Saat Pasien Rehabilitasi Narkoba Bertemu Orang Tua: Berlutut dan Meminta Maaf

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 15:33 WIB
BERLUTUT: Para residen IPWL YPR Kobra Nusantara Kalsel mencuci kaki orang tua dalam rangkaian Family Support Group di kawasan Wisata Danau Seran, Banjarbaru, Sabtu (29/8).
BERLUTUT: Para residen IPWL YPR Kobra Nusantara Kalsel mencuci kaki orang tua dalam rangkaian Family Support Group di kawasan Wisata Danau Seran, Banjarbaru, Sabtu (29/8). 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Tanah kuning kecokelatan terasa panas di bawah terik matahari. Pepohonan di kawasan Wisata Danau Seran memberi sedikit keteduhan, tetapi tak cukup untuk mengusir panas siang itu.

       *****

Di sebuah tanah lapang, kursi-kursi plastik berjajar. Para orang tua duduk menunggu. Sebagian terdiam. Beberapa lainnya memandang anak-anak mereka yang berdiri di hadapan.

Anak-anak itu kemudian berlutut. Mengenakan kaus oranye bertuliskan HONESTY, mereka perlahan menyentuh kaki orang tua. Mencucinya. Membersihkannya. Kemudian menciumnya.

Tak ada panggung. Apalagi seremoni besar. Hanya baskom berisi air, kursi plastik, dan sejumlah anak yang menundukkan kepala di hadapan orang tua.

Namun, bagi mereka, momen itu bukan sekadar ritual. Ada rasa hormat yang hendak dikembalikan. Ada kesadaran yang sedang dibangun. Dan ada kepercayaan yang perlahan ingin dirajut kembali.

Adegan itu menjadi bagian dari Family Support Group yang digelar IPWL YPR Kobra Nusantara Kalimantan Selatan di kawasan Wisata Danau Seran, Banjarbaru, Sabtu (29/8).

Sebanyak 78 residen dari berbagai fase rehabilitasi mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (28-29/8). Mereka berasal dari fase Younger, Older, hingga Re-Entry. 

Keluarga turut dilibatkan. Sebab proses pemulihan tidak selalu berakhir ketika seseorang keluar dari tempat rehabilitasi.

Justru setelah kembali ke rumah dan lingkungan masyarakat, perjalanan yang sebenarnya kembali dimulai.

Di antara puluhan residen itu, ada Muluk, 35 tahun. Ia menjalani rehabilitasi setelah keluarganya mengetahui penggunaan sabu dan obat-obatan.

Hari-harinya kini diisi dengan kegiatan yang terstruktur. Mulai morning meeting, share feeling, seminar, corvee atau membersihkan lingkungan, menjaga kebersihan diri, pemeriksaan kesehatan, olahraga, salat berjamaah, belajar membaca Al-Qur'an, hingga pendidikan kesetaraan melalui Paket A, B, dan C.

Rutinitas itu perlahan menjadi bagian dari kesehariannya. "Banyak pengalaman yang bisa saya ambil selama mengikuti kegiatan di sini," ujar Muluk.

Pengalaman tersebut membuatnya mulai memikirkan kehidupan setelah rehabilitasi. Ia tidak sekadar ingin pulang dan kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.

Muluk justru ingin tetap berada di lingkungan yang membantunya menjalani proses pemulihan. Ia ingin menjadi staf di YPR Kobra. "Saya ingin jadi staf di sini, menjaga pemulihan dan mengabdi di yayasan untuk membantu orang lain," katanya.

BERTEMU: Para residen IPWL YPR Kobra Nusantara Kalsel saat bertemu orang tua dalam rangkaian Family Support Group di kawasan Wisata Danau Seran, Banjarbaru, Sabtu (29/8)
BERTEMU: Para residen IPWL YPR Kobra Nusantara Kalsel saat bertemu orang tua dalam rangkaian Family Support Group di kawasan Wisata Danau Seran, Banjarbaru, Sabtu (29/8)

Menguatkan Kembali Hubungan Residen dan Keluarga

Brembe, 42 tahun, memiliki cerita berbeda. Sehari-hari bekerja serabutan, ia menjalani rehabilitasi melalui pelimpahan kepolisian karena bukan bandar narkotika.

Sebelum masuk rehabilitasi, bayangan yang ada di kepala Brembe sederhana. Ia mengira akan dikurung seperti di penjara

"Tadinya saya kira dikurung seperti di penjara. Ternyata malah bebas keluar masuk rumah saat berkegiatan," tuturnya. 

Kenyataannya, rehabilitasi memang memiliki aturan dan jadwal yang harus dijalani. Tetapi hal itu bukan sekadar untuk membatasi gerak.

Para residen dilatih menjalani rutinitas, menjaga kebersihan, berolahraga, beribadah, belajar, dan mengikuti berbagai kegiatan pemulihan.

 

Bagi Brembe, tempat yang semula dibayangkan sebagai ruang untuk dikurung perlahan berubah menjadi ruang untuk belajar menjalani kehidupan kembali.

Di sinilah persoalan rehabilitasi menjadi lebih luas daripada sekadar urusan hukum. Seseorang tidak hanya perlu berhenti menggunakan narkotika. Ia juga perlu belajar menghadapi kehidupan setelahnya.

Yakni, belajar menghadapi tekanan, masalah dan menolak godaan narkotika lagi. Serta yang tidak kalah penting, belajar kembali menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat.

Ketua YPR Kobra Kalsel Ardian Noverdi Pratama mengatakan, Family Support Group menjadi salah satu momentum untuk menguatkan kembali hubungan antara residen dan keluarganya.

Tradisi mencuci dan mencium kaki orang tua sengaja dilakukan untuk menanamkan kembali nilai budaya, etika, serta sikap hormat kepada orang tua. "Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa orang tua memiliki jasa yang sangat besar," ujar Ardian.

Kesadaran itu, menurut dia, penting dalam proses perubahan. Di hadapan orang tua, para residen diajak melihat kembali perjalanan hidup, menyadari kesalahan, sekaligus membangun tekad untuk berubah.

Namun, perubahan tidak cukup hanya dimulai dari dalam diri residen. Keluarga juga memiliki peran besar.

Sebab setelah program rehabilitasi selesai, mereka akan kembali ke lingkungan yang sama. Kembali bertemu keluarga, teman, pekerjaan, persoalan hidup, dan berbagai situasi yang dapat menjadi tantangan bagi proses pemulihan.

"Yang paling penting adalah bagaimana ketika mereka keluar dari rehabilitasi, mereka mampu menghadapi kehidupan di luar," kata Ardian. 

MENGIKUTI: Para residen IPWL YPR Kobra Nusantara Kalsel saat mengikuti rangkaian Family Support Group di kawasan Wisata Danau Seran, Banjarbaru, Sabtu (29/8).
MENGIKUTI: Para residen IPWL YPR Kobra Nusantara Kalsel saat mengikuti rangkaian Family Support Group di kawasan Wisata Danau Seran, Banjarbaru, Sabtu (29/8). 

Keluarga Diminta Beri Dukungan dan Kepercayaan

Para pasien rehabilitasi perlu memiliki kemampuan menghadapi tekanan dan persoalan tanpa kembali menggunakan narkotika. Kemampuan itu tidak selalu lahir dalam waktu singkat. Perlu latihan dan dukungan dari lingkungan sekitar. 

Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan M. Farhanie melalui Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Selamat Riadi menyampaikan dukungan terhadap kegiatan Family Support Group untuk para pasien rehabilitasi. 

Menurut Selamat, pemulihan tidak hanya menyangkut residen. Hubungan dengan keluarga juga harus dibangun kembali. "Kami mendukung penuh kegiatan ini. Semoga dapat menanamkan kembali nilai-nilai luhur, etika, dan sikap perilaku anak terhadap orang tua," katanya.

Setelah rehabilitasi selesai, keluarga diharapkan tetap memberikan dukungan dan kepercayaan. 

Kepercayaan itu mungkin tidak langsung kembali seperti semula. Namun harus dibangun sedikit demi sedikit.

"Kami mengharapkan seluruh orang tua dan keluarga memberikan dukungan dan kepercayaan setelah mereka selesai menjalani rehabilitasi," ujar Selamat.

Di Danau Seran hari itu, Muluk dan Brembe hanyalah dua dari puluhan residen yang sedang menjalani perjalanan panjang tersebut.

Muluk datang setelah keluarganya mengetahui penggunaan sabu dan obat-obatan. Brembe menjalani rehabilitasi melalui proses pelimpahan kepolisian.

Namun, keduanya bertemu pada satu titik yang sama. Mereka sedang belajar berubah dan mendapatkan kembali kepercayaan orang-orang terdekat.

Mencuci kaki orang tua mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Namun maknanya jauh lebih panjang. Ada hubungan yang ingin diperbaiki. Serta rasa bersalah yang harus dihadapi dan kepercayaan yang perlu dibangun kembali.

 

Muluk sudah membayangkan masa depan itu. Ia ingin tetap membantu orang lain dan menjadi bagian dari tempat yang pernah membantunya memahami arti pemulihan.

Brembe pun mulai memahami bahwa rehabilitasi bukan sekadar tempat untuk dikurung. Ada kehidupan yang harus dipelajari kembali sebelum seseorang benar-benar siap kembali ke tengah masyarakat.(al/ris) 

Editor : Arief M
Berita Banjarbaru narkoba rehabilitasi