"Hidup adalah pilihan. Mengubah kehidupan lebih baik ada di tangan diri sendiri". Kalimat itu bukan sekadar kutipan favorit bagi Rusda Afifa. Tapi, menjadi prinsip hidup yang ia pegang teguh dalam setiap langkah perjuangannya.
Lahir di Tanah Laut pada 21 April 2002, Rusda tumbuh sebagai sosok muda yang tak takut bermimpi dan berusaha. Sejak kecil, putri pasangan Muriyanto dan Aspiah ini sudah menunjukkan semangat juang yang luar biasa.
Ia kerap mengikuti berbagai lomba sejak duduk di bangku SD. Mulai dari lomba bercerita hingga Kompetisi Sains Madrasah (KSM). Prestasinya pun menembus hingga tingkat nasional, mewakili Kalsel ke Bengkulu. “Dari SD saya memang senang ikut lomba, mulai dari tingkat kabupaten, lalu provinsi, sampai nasional. Rasanya senang bisa membawa nama daerah,” kenang Rusda dengan senyum hangat.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SDN Pelaihari 2, MTsN 2 Tanah Laut, dan MAN Tanah Laut, Rusda melanjutkan studinya ke Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan meraih gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2024. Namun, dunia akademik bukan satu-satunya panggung tempat ia bersinar.
Tahun 2024, menjadi titik balik perjalanan Rusda. Ia memberanikan diri mengikuti program Pertukaran Pemuda Antar Provinsi (PPAP) di bawah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Awalnya, ia mengaku ragu. Persiapannya minim, dan peluang tampak kecil. Namun, keberaniannya untuk mencoba justru membawanya menjadi salah satu wakil Provinsi Kalsel. “Saya sebenarnya tidak terlalu yakin waktu itu. Tapi saya pikir, kalau tidak mencoba, saya tidak akan tahu kemampuan saya. Alhamdulillah, akhirnya terpilih mewakili Kalsel ke Bengkulu,” ujarnya.
Di Bengkulu, Rusda bersama perwakilan dari seluruh Indonesia ditempatkan di Desa Bajak 1, Bengkulu Tengah. Selama sebulan, mereka mengabdi kepada masyarakat dengan berbagai kegiatan positif. Fokusnya meningkatkan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) dan memberdayakan generasi muda di desa yang masih minim aktivitas kepemudaan. “Banyak anak muda di sana yang putus sekolah, atau belum punya kegiatan produktif. Kami mencoba memberi edukasi dan motivasi agar mereka bisa berkarya,” tuturnya.
Tak hanya itu, Rusda juga memperkenalkan budaya Banua ke rekan-rekannya dari berbagai provinsi. Ia membawa kain sasirangan dan baju adat Nanang Galuh sebagai simbol kebanggaan Kalsel.
“Orang tahu Kalsel itu seribu sungai, tapi belum tentu tahu tentang sasirangan. Jadi saya bangga bisa memperkenalkannya,” katanya.
Sepulang dari Bengkulu, Rusda tidak berhenti berkarya. Ia aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan dan tergabung dalam Lab Pemuda Tala. Pada tahun 2025, ia bahkan dipercaya menjadi ketua organisasi tersebut. “Pengalaman berinteraksi dengan pemuda dari berbagai pulau membuat saya paham bahwa karakter orang berbeda-beda. Dari situ saya belajar bagaimana memimpin, mendengarkan, dan mencari jalan tengah saat ada perbedaan pendapat,” ujarnya.
Kini, di sela kesibukannya sebagai jurnalis di Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian (Diskominfostasan) Tala, Rusda tetap meluangkan waktu untuk mendorong generasi muda agar berani berkarya dan berkontribusi.
Bagi Rusda, makna Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah, tapi semangat untuk berani bergerak.
“Pesan saya untuk para pemuda Tala: jangan takut keluar dari zona nyaman. Banyak yang punya ide dan gagasan, tapi takut untuk memulai. Padahal, setiap langkah kecil bisa membawa perubahan besar,” ujarnya tegas.
Ia percaya bahwa masa depan daerah, bahkan bangsa, ditentukan oleh keberanian anak mudanya. “Hidup itu pilihan. Pilihan untuk menjadi lebih baik ada di tangan kita sendiri,” tuntasnya.
Rusda Afifa
Panggilan : Rusda
TTL : Tanah Laut, 21 April 2002
Buku Favorit : The Alpha Girls karya Henry Manampiring
Pekerjaan : Jurnalis Diskominfostasan Tala
Hobi : Travelling
Pendidikan : Sarjana S1 Pendidikan Bahasa Inggris
Quote : “Hidup adalah pilihan. Mengubah kehidupan lebih baik ada di tangan diri sendiri”.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief