Nekat Melompat ke Laut, Kepala Terbentur Besi Kapal, Begini Kisah Mia, Selamat dari Tragedi KM Virgo

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 20:05 WIB
PERAWATAN: Korban selamat KM Virgo Transport 8, Mia Melinda (28), menjalani perawatan intensif di RS TNI AU Lanud Sjamsudin Noor.
(Sheilla/Radar Banjarmasin)
PERAWATAN: Korban selamat KM Virgo Transport 8, Mia Melinda (28), menjalani perawatan intensif di RS TNI AU Lanud Sjamsudin Noor. (Sheilla/Radar Banjarmasin) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Tiga hari setelah KM Virgo Transport 8 tenggelam di perairan Laut Jawa, napas lega akhirnya dirasakan Mia. Korban selamat yang dievakuasi melalui udara itu kini berangsur pulih setelah melewati malam panjang di tengah laut.

    ***

Mia Melinda masih menjalani perawatan medis di Rumah Sakit TNI AU Lanud Sjamsudin Noor, Kota Banjarbaru. Sang suami, Sutopo, setia mendampingi di sisi tempat tidurnya.

Warga asal Kendal, Jawa Tengah, itu sebelumnya dievakuasi menggunakan Helikopter Dauphin HR 3601 milik Basarnas dan mendarat di Lanud Sjamsudin Noor pada Senin (14/9) sekitar pukul 14.00 Wita.

Namun, sebelum dievakuasi melalui udara, perempuan 28 tahun itu terlebih dahulu bertahan hidup dengan mengandalkan jaket pelampung setelah melompat ke laut ketika kapal yang ditumpanginya terbalik.

Saat ditemui di rumah sakit, Rabu (16/9), kondisi Mia sudah jauh lebih baik. "Kondisinya sudah mendingan dan jauh lebih enakan. Sekarang sudah ada suami yang mendampingi," ujarnya. 

Mia merupakan kru musik di kapal rute Surabaya-Banjarmasin tersebut. Ia baru sekitar satu minggu bekerja di kapal itu ketika musibah terjadi.

Malam itu, suasana di atas kapal berubah mencekam ketika cuaca buruk menghantam. Ombak besar mengguncang badan kapal. Suara ketukan keras berulang kali terdengar dari bagian kapal.

Di tengah situasi tersebut, Mia mengaku sudah memiliki firasat kurang menyenangkan sejak awal keberangkatan.

Kepanikan memuncak saat malam semakin larut. Posisi kapal perlahan miring hingga koridor kapal terasa seperti menanjak. Sejumlah kru dari dek bawah berlarian menuju lantai atas sambil membangunkan dan memperingatkan para penumpang.

 

Mia yang belum hafal jalur evakuasi karena baru sepekan bekerja di kapal tersebut tak punya banyak pilihan. Ia berlari menuju bagian atas kapal dan memanjat hingga dek paling atas.

"Posisi kapal sudah miring sekali. Saya bertahan di railing (pagar) kapal atas, lalu nekat melompat tepat saat kapal terbalik penuh. Kepala saya sempat terbentur besi-besi kapal. Kalau tidak nekat lompat, mungkin saya sudah ikut tenggelam ke bawah," ungkapnya.

Keputusan untuk melompat menjadi titik penting dalam perjuangannya bertahan hidup.

Dengan mengenakan jaket pelampung, tubuh Mia terlempar cukup jauh dari badan kapal. Kondisi itu membuatnya terhindar dari pusaran air yang muncul ketika kapal tenggelam.

Namun, perjuangan belum berakhir. Mia terombang-ambing seorang diri di laut lepas sejak tengah malam hingga sekitar pukul 05.00 Wita. Dalam gelapnya malam, ia hanya bisa bertahan sembari menunggu pertolongan datang.

Harapan itu akhirnya muncul ketika sebuah kapal tunda atau tugboat bersama tongkang melintas di sekitar lokasi kejadian. 

SELAMAT: Korban selamat KM Virgo Transport 8, Mia Melinda (28), menjalani perawatan intensif di RS TNI AU Lanud Sjamsudin Noor.
(Sheilla/Radar Banjarmasin)
SELAMAT: Korban selamat KM Virgo Transport 8, Mia Melinda (28), menjalani perawatan intensif di RS TNI AU Lanud Sjamsudin Noor. (Sheilla/Radar Banjarmasin) 

Suami Sempat Dilanda Kecemasan

Mia berhasil diselamatkan. Akan tetapi, berbeda dengan sejumlah korban selamat lainnya yang kemudian dipindahkan ke Kapal Haida, ia harus tetap berada di atas tongkang untuk mendapatkan penanganan khusus dari tim SAR

Cedera lebam berat pada bagian kaki membuat Mia tidak mampu memanjat tangga kapal.

Di daratan, pada waktu yang hampir bersamaan, sang suami, Sutopo, justru tengah menghadapi kecemasan yang tak kalah berat.

 

Saat musibah terjadi, Sutopo berada di Kalimantan Timur. Kontak dengan Mia terputus total sejak sekitar pukul 02.20 Wita.

Kecemasannya semakin menjadi ketika daftar korban selamat dari Kapal Haida yang dirilis pada Minggu (13/9), seluruhnya berjenis kelamin laki-laki. Nama Mia tidak tercantum.

"Waktu lihat data korban selamat semuanya laki-laki, tidak ada nama istri saya, badan saya langsung lemas. Saya cuma bisa ngabarin mertua dan nunggu keajaiban," tutur Sutopo.

Keajaiban yang ditunggu itu akhirnya datang pada Senin (14/9) sore. Sutopo menerima pesan singkat yang berasal dari akun resmi Basarnas di media sosial TikTok. Informasi tersebut mengonfirmasi keberadaan Mia sekaligus memastikan bahwa istrinya selamat.

Kecemasan yang sejak malam sebelumnya menghantui perlahan berubah menjadi kelegaan. Setelah dievakuasi melalui udara, Mia kemudian mendapatkan perawatan di Rumah Sakit TNI AU Lanud Sjamsudin Noor.

Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, mengatakan kondisi Mia stabil dan terus dipantau tim medis.

"Kondisi pasien secara umum selamat dan sudah bisa berkomunikasi dengan baik. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan ada cedera lebam dan luka ringan di bagian kepala," terang Hilman.

Pihak rumah sakit juga telah melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh serta rontgen untuk memastikan tidak terdapat cedera dalam yang serius.

Untuk proses pemulangan Mia ke Kendal, pihak Lanud Sjamsudin Noor akan berkoordinasi dengan Basarnas dan instansi terkait. Pemulangan akan dilakukan setelah tim dokter memberikan rekomendasi atau persetujuan medis. (al/ris) 

Editor : Arief M
KM Virgo Transport 8 kapal tenggelam