Anak ketiga dari pasangan Sufian Noor dan Diah Nila Purnama ini sejak kecil telah ditempa dengan nilai keikhlasan dan kepedulian. Nilai itu kini menjadi fondasi kuat langkah hidupnya, mengantarkannya ke garda depan kemanusiaan.
Menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY) sejak 2018, perempuan kelahiran Tapin, 16 Oktober 2000 itu, menjalani 3,5 tahun pendidikan sarjana kedokteran, dilanjutkan 1 tahun 8 bulan pendidikan profesi dokter. Program internsip ia jalani pada 2024–2025 di RSUD H Damanhuri Barabai. Kini, ia mengabdi sebagai dokter umum di RSUD Datu Sanggul, Kabupaten Tapin.
Keputusan Rika memilih jalur kedokteran bukan tanpa alasan. Sejak awal, ia melihat masih minimnya tenaga dokter di Kabupaten Tapin, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau layanan kesehatan. Niatnya sederhana namun kuat, pulang dan bermanfaat bagi daerah sendiri.
Semangat kemanusiaan Rika juga ditempa sejak masa mahasiswa. Ia tergabung dalam Tim Bantuan Medis Alert (TBM Alert FKIK UMY). Sebuah organisasi kemanusiaan yang aktif turun langsung ke lokasi bencana. Dari sanalah ia belajar bahwa bencana tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma psikis yang memengaruhi kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
“Kalau ditanya alasan jadi relawan, kadang sulit dijelaskan. Ini lebih ke panggilan hati, panggilan kemanusiaan, dan sumpah sebagai dokter,” tuturnya.
Pengalaman terjun ke daerah bencana mengajarkannya banyak hal. Termasuk kesiapan mental dan fisik. Menurutnya, tantangan relawan bukan hanya soal administrasi dan perizinan, tetapi juga memastikan diri tetap sehat agar bisa membantu orang lain secara maksimal.
Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah melihat senyum pasien yang telah ditangani. “Ucapan terima kasih yang tulus dari mereka itu kepuasan tersendiri,” sebutnya.
Di lokasi bencana, Rika menyaksikan langsung perubahan kondisi kesehatan masyarakat. Jika di hari-hari awal didominasi luka fisik, maka setelah berminggu-minggu muncul kasus ISPA, diare, hingga penyakit kulit akibat keterbatasan akses dan sanitasi. Situasi inilah yang semakin menguatkan tekadnya untuk hadir membantu.
Makna relawan bagi Rika adalah membaktikan diri dan keahlian dengan niat tulus. Prinsip hidup yang selalu ia pegang dalam setiap langkahnya. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.
Sekarang Rika terjun membantu korban bencana Aceh, keputusannya berawal dari empati yang mendalam. Melihat kondisi memprihatinkan di media sosial, ditambah informasi dari KUN Humanity Sistem yang membuka relawan tenaga medis, ia tak berpikir panjang. “Bismillah,” ucapnya saat itu, dengan harapan dapat meringankan beban saudara-saudara di sana.
Kegiatan kemanusiaan bukan hal baru baginya. Sejak S1, aktivitas sosial telah menjadi bagian dari proses hidupnya. Sepulang ke Tapin, ia pun aktif dalam berbagai kegiatan sosial bersama Volunteer KUN Tapin, yang menurutnya sangat membantu menyalurkan semangat berbagi.
Bagi Rika, aksi tanggap cepat bukan hanya soal hadir, tetapi juga tentang mempercepat pemulihan. Ketika tenaga kesehatan masih sangat dibutuhkan, ia merasa tidak punya alasan untuk diam.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief