Dari Bilik Suara ke Pintu-Pintu Warga, Begini Kisah Normadina Mantan Komisioner KPU Banjarbaru

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 15:10 WIB
SENSUS: Normadina (kiri) saat melakukan Sensus Ekonomi 2026 di Kompleks Balittra Banjarbaru.
SENSUS: Normadina (kiri) saat melakukan Sensus Ekonomi 2026 di Kompleks Balittra Banjarbaru. 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Lama menggeluti sengitnya dinamika politik kota sebagai komisioner Bawaslu dan KPU, Normadina kini meniti lorong-lorong RT dan menjadi ujung tombak Badan Pusat Statistik (BPS).

        *****

Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di atas jalan-jalan di Kelurahan Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara. 

Untuk sebagian orang, senja menjadi penanda usainya aktivitas dan saatnya kembali ke rumah. Namun, bagi Normadina, justru pada waktu itulah pekerjaannya dimulai.

Perempuan yang akrab disapa Dina itu merapikan berkas di tangannya sebelum melangkah menuju rumah-rumah warga. Senyumnya mengembang ketika menyapa seorang penghuni yang baru saja membuka pagar.

Wajah Dina tentu bukan sosok asing bagi masyarakat Banjarbaru. Bertahun-tahun ia berkecimpung di dunia penyelenggara pemilu, mulai dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) hingga Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Banjarbaru. 

Dina terbiasa menghadapi dinamika politik, mengawal jalannya demokrasi, dan memastikan setiap suara rakyat terjaga. Kini, panggung politik telah ia tinggalkan. Namun, pengabdiannya kepada masyarakat belum berhenti.

Ia memilih menjalani peran baru sebagai Pemeriksa Lapangan (PML) pada Sensus Ekonomi (SE) 2026 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS).

Baginya, pekerjaan baru itu masih memiliki benang merah dengan profesi yang pernah dijalaninya.

"Sebenarnya benang merahnya masih sama. Sama-sama berinteraksi langsung dengan masyarakat dan menggali akurasi data. Hanya saja tantangannya yang berbeda," ujarnya di sela kesibukan.

Jika dulu ia berkutat dengan daftar pemilih, partisipasi masyarakat, hingga sengketa pemilu, kini fokusnya bergeser pada denyut perekonomian warga. 

Yang didata bukan lagi suara pemilih, melainkan aktivitas usaha, mulai dari pelaku UMKM, usaha menengah, hingga berbagai unit usaha yang menjadi penopang ekonomi masyarakat.

Peralihan itu bukan tanpa tantangan. Dari ruang rapat berpendingin udara, Dina kini lebih sering menyusuri gang-gang permukiman dan mengetuk pintu rumah warga. (bersambung) 

PENDATAAN: Normadina saat melakukan pendataan Sensus Ekonomi 2026.
PENDATAAN: Normadina saat melakukan pendataan Sensus Ekonomi 2026.

Alami Penolakan hingga Tak Dibukakan Pintu

Setiap rumah menghadirkan cerita yang berbeda bagi Dina. Tak jarang, proses pendataan berubah menjadi ruang berbagi cerita. 

Setiap kali melakukan pendataan, Dina sering mendengarkan keluh kesah warga tentang usaha yang sedang lesu, daya beli yang menurun, hingga berbagai tantangan ekonomi yang mereka hadapi.

Namun, tantangan terberat justru datang ketika pintu tak kunjung terbuka atau tatapan penuh curiga menyambut dari balik pagar. "Pernah ada penolakan. Sikap antipati itu pasti ada," kenang Dina. 

Pengalaman panjang berinteraksi dengan publik menjadi bekal berharga bagi Dina. Ia memilih pendekatan persuasif, menjelaskan tujuan sensus dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami masyarakat.

"Kami selalu tegaskan bahwa data ini bukan untuk urusan pajak ataupun kepentingan komersial. Data yang dikumpulkan akan diolah BPS menjadi data agregat sebagai dasar penyusunan kebijakan pemerintah yang sesuai dengan karakteristik daerah," tuturnya.

Sebagai Pemeriksa Lapangan, tugas Dina tak hanya memastikan kualitas data. Ia juga memimpin tujuh Petugas Lapangan Sensus (PPL) yang setiap hari turun melakukan pendataan.

Peran tersebut menuntut kemampuan mengatur strategi agar pekerjaan berjalan efektif.

 

Di wilayah perkotaan seperti Banjarbaru Utara, sebagian besar warga beraktivitas sebagai pekerja. Mendatangi rumah pada pagi atau siang hari sering kali hanya berakhir di depan pintu yang terkunci.

Karena itu, Dina bersama tim menyusun pola kerja yang lebih adaptif. Langkah pertama selalu diawali dengan berkoordinasi bersama ketua RT setempat. Dari mereka, tim memperoleh gambaran mengenai karakteristik dan pola aktivitas warga sebelum menentukan jadwal pendataan.

"Kami biasanya bertanya kepada Pak RT, mayoritas warganya bekerja di bidang apa. Dari situ kami menyusun jadwal. Kalau kebanyakan bekerja di siang hari, kami membuat janji atau turun sore hingga malam saat mereka sudah berada di rumah," jelasnya.

Bagi Dina, sensus bukan sekadar mengumpulkan angka. Di balik setiap formulir yang terisi, ada cerita tentang perjuangan pelaku usaha, denyut ekonomi keluarga, dan potret nyata kehidupan masyarakat yang kelak menjadi dasar lahirnya berbagai kebijakan pembangunan. (al/ris) 

Editor : Arief M
Berita Banjarbaru KPU Banjarbaru sosok inspiratif