BANJARMASIN – Hidup berkecukupan dengan keluarga yang utuh membuat masa kecil Riri Novita Sari terasa hangat. Dara asal Banjarmasin ini tumbuh dalam dekapan sosok Mama yang selalu hadir, mulai dari menyiapkan sarapan, membangunkan pagi, hingga menjadi tempat berkeluh kesah.
Namun, kebersamaan itu terhenti pada 2024 silam. Sang Mama berpulang di usia 42 tahun setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sejak saat itu, kehidupan Riri, mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu, berubah drastis.
Riri yang kala itu masih berusia 21 tahun harus menghadapi kenyataan. Menggantikan peran Mama di rumah. Tugas yang sebelumnya tampak sederhana, kini menjadi tantangan besar. Ia mesti mengurus pekerjaan rumah, memasak untuk adik dan ayah, serta memastikan dapur tetap mengepul.
“Pernah masak nasi jadi bubur, gosong, bahkan airnya terlalu sedikit. Aku juga tak tahu cara membeli cabai sesuai kebutuhan dan bingung dengan bumbu dapur,” kenangnya, Jumat (16/1).
Meski mengaku belum pandai, Riri perlahan belajar. Ia membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan paruh waktu sebagai wedding organizer, profesi yang sudah digelutinya sejak usia 19 tahun.
Wanita kelahiran 30 November 2004 itu menilai pengalaman pahit kehilangan Mama sebagai jalan untuk belajar mandiri. “Aku harus kerjakan semua sendiri. Mungkin ini bakal berguna untuk hidup aku ke depan,” ujarnya.
Baginya, kebahagiaan tidak datang secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui, meski orang lain hanya melihat kesan hebat dan bahagia dari luar.
Riri masih menyimpan sosok Mama sebagai teladan. Ia mengenang bagaimana ibunya selalu tegar, bahkan di saat-saat sulit. “Aku tahu beliau harusnya takut, tapi itu tak pernah ditunjukkan sedikit pun di hadapan anak-anaknya,” tuturnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief