Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dari Tapin Untuk Aceh, Pengabdian Dokter Rika di Tengah Red Zone Bencana

M. Syarifuddin • Selasa, 27 Januari 2026 | 12:00 WIB
dr Rika Amelia
dr Rika Amelia

RANTAU - Di usia 25 tahun, ketika sebagian anak muda sibuk menata mimpi dan mengejar kenyamanan hidup, dr Rika Amelia justru memilih menapaki jalan sunyi pengabdian. Dokter muda asal Kabupaten Tapin ini meninggalkan zona aman untuk terjun langsung ke wilayah red zone bencana banjir di Aceh, membantu warga yang terputus dari layanan kesehatan.

Anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Sufian Noor dan Diah Nila Purnama, kini telah kembali ke Banua usai menjalankan misi kemanusiaan yang penuh tantangan dan emosi, selama hampir sebulan.

Keputusan menjadi dokter relawan di Aceh diambilnya dengan mantap. Menurutnya, bencana berskala luas membuat kebutuhan tenaga medis, terutama dokter, menjadi sangat mendesak. “Banyak nakes di sana kewalahan, bahkan ikut terdampak sebagai korban,” ujar lahir gadis kelahiran Tapin, 16 Oktober 2000 lalu itu.

Begitu tiba di Aceh, pemandangan yang disaksikan langsung mengguncang batinnya. Kota-kota yang dilalui seakan kehilangan denyut kehidupan. Jalanan berdebu, rumah rusak parah, lumpur tebal menutup pemukiman. Keterbatasan alat dan air membuat warga kesulitan membersihkan rumah, memicu munculnya berbagai penyakit.

Selama bertugas, Rika dan tim menangani banyak kasus ISPA, dermatitis, folikulitis dan furunkel, tinea atau infeksi jamur, hingga penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

Tantangan terbesar adalah akses pelayanan. Tim medis harus menjangkau desa-desa terisolir dengan menaiki getek atau sampan, bahkan berjalan kaki hingga satu kilometer di jalan berlumpur, melewati tumpukan pohon tumbang.

Kondisi fasilitas kesehatan pun memprihatinkan. Rumah sakit, puskesmas, dan polindes sebagian besar hanya menyisakan bangunan. Peralatan medis rusak total, obat-obatan terendam banjir. “Air banjir bahkan mencapai lantai dua puskesmas, bekas genangannya masih terlihat jelas,” tutur Rika.

Di salah satu polindes yang dikunjunginya, tak satu pun alat medis dapat diselamatkan. Bidan desa terpaksa memberikan pelayanan dengan segala keterbatasan. Namun di balik situasi sulit, Rika merasakan sisi kemanusiaan yang begitu kuat. Sebagai dokter perempuan, ia merasa sangat dihargai dan dijaga.

“Relawan lain dan warga memprioritaskan kami nakes perempuan. Saat tiba tengah malam di desa terisolir, warga langsung mengajak kami beristirahat di rumah mereka yang baru dibersihkan,” kenangnya.

Salah satu momen paling berkesan terjadi saat perjalanan malam menuju basecamp. Usai menyeberang dari desa terisolir sekitar pukul 19.00 Wita, tim melanjutkan perjalanan satu jam lebih di jalan berlumpur tanpa penerangan dan jaringan. Di tengah kelelahan, mobil mereka dicegat warga yang memohon agar ayahnya diperiksa.

Dengan penerangan headlamp, Rika melakukan pemeriksaan dan memberikan obat. Ia terkejut mengetahui keluarga tersebut menerima dua kotak obat di pengungsian, namun tidak berani meminumnya karena tidak mengetahui jenis dan dosis obat. “Di situ saya kembali diingatkan tentang makna profesi saya,” ucapnya.

Perjalanan belum usai. Tim sempat tersesat di area kebun sawit tanpa listrik dan jaringan. Rasa takut muncul, namun pertolongan datang dari warga yang ditemui di jalan, menunjukkan arah menuju basecamp.

Antusias warga Aceh, menurut Rika, sangat luar biasa. Mereka terbuka dan hangat menerima relawan. Bahkan para pemuda setempat tertarik ikut terlibat dalam kegiatan pelayanan, membuat kerja relawan semakin mudah.

Rika menegaskan pentingnya kolaborasi lintas klaster relawan. “Semua peran penting. Dampak bencana meningkatkan angka kesakitan, sementara akses dan fasilitas kesehatan terputus. Kehadiran relawan medis diharapkan bisa membantu warga sekaligus memberi semangat bagi nakes setempat yang terdampak,” katanya.

Memasuki usia seperempat abad, Rika menyadari dirinya berada pada fase dewasa awal, masa pencarian jati diri, karier, dan tujuan hidup. “Untuk 25 tahun ke depan, ulun berharap sudah berada di jalur karier yang jelas dan semakin bermanfaat bagi banyak orang,” ujarnya mantap.

Ia juga menilai peran media sangat strategis, khususnya Radar Banjarmasin, sebagai sumber informasi yang jelas dan terpercaya, sekaligus wadah untuk membuka wawasan generasi muda agar lebih kritis dan cerdas dalam berpikir.

Pesan Rika sederhana dan mendalam. “Saudara kita di Aceh masih berjuang untuk pulih. Kehadiran kita diharapkan bisa meringankan beban mereka. Untuk para nakes, ingat selalu sumpah profesi yang pernah terucap, karena profesi kita dihadirkan untuk bermanfaat bagi banyak orang," tuturnya.

Di usia 25 tahun, Rika telah memilih arah hidupnya, mengabdi, melayani, dan menanam jejak kemanusiaan dari Tapin hingga Aceh. Sebuah pilihan dewasa yang tak semua orang berani menempuhnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#inspiratif #Tapin #relawan #Sosok #dokter