Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Wanita Ini Jadi Satu-Satunya Kepala Desa Asal Kalsel yang Diutus Kementerian PDTT ke China, Pelajari Pemerintahan Desa-Desa Maju di Tiongkok

Rasidi Fadli • Senin, 10 November 2025 | 08:08 WIB
BANYAK BELAJAR:Kepala Desa Salam Babaris, Mahdalina (berhijab) bersama 22 Kepala Desa lainnya diberangkatkan ke China untuk mempelajari digitalisasi dan teknologi pertanian.
BANYAK BELAJAR:Kepala Desa Salam Babaris, Mahdalina (berhijab) bersama 22 Kepala Desa lainnya diberangkatkan ke China untuk mempelajari digitalisasi dan teknologi pertanian.

RANTAU – Kepala Desa Salam Babaris, Mahdalina, menjadi salah satu dari 22 Kepala Desa se-Indonesia yang terpilih mengikuti Program Benchmarking Kepala Desa ke Tiongkok Angkatan ke-5 Tahun 2025, yang difasilitasi oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Program yang dilangsungkan pada 30 Oktober hingga 5 November 2025 tadi, sepenuhnya  ditanggung oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia.

Mahdalina menjelaskan tujuan utama kegiatan ini adalah mempelajari tata kelola pemerintahan, pembangunan pedesaan, dan penerapan teknologi pertanian modern di Tiongkok.

“Kami ingin melihat langsung bagaimana desa-desa di China bisa maju pesat. Fokusnya bukan hanya infrastruktur, tapi juga bagaimana masyarakatnya diberdayakan dengan teknologi dan ekonomi kreatif,” ujar Mahdalina kepada Radar Banjarmasin, Senin (10/11/2025).

Desa Salam Babaris terpilih melalui seleksi ketat oleh Kemendes PDTT. Salah satu alasannya, karena Salam Babaris merupakan desa mandiri pertama di Kabupaten Tapin, dan dianggap memiliki potensi kuat untuk menjadi model pengembangan desa berdaya saing tinggi.

Selama berada di Tiongkok, rombongan Kepala Desa Indonesia mengunjungi berbagai daerah, antara lain Beijing, Kota Weifang, Kota Longkou, dan Kota Penglai.

Beberapa lokasi yang mereka sambangi termasuk Desa Shixia, Desa Cuilingxi, Desa Wali, dan Desa Yangjiabu, serta perusahaan mesin pertanian terbesar di Tiongkok.

“Kami belajar banyak dari cara mereka menata desa, membangun industri pertanian, hingga menjaga lingkungan. Semua rapi, terencana, dan melibatkan masyarakat secara aktif,” tuturnya.

Mahdalina mengaku kagum dengan kemajuan yang dilihatnya di desa-desa tersebut. “Teknologi pertanian mereka sangat canggih, ekonomi desa berkembang pesat, dan lingkungan tertata rapi. Setiap warga desa terlihat aktif dan mandiri,” ungkapnya.

Menurutnya, hal paling menarik dari desa-desa di China adalah kemampuan mereka menggabungkan kemajuan teknologi dengan pelestarian sosial budaya lokal.

“Mereka sudah menerapkan digitalisasi desa. Warganya bisa menjual hasil pertanian langsung secara online. Rumah warga pun dibangun seragam dengan desain yang terencana, dan penghijauan dijaga ketat,” jelas Mahdalina.

Selain itu, masyarakat desa di China tidak bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi berperan aktif sebagai pelaku ekonomi melalui koperasi dan usaha wisata desa.

“Pemerintah mereka hanya memberi arah dan kebijakan yang kuat, sementara masyarakat bekerja keras mewujudkannya,” tambahnya.

Mahdalina menegaskan, banyak praktik baik yang bisa diadopsi di desanya. Salah satunya adalah penanaman hidroponik dan pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

“Yang paling potensial untuk kami kembangkan di Salam Babaris adalah pertanian dan ekonomi kreatif. Setelah ini, kami akan melakukan rapat dan pendekatan ke masyarakat agar hasil pembelajaran di China bisa diterapkan,” katanya.

Ia berharap, hasil kunjungan ini dapat membawa manfaat nyata bagi warga, sekaligus menjadi contoh bagi desa lain di Kabupaten Tapin.

Kemendes PDTT sendiri mendorong agar peserta benchmarking menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah setempat dan melaporkan hasil kegiatan ke kementerian.

“Kami berharap ada tindak lanjut nyata, terutama di sektor pertanian. Jangan hanya sekadar belajar, tapi juga diwujudkan dalam bentuk program yang berdampak,” harap Mahdalina.

Ia juga menyampaikan pesan kepada kepala desa lain di Tapin agar terus aktif mengikuti program pengembangan kapasitas seperti ini.

“Mudah-mudahan tahun depan ada lagi kepala desa dari Tapin yang bisa berangkat. Ini pengalaman luar biasa yang membuka wawasan kita,” ujarnya.

Mahdalina optimistis, masa depan pembangunan desa di Indonesia akan semakin cerah jika sinergi antara Pemerintah Pusat, provinsi, dan kabupaten terus diperkuat.

“Dengan dukungan program presiden dan perhatian kementerian di sektor pertanian, saya yakin desa-desa kita bisa maju seperti di China,” pungkasnya.

Editor : Fauzan Ridhani
#china #benchmarking #kabupaten tapin #Rantau #kepala desa