KANDANGAN – Usia 25 tahun menjadi fase krusial dalam perjalanan hidup Rachmatul Karimah. Di usia yang kerap disebut sebagai titik transisi menuju kedewasaan penuh, perempuan asal Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini justru berhasil memantapkan langkahnya sebagai figur muda yang aktif, produktif, dan inspiratif di bidang pendidikan, sosial, dan kewirausahaan.
“Bagi saya, usia 25 tahun adalah fase yang sangat krusial. Di usia ini seseorang mulai benar-benar memantapkan kedewasaan, baik secara emosional, psikologis, maupun cara memandang kehidupan,” ujarnya.
Di usia 25 tahun, ia telah mengisi masa produktifnya dengan beragam peran strategis. Saat ini, ia bekerja sebagai staf Biro AU-AKA (Administrasi Umum, Akademik, dan Kemahasiswaan) di Institut Agama Islam Darul Ulum (IAIDU) Kandangan.
Tak hanya sebagai tenaga kependidikan, ia juga aktif sebagai dosen, baik di kampus tempatnya bekerja maupun sebagai dosen luar biasa di dua perguruan tinggi wilayah Banua Enam, dengan fokus mata kuliah bidang pendidikan.
Jejak akademiknya terbilang cemerlang. Alumni MAN 2 Hulu Sungai Selatan ini melanjutkan pendidikan S1 di IAIDU Kandangan pada Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) sejak 2018.
Berkat prestasi akademik yang konsisten, ia meraih beasiswa hingga menyelesaikan studi pada 2022 sebagai wisudawan terbaik. Semangat belajarnya berlanjut dengan mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) melalui beasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 2023 di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), yang diselesaikannya dengan predikat terbaik.
Tak berhenti di situ, Rachmatul juga menuntaskan pendidikan Magister (S2) melalui program beasiswa di Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari dengan konsentrasi Kepemimpinan dan Manajemen Pendidikan. Pada jenjang ini, ia mengangkat kearifan lokal Hulu Sungai Selatan, yakni konsep “Rakat Mupakat” dalam kepemimpinan pendidikan.
“Konsep Rakat Mupakat mengajarkan bahwa kepemimpinan kolaboratif berbasis nilai lokal mampu menjadi solusi dalam mengatasi keterbatasan aksi pendidikan,” terangnya.
Penelitiannya membuktikan bahwa kepemimpinan pendidikan kolaboratif berbasis nilai lokal “Rakat Mupakat” efektif mengatasi keterbatasan aksi pendidikan. Karya tersebut dipresentasikan dalam seminar internasional daring bekerja sama dengan universitas di Malaysia, dipublikasikan di jurnal internasional, serta dibukukan. Rachmatul pun lulus S2 di usia 24 tahun sebagai lulusan dan publikasi terbaik.
Sejak masa kuliah, Rachmatul telah terbiasa bekerja sambil menempuh pendidikan. Ia pernah mengabdi sebagai guru keterampilan menjahit di Madrasah Aliyah Abul Hasan, mengajar di MIN 3 Hulu Sungai Selatan, hingga menjadi guru privat.
Bahkan, saat pandemi COVID-19, ia tetap produktif dengan bekerja sebagai pengawas lingkungan di bawah Dinas Perumahan, Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Selain berkiprah di dunia pendidikan, Rachmatul juga merintis usaha di bidang pangan, khususnya distribusi beras yang dikelola melalui toko pribadi. Ia menyeimbangkan peran sebagai karyawan, dosen, dan wirausahawan dengan manajemen waktu dan skala prioritas yang disiplin.
Berbagai prestasi dan pengabdian pun telah ditorehkannya. Di antaranya, terpilih sebagai Duta Lingkungan Kabupaten Hulu Sungai Selatan tahun 2019, Duta Pepelingasih Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2021, serta Pemuda Berprestasi Provinsi Kalimantan Selatan di tahun yang sama.
Konsistensinya dalam literasi dan publikasi ilmiah juga mengantarkannya meraih penghargaan Pemuda Berprestasi Bidang Pendidikan (Strata II) Kabupaten Hulu Sungai Selatan tahun 2025.
Bagi Rachmatul, usia 25 tahun merupakan fase krusial untuk memantapkan kematangan emosional dan psikologis. Ia menilai, kestabilan mental menjadi fondasi utama dalam menjalani kehidupan, baik di dunia kerja maupun pendidikan.
“Menjaga kestabilan mental menjadi fondasi utama. Ketika emosi terkelola dengan baik, proses menjalani kehidupan di usia selanjutnya akan terasa lebih terarah,” tuturnya.
Baginya, 25 tahun berikutnya adalah fase untuk menjalani dan memantapkan keputusan. “Dua puluh lima tahun pertama adalah fase belajar dan membentuk diri. Dua puluh lima tahun berikutnya adalah fase untuk memantapkan keputusan dan menjalani pilihan hidup dengan lebih sadar dan bertanggung jawab,” katanya.
Dalam momentum Hari Jadi ke-25 Radar Banjarmasin, Rachmatul juga menyampaikan pandangannya mengenai peran media bagi generasi muda. Ia menilai Radar Banjarmasin memiliki peran strategis sebagai sumber informasi yang kredibel dan terpercaya, khususnya bagi anak muda di Kalimantan Selatan. “Radar Banjarmasin memiliki peran strategis sebagai sumber informasi yang kredibel dan terpercaya bagi generasi muda, terutama di Kalimantan Selatan,” ujarnya.
Di usia ke-25 tahun, ia berharap Radar Banjarmasin terus menjadi wadah bagi pemuda inspiratif untuk dikenal luas dan menjadi role model bagi generasi lainnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief