Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Perangi Stigma Anak Berkebutuhan Khusus, Berasa Mukjizat saat Dipanggil Ibu

Arief • Sabtu, 7 Oktober 2023 | 06:33 WIB
Farah Dhafiya
Farah Dhafiya
Diejek, dirundung, dikucilkan kerap terjadi pada anak berkebutuhan khusus (ABK). Kasus sejenis ini menjadi perhatian bagi Galuh Banjarbaru 2023, Farah Dhafiya.

Ia ingin mengubah citra negatif masyarakat yang masih melekat bagi penyandang disabilitas. Padahal keterbatasan dari lahir itu sebenarnya membuat mereka spesial. “Aku ingin menghapus stigma negatif itu,” tegas Farah.

Ia berpandangan bahwa ABK punya hak yang sama. Mereka berhak bahagia, merasa aman, nyaman, termasuk mengenyam pendidikan yang tinggi.

Farah kini berprofesi sebagai terapis ABK. Ia menamatkan pendidikan S1 Pendidikan Khusus di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). “Background-ku Pendidikan Khusus, sehingga aku dekat dengan dunia inklusi dan disabilitas,” ujarnya.

Ia menilai ada banyak hal positif yang bisa digali dari menjadi terapis. Profesi itu sempat dipandang buruk oleh segelintir orang di sekelilingnya. “Orang luar pun bertanya-tanya, kenapa aku mau jadi terapis ABK,” ujarnya.

Terapis ABK sebenarnya punya tugas mulia. Kasus yang ditangani seperti tuna rungu, speech delay, autis, dan down syndrome. Tak semua orang pandai menghadapi penyandang disabilitas. Masing-masing punya pola penanganan yang berbeda. “Bicara dengan singkat dan padat agar mereka paham. Intonasi pun harus jelas,” terangnya.

Kehadiran Farah dengan bekal ilmunya memberi secercah harapan. Terutama bagi para orang tua ABK yang membutuhkan tenaga profesional.

Memang tidaklah mudah. Terkadang Farah menghadapi ABK yang tantrum, lamban merespons, dan sebagainya. Tapi, di situlah tantangannya. “Kuncinya ada pada kesabaran,” ucap Farah.

Photo
Photo
Farah Dhafiya

Ada satu momen yang paling tak terlupakan bagi perempuan kelahiran 2001 ini. Ia mendapat klien ABK speech delay. Berusia empat tahun, namun belum bisa mengucap satu pun kata dengan fasih. Hingga suatu ketika, mukjizat itu muncul. “Di bulan ketiga terapi, dia memanggilku ibu,” kenang Farah.

Momen ajaib itu membuatnya gembira bercampur haru. Farah berlinang air mata, sebab upayanya membuahkan hasil. Bocah itu kini berbicara normal selayaknya anak usianya. “Ada kepuasan tersendiri,” nilainya.

Optimismenya kepada penyandang disabilitas bertambah saat tergabung dengan teman kuliah yang tuna rungu. Keduanya ternyata lulus berbarengan dan tepat waktu. “Lulus setelah kuliah 3,5 tahun. Dari situ aku melihat bahwa disabilitas bukan hambatan,” tegasnya.



Tekad memajukan ABK itu dibawanya hingga menjadi Galuh Banjarbaru 2023. Sejak awal kompetisi, Farah konsisten dengan visi-misinya. Hingga ia unggul dari yang lain, dan keluar sebagai juara.

Dalam masa jabatannya, Farah bertekad menyelipkan program bernuansa inklusi. Salah satunya lewat perayaan Hari Disabilitas Internasional yang dirayakan setiap 3 Desember.

Tentunya dengan melibatkan kawan-kawan disabilitas. “Supaya masyarakat lebih peka dan aware dengan teman-teman disabilitas,” ucapnya.

Secara umum, ia juga merasa terhormat menyandang gelar sebagai Galuh Banjarbaru. Selain mengenalkan pariwisata Kota Idaman, Farah juga berkesempatan belajar dan mengenalkan budaya Banjar lebih luas lagi. “Mengenal budaya sendiri secara mendalam membuat aku merasa lebih hidup dan bangga,” ujarnya.

Ia berharap, kiprahnya sebagai Galuh Banjarbaru menginspirasi pemuda-pemudi Banua untuk mau mengeksplorasi diri. “Semoga aku dapat memberi influence positif, dan menebar kasih ke siapa saja,” pungkasnya.(tia/gr/dye)

Photo
Photo


Nama: Farah Dhafiya
TTL: Banjarbaru, 3 Mei 2001
Alumni: S1 Pendidikan Khusus ULM
Hobi: Membaca, Nonton Film Horor
Buku favorit: Wonder (RJ Palacio)
Kutipan Favorit: “Do good and good will come to you” Editor : Arief
#Female #Difabel