BANJARMASIN - Dari sebuah gedung bulu tangkis di Kertak Hanyar, langkah kecil Farah Aisya Najyha bermula. Saat itu, ia belum memahami arti prestasi. Ia hanya bocah perempuan yang kerap mengikuti ayahnya, Nyndyo Prasetyo, ke gedung bulutangkis yang dikelolanya.
Setiap hari Farah menyaksikan shuttlecock melayang, raket beradu, dan keringat jatuh di lapangan. Dari sekadar melihat, rasa penasaran itu tumbuh menjadi kecintaan. “Saya sering diajak ayah ke gedung bulu tangkis. Lama-kelamaan saya mencoba memukul shuttlecock sendiri, sampai akhirnya keterusan dan mulai menyukai bulu tangkis,” kenang Farah.
Lahir di Kertak Hanyar, 1 Agustus 2006, Farah mulai menekuni bulu tangkis secara serius sejak kelas 3 sekolah dasar. Saat usianya sekitar usia 8–9 tahun. Kala itu, ia bergabung dengan klub dan menjalani pelatihan khusus. Ayah menjadi sosok pertama yang mengenalkan sekaligus mendukung langkah awalnya.
Bagi Farah, bulu tangkis bukan sekadar olahraga. Lapangan menjadi ruang belajar tentang disiplin, keberanian, dan mental pantang menyerah. Ia juga melihat peluang besar bagi atlet perempuan di Kalsel yang masih terbuka luas untuk berprestasi. “Sensasi bertanding dan berjuang untuk setiap poin membuat saya yakin ini adalah jalan prestasi yang ingin saya tempuh,” ujarnya.
Perjalanan menuju level kompetisi dilaluinya tidak instan. Latihan fisik, teknik, dan mental dijalani secara konsisten. Rasa lelah dan jenuh kerap datang. Namun, dukungan pelatih, keluarga, dan klub membuatnya bertahan. Tantangan terbesar justru datang dari dalam diri. Yakni melawan rasa malas, kejenuhan latihan, serta menjaga konsistensi saat hasil tak sesuai harapan atau ketika cedera menghampiri.
Titik balik Farah hadir ketika ia berhasil mengalahkan kejenuhan dan mulai benar-benar percaya pada proses. Sejak itu, rasa takut dan gugup perlahan hilang. Kepercayaan diri tumbuh, performa pun semakin stabil.
Di Porprov XII Tanah Laut 2025 lalu, Farah menorehkan pencapaian penting. Medali emas ganda putri dan beregu campuran, serta perak tunggal putri untuk kontingen Kabupaten Banjar disabetnya. Prestasi ini melengkapi rekam jejaknya sebagai semifinalis Bayan Open 400 Balikpapan 2024, finalis Bupati Paser Open 2023 tunggal putri, dan finalis Kejurprov 2024 ganda putri.
“Porprov XII Tanah Laut sangat berarti bagi saya. Kemungkinan ini Porprov terakhir yang bisa saya ikuti karena faktor usia. Ini bukti bahwa proses latihan yang saya jalani tidak sia-sia,” tuturnya.
Meski capaian yang diraihnya sesuai target pribadi, Farah memilih tak cepat puas. Setiap pertandingan, menang atau kalah memberinya pelajaran tentang kedewasaan, sportivitas, rasa syukur, dan pentingnya evaluasi diri. Ia menjaga motivasi dengan terus mengingat tujuan awal, fokus pada strategi, serta membangun komunikasi yang baik dengan pelatih, keluarga, dan rekan atlet.
Kini, atlet asal Kabupaten Banjar itu menatap target berikutnya. Dalam waktu dekat, ia ingin tampil dan berprestasi di Porseni Poliban tingkat nasional antar politeknik se-Indonesia. Ke depan, Farah juga menargetkan kembali tampil di Kejurnas untuk ketiga kalinya dan berjuang menembus PON.
Idolanya, An Se Young (pemain bulu tangkis putri Korea Selatan), menjadi cermin kerja keras dan konsistensi yang ingin ia teladani. Impian jangka panjang Farah sederhana namun bermakna. Terus memanfaatkan setiap kesempatan bertanding untuk berkembang, menjadi kebanggaan keluarga, dan memberi inspirasi bagi atlet-atlet muda, khususnya perempuan.
“Jangan pernah putus asa dan menyerah. Perempuan juga bisa berprestasi di olahraga jika mau berjuang, disiplin, konsisten, percaya pada proses, dan selalu diiringi doa,” pesannya. (bir/mof)
Nama Lengkap : Farah Aisya Najyha
Tempat, Tanggal Lahir : Kertak Hanyar 1 Agustus 2006
Usia : 19 tahun
Hobi selain (bulutangkis) : mendengarkan musik
Prestasi:
-Emas Porprov Tanah laut kategori ganda putri dan beregu campuran
-Perak Porprov Tanah laut kategori tunggal putri
-Semifinalis Bayan Open 400 balikpapan 2024 kategori tunggal putri
-Finalis Bupati Paser Open 2023 kategori tunggal putri
-Finalis Kejurprov 2024 kategori ganda putri
Editor : Muhammad Rizky