RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Tanah di Pengayuan, Kecamatan Liang Anggang, tampak menghitam. Sisa vegetasi yang terbakar berserakan di permukaan lahan. Di sejumlah titik, asap putih masih mengepul dari balik hamparan gambut yang terbakar.
*****
Di tengah lahan itu, selang pemadam membentang panjang. Air disemprotkan ke titik-titik yang masih mengeluarkan asap. Di dekatnya, mesin pompa portable terus bekerja, menjadi andalan para relawan untuk menjangkau sumber bara.
Medannya tak mudah. Relawan harus masuk ke area yang sebagian telah berubah menjadi lahan hitam akibat kobaran api. Asap tebal sesekali menutup pandangan. Namun, pekerjaan belum selesai hanya karena kobaran besar tak lagi terlihat.
Di lahan gambut, bara bisa tetap tersimpan di bawah permukaan. Di lokasi seperti itulah M Ari Afriza, 21, bersama anggota Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Cartel Banjarmasin, berkali-kali menghabiskan waktunya.
Bukan sekali dua kali. Hampir setiap hari, mereka menempuh perjalanan dari Banjarmasin menuju Banjarbaru untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Kalau ada kebakaran lahan dan kami dapat informasi, sebisa mungkin kami berangkat,” ujar Ari.
BPK Cartel bermarkas di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin. Dari sana, perjalanan menuju titik karhutla di Banjarbaru menjadi rutinitas selama musim kemarau.
Berangkat siang, pulang malam. Dalam kondisi tertentu, mereka baru tiba kembali di Banjarmasin sekitar pukul 02.00 Wita. Lelah tentu menjadi bagian dari perjalanan itu. Namun, bagi Ari dan rekan-rekannya, rasa lelah bukan alasan untuk berhenti.
Setiap informasi kebakaran datang, yang terbayang bukan hanya api yang membakar lahan. Ada asap yang bergerak mengikuti angin dan berpotensi mengganggu kehidupan masyarakat.
Pengayuan menjadi salah satu lokasi yang cukup sering mereka datangi. Begitu pula Guntung Damar dan sejumlah titik karhutla lainnya di Banjarbaru.
Pemandangan lahan terbakar dan kepulan asap akhirnya menjadi sesuatu yang akrab bagi para relawan damkar.
Mereka datang dengan peralatan yang dimiliki. Salah satunya mesin pompa portable. Selang dibentangkan sejauh yang diperlukan untuk menjangkau titik api.
Tak ada fasilitas operasional khusus yang membiayai perjalanan mereka. BBM untuk unit dan mesin pompa dibeli dari uang yang dikumpulkan secara swadaya oleh anggota. Berapa pun uang yang terkumpul, selama dirasa cukup untuk membeli bahan bakar dan berangkat, mereka memilih jalan.
“Operasional kami dari urunan anggota. Seberapa pun yang terkumpul, kalau cukup untuk beli bensin dan berangkat, ya kami berangkat,” kata Ari.
Tak Ingin Dampak Karhutla Meluas
Di lahan gambut, api tidak selalu terlihat sebagai kobaran besar. Bara bisa menyebar dan bertahan di bawah permukaan. Karena itu, proses pemadaman membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Relawan damkar tidak cukup hanya memastikan api yang terlihat sudah padam. Asap yang masih mengepul menjadi tanda bahwa pekerjaan belum benar-benar selesai.
Setelah berjam-jam berada di lokasi karhutla di Banjarbaru, para relawan dari Banjarmasin kembali menghadapi perjalanan pulang.
Namun keesokan harinya, ketika informasi karhutla kembali masuk, perjalanan yang sama bisa kembali dilakukan.
Banjarmasin-Banjarbaru. Begitulah seterusnya sejak bulan Juli 2026.
Salah seorang relawan dari Banjarmasin, Ari mengaku ada satu alasan sederhana yang membuat dirinya dan anggota BPK Cartel tetap bersedia turun ke lapangan. Yakni, kemanusiaan.
Mereka tidak ingin dampak karhutla semakin luas. Terutama asap yang bisa mengganggu kesehatan masyarakat. “Yang paling utama karena kemanusiaan. Kami juga tidak ingin keluarga kami sakit karena kabut asap karhutla,” tuturnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Ari, alasan tersebut cukup untuk membuatnya kembali mengenakan perlengkapan dan ikut berangkat ketika panggilan datang.
Ia sadar pekerjaan itu memiliki risiko. Harus berhadapan dengan asap. Masuk ke lahan yang terbakar. Bekerja di bawah terik matahari. Kemudian menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk kembali ke Banjarmasin ketika malam telah larut.
Semua dilakukan tanpa bayaran khusus. Yang mereka punya hanya peralatan yang bisa dibawa, uang urunan untuk membeli bahan bakar, serta tenaga para anggota.
Di tengah keterbatasan itu, mereka tetap memilih hadir. Sebab bagi para relawan BPK Cartel, karhutla bukan sekadar api yang membakar semak dan lahan gambut. Di balik kepulan asap ada masyarakat yang harus menghirup udara tercemar.
Karena itulah, ketika bara masih menyala di Pengayuan, Guntung Damar, atau titik lainnya di Banjarbaru, Ari dan rekan-rekannya kembali menempuh jalan dari Banjarmasin.
Mungkin mereka berangkat siang dan baru pulang ketika malam hampir berganti pagi. Namun selama masih ada kemampuan untuk membantu, mesin pompa masih bisa dinyalakan, dan bahan bakar masih cukup untuk membawa mereka ke lokasi, perjalanan itu akan terus dilakukan. (al/ris)
Editor : Arief M