RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Tan Malaka lewat Madilog sudah lama mengingatkan pentingnya menguji kepercayaan dengan nalar dan bukti. Di tengah banjir informasi dan tren mistis di media sosial, pertanyaannya: kita makin kritis atau cuma makin mudah percaya?
***
Tan Malaka mungkin tak pernah membayangkan Madilog dibaca ulang oleh generasi yang hidup bersama TikTok, podcast, dan kecerdasan buatan. Namun, gagasannya tentang cara berpikir masih relevan. Terkesan menyuruh jangan buru-buru percaya sebelum memeriksa kenyataan.
Dalam Madilog, singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika, Tan Malaka mengkritik logika mistika. Cara berpikir yang menjelaskan berbagai peristiwa melalui kekuatan gaib, tanpa mengujinya lewat pengamatan dan penalaran.
Sementara itu, Gen Z kini dikenal dekat dengan teknologi, akrab dengan sains, dan gampang mencari informasi lewat internet. Cerita rumah angker, pamali, sampai pengalaman ketindihan pun kini bisa dicari penjelasan ilmiahnya. Tapi, di sisi lain, tarot, astrologi, dan manifestasi justru ikut populer di media sosial.
Kok bisa?
Di tengah kebiasaan mempertanyakan mitos yang diwariskan turun-temurun, sebagian anak muda justru tertarik pada hal-hal yang belum tentu bisa dibuktikan secara ilmiah. Apalagi, konten semacam itu sekarang dikemas dengan bahasa yang lebih kekinian, estetik, dan sering dikaitkan dengan pengembangan diri.
Gagasan Madilog masih relevan untuk melihat bagaimana anak muda menyikapi informasi hari ini. Bukan berarti semua tradisi atau kepercayaan harus ditolak, tetapi setiap klaim perlu dilihat secara kritis.
Ketindihan, misalnya, tidak harus langsung dianggap sebagai gangguan makhluk halus. Ada penjelasan ilmiah mengenai fenomena tidur tersebut. Begitu pula cerita mistis lainnya yang bisa ditelaah dengan mencari bukti dan penjelasan yang masuk akal.
Namun, akses informasi yang luas ternyata tidak otomatis membuat seseorang lebih kritis. Media sosial juga membuka ruang bagi konten tarot, ramalan zodiak, astrologi, hingga manifestasi yang menjanjikan gambaran tentang percintaan, karier, dan masa depan.
Bagi sebagian orang, konten tersebut sekadar hiburan atau bahan refleksi. Namun, bagi yang lain, ramalan bisa terasa begitu personal hingga dipercaya sebagai petunjuk dalam mengambil keputusan.
Ada kebutuhan emosional di balik ketertarikan itu. Ketika menghadapi ketidakpastian, jawaban yang terasa meyakinkan bisa memberikan ketenangan. Masalahnya, sesuatu yang membuat nyaman belum tentu benar secara faktual.
Lantas, bagaimana anak muda seharusnya menyikapi fenomena ini?
Salah satu Rescuer Kantor SAR Kelas A Banjarmasin, Muhammad Nanda menilai kritik Tan Malaka terhadap logika mistika masih relevan di tengah derasnya arus informasi. Menurut cowok 24 tahun tersebut, masyarakat perlu membiasakan diri berpikir realistis. “Kita mestinya berpikir tentang hal-hal yang masuk akal, realistis, dan konkret, yang memang bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya, Minggu (11/10).
Nanda menilai media sosial turut memengaruhi ketertarikan anak muda terhadap praktik ramalan. Konten tarot, astrologi, dan bentuk ramalan lainnya mudah ditemukan, sehingga memancing rasa penasaran. Tak sedikit orang yang kemudian tertarik mencoba, bahkan mulai mempercayainya.
Padahal, kemudahan memperoleh informasi seharusnya menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan, sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis. “Dengan kemudahan mengakses informasi, mestinya kita semakin kritis dalam berpikir, memecahkan masalah, dan mencari kebenaran,” tuturnya.
Pengalamannya sebagai rescuer juga memperlihatkan bahwa kepercayaan terhadap hal mistis masih hidup di masyarakat. Dalam sejumlah operasi pencarian orang hilang atau korban tenggelam, ia menjumpai warga yang mengandalkan cara-cara tradisional yang berkaitan dengan kepercayaan mistis.
Meski begitu, tim SAR tetap menjalankan pencarian berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP), sembari menghormati upaya masyarakat selama tidak mengganggu proses pencarian.
Bagi Nanda, menghormati keyakinan orang lain tidak berarti harus meninggalkan nalar. Kepercayaan dan tradisi bisa dipahami sebagai bagian dari kehidupan sosial, tetapi penanganan suatu persoalan tetap membutuhkan langkah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pandangan lain disampaikan Noorhana, mahasiswi Program Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Ia menilai kepercayaan yang diwariskan turun-temurun tidak bisa begitu saja disingkirkan. Sebagian di antaranya berkaitan dengan kearifan lokal, norma sosial, dan cara masyarakat memaknai kehidupan.
Kepercayaan tertentu bahkan bisa memberikan ketenangan atau membantu seseorang membangun rasa percaya diri. Karena itu, mengkritik logika mistika tidak seharusnya menjadi alasan untuk meremehkan budaya masyarakat.
Namun, bukan berarti semua kepercayaan harus diterima mentah-mentah.
Noorhana mengingatkan, keyakinan yang memicu ketakutan berlebihan, menimbulkan kegelisahan, atau membuat seseorang bergantung pada hal-hal yang tidak rasional perlu disikapi secara kritis. “Menghargai kearifan lokal tidak berarti kita harus menerima setiap kepercayaan tanpa mempertimbangkannya secara kritis,” tegas perempuan berusia 22 tahun tersebut.
Menurutnya, fenomena tarot, astrologi, dan manifestasi di kalangan anak muda juga memperlihatkan bahwa akses informasi yang luas belum tentu berjalan seiring dengan kemampuan menilai kebenaran. Di media sosial, praktik tersebut kerap dikemas sebagai sarana mengenali diri sendiri, memahami hubungan, atau merancang masa depan. Kemasan modern membuatnya terasa berbeda dari mitos tradisional, meskipun klaim yang disampaikan tetap perlu diperiksa.
Ketika seseorang sedang menghadapi masalah percintaan, kebingungan memilih karier, atau kecemasan tentang masa depan, ramalan yang terasa sesuai dengan kondisi pribadi bisa menjadi sesuatu yang menarik.
Tetapi, merasa cocok bukan berarti sebuah ramalan terbukti benar. Begitu pula banyaknya orang yang menyukai atau membagikan suatu konten tidak otomatis membuat klaim di dalamnya menjadi fakta.
Noorhana menilai, algoritma media sosial juga bisa membuat seseorang terus menemukan informasi yang sejalan dengan minat dan keyakinannya. Akibatnya, orang berisiko semakin yakin pada sesuatu yang sejak awal ingin dipercayai, tanpa cukup memeriksa sudut pandang lain. “Karena itu, ukuran berpikir kritis bukan sekadar seberapa banyak informasi yang bisa diakses, melainkan kesediaan untuk menguji kebenarannya, termasuk ketika hasilnya bertentangan dengan keyakinan sendiri,” tutupnya.
Pada akhirnya, berpikir kritis bukan berarti harus mengejek kepercayaan orang lain atau menolak semua tradisi. Intinya adalah berani bertanya, mencari bukti, dan membedakan antara keyakinan pribadi dengan fakta yang bisa diuji.
Di era ketika informasi datang tanpa henti, tantangannya bukan lagi sekadar mencari tahu. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan kita tidak langsung percaya hanya karena sebuah informasi terasa cocok, menenangkan, atau sesuai dengan apa yang ingin kita dengar.
Jadi, Gen Z boleh saja penasaran dengan tarot, zodiak, atau cerita mistis. Namun, jangan sampai rasa penasaran membuat nalar berhenti bekerja.(van/az/dye)
Editor : Arief M