Di Bumi Sa-Ijaan ada wanita yang punya rasa motivasi sangat tinggi. Namanya Noor Risa. Berusia 20 tahun, ia merupakan anak terakhir dari empat bersaudara.
Dari kecil ia sangat hobi membaca. Bahkan di rumahnya banyak koleksi novel yang sangat menarik.
Bagi Risa, orang yang ingin terus belajar, harus sering membaca, agar dapat melatih kemampuan berpikir, meningkatkan pemahaman, menambah ilmu pengetahuan dan menutrisi otak.
Saat masa sekolah, ia merupakan Paskibraka Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2021 mewakili Kotabaru.
Pada tahun yang sama, Risa juga mendapatkan gelar sebagai Wakil Empat Putri Pariwisata Kotabaru 2021 yang diadakan Disparpora Kotabaru.
Selain dua prestasi ini, Risa bahkan pernah mengikuti lomba debat bahasa Inggris (English Speech) tingkat nasional mewakili Kotabaru. Namun sayangnya ia tidak mendapatkan juara.
Berprestasi menurutnya hanya sebuah selingan yang apabila ada kesempatan untuk mengikuti kompetisi. “Saya itu tipe orang kalau melihat sesuatu yang saya inginkan, pasti saya usahakan,” katanya kepada Radar Banjarmasin, Jumat (16/2)
Risa selama ini sangat aktif di organisasi. Salah satu yang digelutinya adalah Ikatan Duta Wisata dan Budaya Sa-Ijaan. Baginya di sini adalah tempatnya belajar dan mengabdi untuk daerah tanpa harus mengharapkan bayaran yang sesuai.
Namun di balik keaktifannya ini, ia juga bukan orang yang hidupnya selalu di atas angin dan tak pernah punya masalah.
Salah satu yang membuatnya terpuruk adalah pada 2023, ia ditinggalkan sosok ayah yang menjadi panutan dan semangatnya dalam hidup.
Diceritakannya, keluarga adalah segalanya. Risa rela ditinggalkan siapa saja asal jangan keluarga. Sehingga ia langsung berubah drastis saat ayahnya tiada. Jadi suka menyendiri di kamar dan komunikasi seadanya. “Mungkin ada yang mengira saya sudah menutup diri dari teman teman. Tapi jauh daripada itu saya kebingungan dalam menjalani hidup,” ujarnya.
Keterpurukan itu ia ratapi kurang lebih tiga bulan. Ia sadar ketika melihat sosok ibu dan kakaknya yang kerja keras dalam hal memenuhi kehidupannya menggantikan sosok ayah. “Pada suatu hari saya tersentak, berpikir saya tidak boleh lemah. Saya juga harus lebih berkontribusi terhadap keluarga ini,” optimisnya.
Di waktu yang sama ia juga melihat banyak melihat keluarga besarnya kumpul di rumah. Melihat keponakannya yang masih kecil, Risa berjanji akan menjadi sosok panutan. “Yang paling saya ingat dan membuat saya bangkit adalah kata mamah bahwa kakakku nanti ingin berkeluarga, sehingga kami harus membantu,” jelasnya.
Di situ ia langsung berpikir tidak mau jadi beban keluarga dan harus bangkit menjadi orang berperan dalam keluarga, baik secara moral dan materi.
Langkah pertama ia bangkit dengan aktif kembali di organisasi, membaca peluang pekerjaan dengan kemampuan yang dimilikinya. “Saya yakin dengan niatan saya untuk keluarga yang tercinta ini pasti akan ada jalan yang mulus. Yang pasti sekarang menjalin relasi dan menggali ilmu dengan siapapun,” bebernya.
Dan satu kata yang selalu Risa ingat dari Merry Riana adalah: jika Tuhan sudah kasih titik, jangan ubah jadi tanda tanya. “Ini adalah pesan dalam yang pernah saya baca dan selalu menjadi pegangan saya bahwa apa yang terjadi di dunia ini sudah ada takdirnya,” tutupnya.
Noor Risa
Panggilan: Risa
Kelahiran: Kotabaru, 17 Maret 2004
Pendidikan Terakhir: S1 Administrasi Bisnis Universitas Terbuka.
Buku Favorit: Hujan Tere Liye
Editor: Sutrisno
Editor : Arief