Tidak ada kesuksesan yang datang dalam semalam. Begitu pula dengan perjalanan dr Puga Sharaz Wangi M.A.R.S. yang kini menjadi Direktur Rumah Sakit Syifa Medika Banjarbaru.
*****
Di balik kepemimpinannya yang kini membawa rumah sakit berkembang pesat, tersimpan kisah perjuangan di daerah terpencil yang membentuk fondasi kuat jiwa pengabdiannya.
Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat pada 2015, dr Puga menjalani program internship di Rumah Sakit Ratu Zaleha Kabupaten Banjar selama setahun. Dua tahun kemudian, perjalanan kariernya dimulai dari Puskesmas Pengaron, Kabupaten Banjar. Ia diterima sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT), dan ditugaskan di puskesmas yang berlokasi sekitar satu jam dari pusat Kota Martapura itu.
Di sanalah, untuk pertama kalinya, ia merasakan bagaimana menjadi satu-satunya dokter yang melayani masyarakat di empat kecamatan. “Saya waktu itu baru lulus, dan langsung ditempatkan di sana. Tidak ada dokter lain, jadi saya benar-benar sendirian,” kenang dr Puga.
Akses menuju puskesmas kala itu tak mudah. Akses jalan jauh dan terjal, sinyal komunikasi terbatas, dan sarana kesehatan yang sederhana menemani kesehariannya. Namun di tengah keterbatasan itulah, jiwa kedokteran dan semangat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik tumbuh dengan kuat.
“Melihat masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan membuat saya sadar, tugas dokter bukan sekadar menyembuhkan. Tapi, memastikan pelayanan bisa sampai ke mereka yang paling membutuhkan,” ujarnya tulus. “Saya belajar banyak dari masyarakat. Dari sana saya tahu arti pelayanan yang sesungguhnya,” ucapnya.
Usai masa tugas PTT, ia melanjutkan pengabdian di Rumah Sakit Avicenna, Kabupaten Banjar. Dari sana, ia mulai mengenal lebih dalam sistem dan manajemen rumah sakit. Bidang ini yang kelak menjadi jalannya menuju menjadi pemimpin.
Pada 2019, kesempatan besar datang. Ia diajak bergabung di Rumah Sakit Syifa Medika Banjarbaru. Rumah sakit yang saat itu baru dua tahun berdiri, dan tengah merintis kerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Awalnya, ia bekerja sebagai dokter jaga IGD. Namun hanya enam bulan berselang, kemampuan analisis dan komitmennya membuat ia dipercaya menjadi bagian dari verifikator klaim internal BPJS. “Dari situ saya mulai belajar tentang jaminan kesehatan, dan bagaimana sistem rumah sakit berjalan dari dalam. Dunia manajerial mulai menarik perhatian saya,” katanya.
Keseriusan itu berbuah kepercayaan. Pertengahan 2019, ia diangkat menjadi Kepala Bagian Pelayanan Medik. Ia ikut andil dalam proses penting seperti akreditasi dan peningkatan kualitas layanan.
Namun, akhir 2020 menjadi masa penuh ujian. Dunia diguncang pandemi Covid-19. Saat itu pula, Syifa Medika mengalami pergantian manajemen.
Direktur sebelumnya mengundurkan diri, dan tanggung jawab besar pun jatuh ke pundak dr Puga. “Saya tidak pernah menyangka akan dipercaya memimpin rumah sakit di masa krisis,” ujarnya. “Tapi saya anggap itu amanah. Kami berusaha membenahi sistem sambil memastikan pelayanan tetap berjalan”.
Di tengah tekanan pandemi, banyak rumah sakit terpaksa merumahkan karyawan. Namun dr Puga memilih langkah berbeda. “Alhamdulillah, tidak ada satu pun karyawan yang kami rumahkan. Kami cari cara agar semuanya tetap bisa bertahan,” ujarnya.
Setelah pandemi mereda pada 2022, Syifa Medika bangkit dan berkembang pesat. Di bawah kepemimpinannya, rumah sakit menambah fasilitas, membangun ruang rawat inap baru, dan memperluas layanan untuk masyarakat.
Yang menarik, jauh sebelum memilih dunia medis, Puga sempat tertarik pada sastra Inggris dan hubungan internasional. “Saya dulu ingin kuliah di bidang itu,” katanya lantas tertawa. “Tapi orang tua membimbing saya ke kedokteran. Dan ternyata, di sinilah jalan hidup saya”.
Kini, dr Puga dikenal bukan hanya sebagai pemimpin rumah sakit, tapi juga sebagai figur yang mampu menggerakkan tim lintas profesi—dari dokter hingga perawat—agar memiliki tujuan yang sama. “Bagi saya, tugas seorang pemimpin itu menggerakkan orang lain. Rumah sakit bisa berjalan kalau semua bagian saling mendukung,” tuturnya
Di bawah kepemimpinannya, dr Puga ingin Syifa Medika tumbuh menjadi rumah sakit modern yang terus memperluas layanan. Ia ingin memastikan masyarakat Banjarbaru dan sekitarnya tidak perlu jauh-jauh berobat ke luar daerah. “Kami ingin Syifa Medika menjadi rumah sakit yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Memberikan pelayanan yang lebih baik dan lebih dekat,” ucapnya mantap.
Dari jalan berbatu di Pengaron hingga ruang rapat rumah sakit modern di Banjarbaru, kisah dr Puga Sharaz Wangi membuktikan: pengabdian dan ketulusan adalah fondasi sejati dari setiap kesuksesan di dunia kesehatan.
dr Puga Sharaz Wangi M.A.R.S.
Panggilan: Dokter Puga
Domisili: Banjarmasin - Banjarbaru
TTL: Banjarmasin, 23 November 1992
Hobby: Gym, baca buku
Motto: Keep learning and Grow through every challenge
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief