Risalatun Nahdia Tamrin: Hasrat Kuat Menjadi Pendidik
M Dirga• Sabtu, 27 Januari 2024 | 11:41 WIB
MENGAJAR: Risalatun Nahdia Tamrin punya keinginan untuk terus mendidik Apa yang Anda lakukan di usia 18 tahun? Sebagian orang memanfaatkan masa remaja dengan berhura-hura. Sebagian lagi, sibuk dalam proses pencarian jati diri. Bagi Risalatun Nahdia Tamrin, usia 18 tahun merupakan titik balik memantapkan hati untuk memberikan kontribusi kepada orang banyak lewat pendidikan.
Terlahir dari keluarga yang memiliki latar belakang sebagai guru dan pendidik, membuat jelita kelahiran 26 Desember 1999 itu memendam keinginan untuk menjadi seorang pendidik. "Mayoritas anggota keluarga ulun (saya, red) guru,” ungkapnya.
Dulu, almarhum kakek dan neneknya rela menempuh perjalanan ke daerah-daerah untuk mengajar. “Begitu pula mama, acil, dan keluarga lainnya,” tambahnya.
Latar belakang ini yang memotivasi untuk berkontribusi nyata di dunia pendidikan. Meski tidak terjun secara langsung awalnya.
Nahdia ingat, waktu kecil ia dan sepupu-sepupunya kerap ditanya cita-cita apa yang akan mereka jalani saat dewasa nanti. Dari setiap jawaban, tidak satupun yang mengarah untuk menjadi seorang guru. Sebaliknya bagi Nahdia, itu merupakan sebuah tantangan.
Keinginan itu kian menggebu saat ia mengenyam pendidikan di Malang, Jawa Timur. Di Kota Apel itu, ia merasakan adanya kesenjangan pendidikan dengan di Banua. Alasan itu pula yang membuat dirinya memberanikan diri menyampaikan keinginan membuat yayasan kepada keluarga.
Keinginan tersebut awalnya banyak dipertanyakan pihak keluarga, karena berbagai faktor. Namun berkat keteguhan dan kengototannya, gayung pun bersambut. Hingga akhirnya, Yayasan Al Tamar berdiri pada tahun 2018. Tepat saat dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa semester 3.
Langkah awal yang ia lakukan waktu itu tentu mengurus administrasi, sembari memperbanyak referensi melalui diskusi terkait konsep pendidikan seperti apa yang bakal dijalankan. "Sempat terpikir konsep pendidikan Islam terpadu. Kebetulan juga pas ke Tanjung, ada melihat konsep sekolah alam,” terangnya.
Singkat cerita, konsep itu akhirnya diadopsi karena pada dasarnya, proses belajar-mengajar itu tidak perlu bangunan tidak wah dan sebagainya. Yang penting bobot ilmu. “Rasulullah pun mengajar di bawah pohon kurma. Inspirasi itu yang jadi pedoman kita," tambahnya.
Adanya pandemi Covid-19 di tahun 2020, sedikit banyaknya membawa berkah bagi Nahdia dan Yayasan Al Tamar. Di masa pembelajaran daring, Nahdia justru mendapat ruang untuk fokus mengurus yayasan. "Sambil berjalan, di awal-awal kita juga rutin menggelar kegiatan sosial, berupa santunan anak yatim,” terangnya.
Hingga akhirnya pada tahun 2021, dibuka pendaftaran sekolah untuk pertama kali. Ada 16 murid angkatan pertama. “Kita lakukan proses rekrutmen siswa melalui metode jemput bola," lanjutnya.
Keinginan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain bukannya tanpa masalah bagi Nahdia. Misi mulia itu terbentur keinginan pribadi, hingga menimbulkan pertentangan batin. Sebagai alumni program studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang, Nahdia juga memendam hasrat menjadi seorang Akuntan. "Sempat melamar ke berbagai perusahaan, dan diterima. Tapi, kemudian setelah diskusi dengan keluarga, ulun diberi pilihan,” ungkapnya.
“Akhirnya ulun pilih di sini. Alasannya, sekali lagi, karena apa yang dilakukan ini bisa dirasakan manfaatnya bagi orang banyak," ucapnya.
Keinginan itu tidak serta merta pudar. Nahdia tetap bermimpi suatu hari nanti bisa mengimplementasikan disiplin ilmu ekonomi yang dapat kepada masyarakat. Menurutnya, itu sangat penting. Contohnya mayoritas pedagang di daerah kita tidak menerapkan itu. Padahal laporan keuangan itu sangat penting. “Mudah-mudahan kalau ada kesempatan dan kesibukan di sekolah (yayasan, red) ini sudah agak longgar, ulun akan merambah ke sana," katanya.
Kegigihan Nahdia mendapat apresiasi hingga tingkat nasional. Di tahun 2022 lalu, ia meraih juara 1 sebagai Pemuda Pelopor tingkat Kalimantan Selatan. Predikat itu membuatnya terpilih untuk mewakili Kalsel pada pemilihan tingkat nasional.
Di tingkat nasional, Nahdia membawa tema sekolah alam dan game z project, dengan konsep yang lebih tajam dan berdampak luas ke masyarakat secara sosial dan ekonomi. Aspek-aspek yang dinilai kala itu adalah kepribadian, kepemimpinan, kreativitas, keuletan, dan dampak positif terhadap lingkungan serta masyarakat.
Photo Risalatun Nahdia Tamrin
Ttl: 26 Desember 1999 Orangtua: H. Tamrin, S.Ag., SE., MAP & Hj. Salasiah, S.Pd.I Anak ke: 1 dari 3 bersaudara
Prestasi: Pemuda Pelopor 202
Pendidikan - MIN Layap Paringin - MTSN model Barabai - SMAN 8 Malang - Universitas Brawijaya Malang