BANJARMASIN – Bagi Nurlita Tadzlila Wijayanti, melukis bukanlah jalan karier atau ambisi besar. Mahasiswi asal Banjarmasin ini menolak romantisasi dunia seni. Baginya, kanvas adalah “ruang pulang”, tempat ia kembali untuk berdialog dengan diri sendiri.
Sejak kecil, Tadzlila sudah menemukan rumah itu. Sejak taman kanak-kanak, saat teman-teman sebayanya sibuk menghafal huruf, ia justru larut dalam coretan spontan, mencampur warna, mengotori tangan dengan cat, lalu tersenyum melihat hasil eksperimen sederhana. Melukis bukan soal hasil, melainkan proses yang menyenangkan.
Kini, di usia 22 tahun, Tadzlila telah menuntaskan pendidikan S1 Teknologi Hasil Perikanan di Universitas Lambung Mangkurat (2025). Meski bidang studinya jauh dari seni rupa, kanvas tetap menjadi ruang paling jujur untuk menyalurkan perasaan.
Berbeda dengan banyak seniman muda yang menjadikan seni sebagai jalan hidup, ia memilih menjaga jarak, menolak menjadikan hobi sebagai kewajiban. “Melukis itu self-healing. Kalau dijadikan tuntutan, rasanya justru jadi paksaan,” ujarnya, Jumat (23/1).
Karena itu, proses kreatifnya berjalan tanpa tenggat. Ide datang spontan, dituangkan dalam sketsa, lalu dibiarkan berkembang sesuai suasana hati. Sebuah karya bisa selesai dalam hitungan minggu, bahkan bulan.
Sejak kecil, kedua orang tuanya mengenalkan berbagai kegiatan seni. Seperti teater, puisi, pantun, tari, hingga melukis. Dari semua itu, kanvaslah yang bertahan paling lama. Dukungan keluarga membuatnya tumbuh tanpa tekanan untuk memilih satu jalur secara kaku.
Secara gaya, Tadzlila masih dalam fase pencarian. Lukisannya cenderung abstrak dengan medium beragam. Akrilik, cat air, hingga gouache. Tema-temanya lahir dari pengalaman pribadi, imajinasi, dan pengamatan terhadap karya seniman lain.
Salah satu karyanya yang dipamerkan di Banjarmasin Art Week 2024 mengisahkan perasaan dua orang yang berpisah namun masih menyimpan memori satu sama lain. Ia membiarkan penonton menafsirkan sendiri makna lukisan itu.
Di tengah sikap santainya, ada satu hal yang mengusik rasa ingin tahunya. Lukisan klasik era Renaissance, khususnya teknik sfumato ala Leonardo da Vinci. “Teknik sfumato itu membuat lukisan terasa tenang. Cocok dengan cara saya mengekspresikan emosi,” ungkapnya.
Ketertarikan itu ia jalani secara otodidak. Mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Baginya, kegagalan bukan hambatan, melainkan pemicu.
Sebagai seniman muda, Tadzlila menyadari tantangan terbesar hari ini adalah minimnya ruang pamer dan risiko penjiplakan karya di era digital. Meski begitu, ia optimistis masa depan seni lukis akan berkembang melalui perpaduan tradisi dan teknologi.
Pesannya untuk anak muda sederhana. Percaya diri, konsisten, dan jujur. “Jangan takut pada penilaian orang lain. Jangan menjiplak. Dan jangan menyerahkan proses kreatif pada kecerdasan buatan,” pesannya.
Baginya, seni lahir dari pengalaman manusia. Rasa lelah, ragu, gagal, lalu bangkit kembali. “Selama kanvas masih bisa menjadi tempat pulang, saya tak merasa perlu pergi terlalu jauh,” pungkasnya.
Nurlita Tadzlila Wijayanti
Panggilan: Tadzlila
Umur : 22 th
TTL : Banjarmasin, 12 September 2003.
Karya lukis favorit: Lukisan klasik era renaissance dengan teknik sfumato