Yasinta Anggraini, Putri Indonesia 2025 yang mewakili Tanah Air, harus menelan kekecewaan saat namanya tidak masuk dalam daftar finalis yang diumumkan.
Kegagalan ini menandai tahun ketiga berturut-turut Indonesia tidak masuk Top 20 Miss Universe, setelah meraih posisi ke-20 pada 2023 dan absen total pada 2024.
Baca Juga: Arutmin Borneo Run 2025 Catat Lonjakan Peserta Signifikan, Kuota 4.050 Runner Habis dalam 5 Menit
"Tak ada nama Indonesia di antara 30 peserta terpilih," ujar narator acara saat mengumumkan daftar negara yang lolos, termasuk Venezuela, Thailand, Filipina, Brasil, Amerika Serikat, India, Afrika Selatan, dan Australia.
Yasinta, perwakilan Provinsi Jawa Timur berusia 23 tahun, sebelumnya tampil memukau dalam segmen preliminary, termasuk kategori swimwear dan evening gown.
Penampilannya bahkan dipuji juri sebagai salah satu yang paling berkesan dari kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Minta Konstituen Bisa Berhentikan Anggota DPR, Lima Warga Negara Ajukan Uji Materi ke MK
Dalam kompetisi yang berlangsung dari 9 hingga 17 November dengan tema "Beauty with Impact" ini, ia juga menyuarakan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan, khususnya hutan mangrove Indonesia.
"Saya ingin membawa pesan bahwa kecantikan sejati adalah ketika kita peduli pada planet kita," kata Yasinta saat konferensi pers di Mexico City pada 10 November 2025.
Pelatih Yasinta, Onny Gultom, mengungkapkan kekecewaan sekaligus optimisme atas hasil kompetisi ini. "Ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan lebih besar. Yasinta telah membuka pintu untuk generasi mendatang," ujarnya.
Baca Juga: Run Safe, Grow Stronger! Arutmin Borneo Run 2025 Kembali Menggetarkan Banjarbaru
Organisasi Putri Indonesia menyatakan dukungan penuh kepada Yasinta dengan menyebutnya sebagai "duta bangsa yang inspiratif."
Publik Indonesia juga memberikan dukungan masif melalui media sosial, dengan tagar #ProudOfYasinta trending di Twitter dan Instagram.
"Kamu sudah bikin kami bangga, Yas! Indonesia tetap nomor satu di hati," tulis salah satu netizen.
Baca Juga: Rumah Ambruk dan Tenggelam, Keluarga Makunah Terpaksa Tinggal di Kontrakan Sempit 2 x 4 Meter
Partisipasi Indonesia di Miss Universe dimulai sejak 1973, dengan puncak prestasi ketika Angela Maria Anggelia Lopez meraih posisi Runner-up 1 pada 1995.
Analis kecantikan nasional menilai kompetisi tahun ini sebagai yang paling ketat, dengan lebih dari 80 negara peserta dan sistem penilaian berbasis AI untuk segmen tertentu.
Faktor penilaian kini lebih menekankan advokasi sosial dan kemampuan berbicara di hadapan juri internasional.
Meski tidak meraih gelar, Yasinta dijadwalkan kembali ke Tanah Air dengan kebanggaan, siap melanjutkan misinya sebagai advokat lingkungan.
Kegagalan di panggung internasional justru memperkuat tekadnya untuk terus bersinar di level nasional dan global, membawa isu pelestarian lingkungan ke khalayak lebih luas. (*)
Editor : M. Ramli Arisno