RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Sempat ingin menyerah setelah kehilangan ayah, pengusaha muda asal Landasan Ulin ini bangkit, menembus Top 10 nasional dan menjadi Wirausaha Muda Berprestasi Terbaik Kalsel.
***
Hanya punya modal Rp200 ribu, Noor Zaidah memberanikan diri memulai usaha pada 2022.
Uang tersebut dikumpulkannya dari penghasilan sebagai asisten setiap pekan, saat masih kuliah di STAI Al Falah Banjarbaru, sekaligus jadi santriwati di Pondok Pesantren Al Falah Puteri.
Bukan modal besar. Bahkan, Zaidah sempat bingung uang itu hendak digunakan untuk apa. “Kalau untuk jajan, tentu cepat habis,” cetusnya.
Ia kemudian melihat peluang di lingkungan kampus. Saat itu, kebutuhan bunga untuk seminar proposal maupun sidang mulai bermunculan. Bisnis buket pun belum seramai sekarang.
Zaidah mencoba mengambil kesempatan tersebut. Ia kemudian mempertaruhkan uang Rp200 ribu untuk memulai usaha. Lima lembar kertas, satu bunga, plester, serta sejumlah bahan sederhana menjadi awal perjalanan Zaidah Florist.
Ia belajar membuat produk secara otodidak melalui YouTube. Produk pertama yang dibuatnya berupa buket snack. Hasilnya kemudian diunggah ke media sosial. Tak disangka, seorang teman kampus tertarik dan melakukan pembelian. “Di situ saya, Masya Allah Tabarakallah, ternyata ada yang suka,” kenangnya.
Satu pesanan menjadi pemantik. Zaidah terus mencoba dan mengembangkan usahanya. Pada masa awal, Zaidah Florist bahkan belum memiliki toko. Modal fisiknya sangat sederhana. “Pertama kali tidak punya toko, hanya punya lima lembar kertas dan satu bunga,” katanya.
Usaha itu dikerjakan di sela-sela kuliah. Ketika memiliki waktu senggang, ia membuat pesanan. Saat ada kesempatan, Zaidah kembali belajar dan mengembangkan produk.
Sempat Ingin Menyerah dan Menutup Usaha
Zaidah Florist kini telah memiliki toko offline, meski ukurannya belum besar. Pelanggan pun terus berdatangan.
Produk yang ditawarkan ikut berkembang. Dari semula bunga kertas, kini Zaidah mulai merambah bunga segar.
Perjalanan tersebut sempat berada di titik terberat. Pada 2024, ayah Zaidah meninggal dunia. Kehilangan itu membuat semangatnya runtuh. Usaha yang selama ini dibangun mendadak terasa kehilangan tujuan.
Zaidah mengakui pernah berada di titik ingin berhenti. “Bohong sekali kalau saya tidak pernah ada di titik yang ingin menyerah, ingin tutup, ingin gulung tikar,” ujarnya.
Kepergian sang ayah juga memunculkan pertanyaan dalam dirinya. Untuk siapa lagi usaha yang selama ini dibangun itu akan dibanggakan?
“Abah saya berpulang. Di situ saya merasa sebenarnya sepertinya sia-sia selama ini. Kepada siapa saya membanggakan usaha yang sudah berdiri seperti itu,” kenangnya.
Namun, hidup harus terus berjalan. Sekitar enam bulan kemudian, Zaidah perlahan bangkit. Justru setelah melewati masa terberat tersebut, pintu prestasi mulai terbuka.
Pada 2025, ia mengikuti BAZNAS Santripreneur dan berhasil masuk Top 10 tingkat nasional. Prestasi itu bukan sekadar menambah daftar penghargaan. Pengalaman mengikuti program tersebut ikut mengubah cara Zaidah melihat bisnis.
Ia mendapatkan materi tentang business model canvas, pengelolaan keuangan, hingga membangun sistem usaha.
Bagi Zaidah, ilmu tersebut penting agar bisnis tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi memiliki sistem yang tetap berjalan meski pemilik tidak berada di tempat. “Supaya usaha kita ketika kita tinggal tetap berjalan,” katanya.
Pengalaman itu sekaligus memperluas relasi dan membuka wawasannya. Ia bertemu dengan pelaku usaha dari berbagai daerah dan belajar bahwa untuk berkembang, seorang pengusaha tidak boleh mudah menyerah.
Pengalaman tersebut kemudian dibawa Zaidah dalam kompetisi Wirausaha Muda Berprestasi Kalsel 2026.
Di hadapan dewan juri, ia tidak hanya mempresentasikan produk. Strategi pemasaran digital dan cara membangun kepercayaan pelanggan menjadi bagian penting yang diangkatnya.
Tekad Lebih Mahal dari Modal
Di balik perjalanan bisnisnya, ada identitas yang tidak dilepaskan Zaidah: santri dan kader PMII.
Pendidikan di Al Falah membentuk sejumlah nilai yang kemudian dibawa Zaidah ke dunia usaha. Salah satunya adalah tidak mudah berputus asa. Nilai lainnya adalah amanah dan menjaga kepercayaan.
Bagi Zaidah, kepercayaan pelanggan merupakan modal yang harus dijaga. “Harus amanah menjaga kepercayaan orang lain. Karena ada pepatah, karena setitik rusak susu sebelanga,” ujarnya.
Kini, Zaidah juga dipercaya sebagai Ketua KOPRI PKC PMII Kalsel periode 2025–2026. Karena itu, prestasi sebagai wirausaha muda tidak hanya dimaknainya sebagai pencapaian pribadi.
Ia ingin membuktikan bahwa perempuan, khususnya kader muda, juga mampu menghasilkan karya dan memberikan dampak. “Saya membuktikan bahwa saya dan perempuan itu bisa berdampak dan bisa berprestasi,” katanya.
Prestasi Top 10 BAZNAS Santripreneur 2025 kemudian dilanjutkan dengan Juara I Wirausaha Muda Berprestasi Kalsel 2026. Dua capaian itu menjadi penanda perjalanan baru Zaidah.
Target berikutnya bukan sekadar memiliki toko yang lebih besar. Ia ingin Zaidah Florist dikenal lebih luas.
Jenis produk pun terus dikembangkan. Setelah sebelumnya fokus pada bunga kertas, kini bunga segar mulai diperbanyak.
“Target saya adalah memperbesar Zaidah Florist, tidak hanya lewat bangunan fisik, namun dikenal oleh lebih banyak orang dan memperbanyak item yang saya jual,” katanya.
Bagi Zaidah, ukuran kesuksesan bukan semata-mata seberapa besar toko yang dimiliki. “Yang lebih penting adalah usaha tersebut terus tumbuh dan memberikan manfaat,” ungkapnya.
Empat tahun setelah memulai dengan Rp200 ribu, Zaidah kini memiliki pandangan berbeda tentang modal. Uang memang penting. Namun, menurutnya, bukan modal terbesar. “Kemauan, tekad, dan keberanian untuk memulai justru lebih mahal,” tegasnya.
Karena itu, ia berpesan kepada santri dan mahasiswa yang ingin berwirausaha agar tidak terlalu banyak mencari alasan karena keterbatasan modal. "Allah sudah ngasih kita tangan dan akal untuk berpikir. Itu menurut saya modal paling besar,” ujarnya.
Teknologi digital, kata dia, juga memungkinkan seseorang mulai berjualan dengan keterbatasan modal. Ia sendiri menggunakan sistem reseller untuk memperluas pasar.
Produk dapat diambil terlebih dahulu oleh reseller, kemudian pembayaran dilakukan setelah produk terjual kepada pelanggan.
Dari pengalaman tersebut, Zaidah belajar bahwa kesempatan sering kali datang setelah seseorang berani mengambil langkah pertama. Kini, ketika melihat kembali uang Rp200 ribu yang menjadi titik awal, ia tidak lagi menganggapnya sebagai modal kecil. (al/ris)
Editor : Arief M