Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dari Papua, Tuntut Ilmu ke Banjarbaru: Candaan "Bernada Aneh" Dianggap Angin Lalu Saja

Arief • Sabtu, 8 Juli 2023 | 07:32 WIB
Lusye Nuriah S. Erari
Lusye Nuriah S. Erari
GADIS 19 tahun asal Nabire, Papua Tengah ini terpilih sebagai penerima beasiswa untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat.

Lusye Nuriah S. Erari ini masih ingat, pada 27 Juni 2022, pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Bumi Antasari.

Lusi, demikian sapaannya, mengaku takjub melihat Banjarbaru, ibu kota provinsi ini.

"Mungkin karena pertama kali datang ke Kalimantan Selatan," kata alumni SMA YPK Tabernakel itu.

Selama menjadi perantau, tentu Lusi menyimpan kisah suka dan duka.

Ia menilai, kultur masyarakat Banjar sangat berbeda dengan daerah lain. Terutama dalam hal berbahasa. Perlu beberapa bulan baginya untuk memahami cara berbicara orang setempat.

"Biasanya kalau ke kota lain, masih ada sempilan kosa kata Indonesianya, jadi agak gampang dipahami. Tapi kalau di sini, logat dan kosa katanya sangat sulit dimengerti," ujarnya.

Lusi juga sempat kagok dengan gaya pertemanan di lingkungan kampusnya. Sebab ia kerap meladeni pertanyaan-pertanyaan bernada aneh.

"Kadang ada teman yang menceteluk bertanya: di Papua ada beras nggak? Ada ini nggak, ada itu nggak? Seolah dibanding-bandingkan gitu," ujarnya.

"Dan terkadang mereka itu nanya sambil ketawa," sambungnya.

Photo
Photo
Lusye Nuriah S. Erari

Walaupun Lusi sudah sering menghadapinya, terkadang ia tersinggung juga.

"Tapi akhirnya saya anggap angin lalu saja. Mungkin candaan model begitu sudah dianggap wajar. Saya lebih memilih berprasangka baik saja," katanya.

Menurutnya, lontaran semacam itu bisa muncul karena orang-orang belum mengetahui betapa indah tanah kelahirannya.

Dan ternyata, bukan hanya dirinya, seniornya juga kerap menghadapi hal serupa. Ia mendengar cerita itu dari Ikatan Mahasiswa Papua (Imapa) Kalsel.



"Yang jelas, saya mau fokus belajar saja, soalnya tidak semua orang bisa dapat kesempatan kuliah di sini," tegasnya.

Ia sadar betul, beasiswa itu merupakan kesempatan emas untuk mengubah nasib keluarga di kampung halaman.

"Karena orang tua saya, bapak hanya kuli bangunan dan ibu hanya di rumah. Jadi bagaimanapun saya harus berhasil. Membuat orang tua di kampung sana bangga," ungkapnya.

Namun, yang ia sukai dari Banjarbaru dan membuatnya kerasan, di sini sangat aman.
"Saya sering keluar malam-malam untuk ngerjain tugas. Nggak pernah menemui orang yang ingin berbuat jahat. Di sini jauh lebih aman," ujarnya.

"Di sini jauh lebih aman. Itu yang paling beda sama daerah lain (Papua). Makanya saya bersyukur bisa kuliah di sini," tutupnya. (zkr/gr/fud) Editor : Arief
#Female #ULM