DI balik masker dan seragam anggar yang elegan, tersembunyi semangat baja milik seorang gadis muda asal Banjarmasin. Namanya, Wicky Putri Utami. Lahir pada 12 Juni 2003, Wicky tumbuh besar di tengah keluarga yang mendukung penuh setiap langkahnya.
Ia memulai Pendidikan di SD Muhammadiyah 9, melanjutkan ke SMP Ukhuwah, lalu ke SMAN 7 Banjarmasin.
Kini, tercatat sebagai mahasiswi S1 di Universitas Lambung Mangkurat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Ekonomi Pembangunan.
Perjalanan Wicky sebagai atlet anggar bermula secara tak terduga. Tahun 2020, ibunya sebagai Ketua IKASI Kalsel, Herita Warni menghadiri pembukaan Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Anggar di Tapin.
Wicky ikut ibunya, walau hanya sebagai penonton. Namun suasana kompetisi dan keunikan olahraga anggar justru memikat hatinya. Dari sekadar rasa ingin tahu, berkembang menjadi cinta yang serius.
“Saat itu cuma ikut mamah saja ke Kejurprov Tapin, eh malah jatuh cinta sama anggar. Dari situ mulai serius latihan,” kenang Wicky.
Sosok sang ibu menjadi figur penting dalam perjalanan awalnya. Bukan hanya sebagai pendamping, juga inspirasi dan penyemangat utama. Dari ibunya, Wicky belajar arti dedikasi dan komitmen. Keseriusannya diuji saat pertama kali ikut Kejurprov Anggar tahun 2021 di Banjarbaru.
“Gugup banget. Ramai, penontonnya banyak, dan ketemu atlet-atlet dari berbagai daerah. Rasanya tegang dan takut banget waktu itu,” katanya mengenang.
Namun tantangan sebenarnya bukan hanya di arena. Bagi Wicky, musuh terbesar adalah dirinya sendiri. Ia harus melawan melawan rasa takut gagal dan keinginan menyerah. “Latihan berat itu biasa. Tapi, tekanan dari pikiran sendiri yang paling susah dilawan,” ujarnya.
Setiap hari, Wicky menjalani rutinitas latihan yang padat. Pagi dan sore, ia mengisi waktu dengan pemanasan jogging 15- 30 menit, sprint, senam anggar, push-up 25x3, sit-up 50, dan naik turun tangga selama satu menit sebanyak tiga kali.
Latihan fisik yang keras itu harus diimbangi dengan fokus mental. “Anggar itu soal ketenangan dan fokus. Kadang kesalahan kecil bisa fatal. Kalau kita grogi atau nggak ngerti instruksi pelatih, bisa jadi beban mental banget,” ucapnya.
Dari sekian banyak pengalaman bertanding, satu yang paling membekas adalah Porprov HSS tahun 2022. Ia bertemu lagi dengan rival lamanya, Khaliza di semifinal. Dua kali sebelumnya, Wicky kalah dari Khaliza di Kejurprov. Ketika tahu akan bertanding lagi dengan Khaliza, ia tak kuasa menahan air mata karena rasa takut dan tekanan.
“Pas tahu ketemu dia lagi, saya nangis. Inget kekalahan sebelumnya. Tapi waktu itu saya bangkit dan akhirnya menang, bisa masuk final. Itu momen yang nggak akan pernah saya lupakan,” ceritanya dengan mata berbinar.
Piuncak Prestasi Wicky sejauh ini adalah saat tampil di ajang PON Aceh-Sumut 2024. Mewakili Kalsel di level nasional, bagi Wicky adalah bukti bahwa kerja keras dan konsistensinya tidak sia-sia.
Mimpinya terus tumbuh. Dalam waktu dekat, ia menargetkan medali emas di Porprov, Kejurnas, Pra-PON, dan PON, serta mewakili Indonesia di SEA Games, Asian Games, bahkan Kejuaraan Dunia di nomor Sabre Putri.
Sebagai atlet perempuan di cabang olahraga yang belum populer, Wicky menyadari banyak tantangan. “Anggar itu belum banyak dikenal. Jadi kadang fasilitas minim, kesempatan bertanding juga nggak sebanyak cabor lain,” ungkapnya.
Tapi, itu tak menyurutkan semangatnya. Ia justru ingin menjadi bagian dari perubahan. “Semoga anggar makin dikenal dan diminati, apalagi buat atlet-atlet putri di Kalsel. Mulai dari pembinaan dini sampai ke tingkat internasional,” harapnya.
Dukungan terbesar Wicky datang dari orang-orang terdekat. Mereka tak hanya memberikan semangat, tapi juga pengorbanan waktu, tenaga, dan materi.
“Mereka juga jadi tempat saya curhat, saat jatuh, mereka yang bantu saya bangkit,” tuturnya.
Ketika ditanya apa yang membuatnya tetap semangat meski gagal? Wicky menjawab dengan mantap, “Ingat tujuan awal. Kegagalan itu pahit, tapi bagian dari proses belajar. Dan dukungan orang-orang itu jadi energi buat aku”.
Motto hidupnya sederhana, tapi penuh makna: Love the journey, nothing worth having comes easy.
Di luar arena anggar, Wicky adalah gadis biasa. Ia senang tidur, menonton film, dan jalan-jalan. Baginya, membagi waktu antara kuliah, latihan, dan kehidupan pribadi adalah soal disiplin dan manajemen prioritas.
“Kalau menjelang pertandingan atau ujian, saya atur waktu betul-betul. Fokus sama yang penting dulu,” katanya.
Jika bukan atlet anggar, Wicky ingin menjadi atlet lari. Tapi impian terbesarnya adalah menjadi seorang perwira TNI atau Polri.
Sebuah cita-cita yang mencerminkan keberanian dan tekadnya. Untuk generasi muda, ia berpesan jangan ragu untuk mencoba dan terus belajar.
“Mungkin awalnya susah, tapi kalau kamu cinta sama apa yang kamu lakukan, semua jadi lebih ringan, dan prestasi pasti akan datang,” yakinnya.
Wicky Putri Utami
Panggilan: Wicky
TTL: 12 Juni 2003
Usia: 21 Tahun
Pendidikan: Universitas Lambung Mangkurat
Cabor: Anggar (Spesialisasi Sabel Putri)
Tangan Dominan: Kanan
Tinggi Badan: 165 cm
Berat Badan: 59kg
Instagram: @wickyputri
Prestasi:
Juara 1 perorangan sabel putri
PORPROV HSS 2022
Juara 1 beregu sabel putri
PORPROV HSS 2022
Juara 1 perorangan
Kejurprov Anggar 2025
Juara 1 beregu
Kejurprov Anggar 2025
Juara 1 perorangan kategori junior
Kejurprov Anggar 2023
Juara 1 perorangan kategori senior
Kejuprov Anggar 2023
Juara 3 perorangan kategori senior
Kejurprov Anggar 2021
Juara 1 perorangan kategori junior
Kejurprov Anggar 2021