir. Namun langkahnya sudah mantap. Dan baginya, proses bertumbuh itulah yang paling bermakna.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief