Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Siti Rabiah, Menyelami Perasaan Lewat Musik Panting Dan Sastra

M Dirga • Sabtu, 8 Februari 2025 | 11:46 WIB
Siti Rabiah
Siti Rabiah

SITI Rabiah menganggap musik panting memegang peranan penting dalam hidupnya. Ia tumbuh besar bersama petikan harmoni panting, suling, biola, kendang, kempul, gong, marawis, ketipung, dan tamborin.

Musik kordofon dengan tangga nada diatonik itu telah menjadi bagian dari dirinya, mengalir dalam darah dan jiwa. Terlahir dari keluarga mencintai seni, khususnya musik, Rabi tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan nilai-nilai budaya.

Almarhum ayahnya adalah seorang pemain grup musik panting Raden Sanjaya dari Desa Parigi Tangkawang, Kabupaten Tapin. Begitu pula kakaknya. Kedua sosok tersebutlah yang menginspirasinya untuk mendalami kesenian tradisional ini.

Sejak kecil, Rabi sudah akrab dengan dentingan senar panting yang sering dimainkan ayah dan kakaknya. Sering mendengar, lama-kelamaan ia hafal notasi, dan mulai mencoba memainkan alat musik panting secara diamdiam.

“Tidak semua orang bisa memainkan gitar panting karena cukup rumit. Tapi saya justru merasa nyaman memainkannya, mungkin karena sering mendengar,” ujarnya.

Singkat cerita, bungsu dari enam bersaudara itu mulai belajar memainkan panting secara autodidak . Ketika kakaknya mengetahui bakatnya, Rabi justru mendapat dukungan penuh. “Saya lalu diarahkan dan diberi kesempatan untuk belajar lebih serius,” kenangnya.

Melalui musik panting, dara jelita kelahiran Tapin 23 tahun silam itu belajar menghargai warisan budaya leluhurnya. Bagi masyarakat Kalsel, musik panting adalah warisan seni yang tumbuh subur dalam keberagaman budaya setempat.

 Musik ini telah menjadi bagian tak terpisahkan sejak abad ke-18 Masehi, seiring perkembangan tari Japin di Banua.

Awalnya, musik panting hadir dalam upacara dan ritual adat Suku Banjar. Namun, evolusinya membawanya melampaui batasan. Bahkan, menjadi simbol kebanggaan dan identitas budaya.

Bagi Rabi, musik panting bukan sekadar alat musik, melainkan suara hati untuk menyampaikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Secara personal, musik panting menjadi medium bagi Rabi untuk mengekspresikan perasaan dan emosinya.

“Memainkan musik panting itu menenangkan. Saat merasa galau, tertekan, atau ada luapan emosi yang tidak tersampaikan, musik panting adalah pelampiasan. Jadi, semacam penyaluran luapan emosi dan perasaan menjadi sebuah karya,” tuturnya.

 Kegemarannya di musik panting semakin tersalurkan saat bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kampoeng Seni Boedaja (KSB) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Di sana, ia menemukan mentormentor baru yang memberinya kesempatan untuk lebih banyak belajar tentang kesenian.

 Kini, Rabi tercatat sebagai mahasiswa semester akhir di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP ULM. Pilihannya untuk berkuliah di bidang ini tidak lepas dari kecintaannya pada bahasa dan sastra, yang juga ia anggap sebagai bentuk lain dari seni.  

Rabi bahkan kerap menulis puisi dan meraih Juara 3 Lomba Cipta Puisi “Meramu Juni” 2021. Puisi-puisi karyanya sering dijadikan lirik lagu dalam musik yang ia mainkan.

Rabi percaya bahwa kombinasi antara musik dan bahasa dapat menjadi kekuatan besar dalam melestarikan budaya Indonesia, khususnya budaya Kalimantan Selatan.

Ia bermimpi suatu hari nanti dapat memainkan musik panting di panggung internasional, memperkenalkan kekayaan budaya Banua kepada dunia.

Rabi adalah bukti bahwa musik panting tidak hanya sekadar alat hiburan, tetapi juga sarana untuk mengekspresikan diri, melestarikan budaya, dan menyatukan hati. Melalui dedikasi ini, ia berharap dapat menginspirasi generasi muda lain untuk mencintai dan merawat warisan leluhur.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#for her #puisi #musik #sastra #tradisional