RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Perluasan pasar mendongkrak pendapatan produk sabun milik Irwaningsih. Dalam sebulan, omzet usaha yang dirintis dari tengah situasi krisis itu kini berkisar Rp50 juta hingga Rp80 juta.
Namun, di balik pesanan yang terus mengalir, tantangan produksi masih harus dihadapi. Salah satunya terkait pasokan bahan baku yang sebagian masih didatangkan dari Pulau Jawa.
Jarak antarpulau dan persoalan logistik membuat Irwaningsih harus cermat mengatur persediaan agar proses produksi tetap berjalan dan permintaan pelanggan tidak terganggu.
Di sisi produksi, Bigfast juga berupaya menjaga standar kualitas. Satu siklus pembuatan produk membutuhkan waktu sekitar dua hari.
Salah satu tahapan penting adalah proses homogenisasi. Setelah seluruh bahan diracik, cairan harus melalui proses aging selama 24 jam.
Tahapan ini dilakukan untuk memastikan reaksi kimia berlangsung dan campuran mencapai kondisi yang sesuai sebelum produk dikemas ke dalam botol.
Ketekunan Irwaningsih mengembangkan usaha lokal tersebut turut menarik perhatian Pemerintah Kota Banjarbaru. Dukungan diberikan dalam bentuk pembinaan maupun fasilitas, termasuk peresmian gudang produksi baru milik Bigfast oleh Wali Kota Banjarbaru Lisa Halaby beberapa waktu lalu.
"Alhamdulillah sekali untuk dukungan dari Pemko Banjarbaru, terutama Ibu Wali Kota yang sangat mendukung usaha kami," tutur Irwaningsih penuh syukur.
Dari kebutuhan yang lahir di tengah pandemi, Bigfast kini tumbuh menjadi salah satu usaha lokal yang mampu memperluas pasar hingga sektor bisnis dan institusi.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa krisis tak selalu menjadi akhir dari sebuah usaha—bagi Irwaningsih, pandemi justru menjadi awal untuk membangun kemandirian dari produk kebersihan yang diproduksi di Banjarbaru. (al/ris)
Editor : Arief M