RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Pagi itu, Aira berangkat sekolah seperti biasa. Namun, perjalanannya tak seperti hari-hari sebelumnya. Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti setiap langkahnya.
****
Aira terpapar asap cukup tebal saat berangkat sekolah. Setelah itu, kondisi tubuhnya mulai terganggu. Batuk, pilek, dan demam muncul. Hingga akhirnya, ia harus mendapatkan perawatan di RSD Idaman Banjarbaru.
Menurut sang ibu, Nunung, Aira dibawa ke rumah sakit setelah mengalami keluhan kesehatan usai terpapar asap.
Alih-alih duduk di bangku sekolah, Aira justru harus menjalani rawat inap.
Sudah dua hari siswi asal Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, itu mendapat perawatan ketika Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka datang ke RSD Idaman Banjarbaru, Kamis (10/9) sore.
Gibran datang untuk meninjau pelayanan kesehatan sekaligus memastikan kesiapan fasilitas kesehatan menghadapi dampak karhutla.
Di antara pasien yang ditemuinya, ada Aira. Pertemuan itu menjadi pengalaman yang tak disangka-sangka bagi siswi tersebut. Sosok yang selama ini hanya ia lihat melalui televisi, kini datang langsung dan berbincang dengannya di rumah sakit.
Aira pun mengaku senang mendapat kesempatan tersebut.
Bagi Nunung, pertemuan itu juga menjadi pengalaman pertama bertemu langsung dengan seorang wakil presiden. “Senang banget,” ujar Nunung.
Ia mengungkapkan, Gibran sempat menanyakan kondisi Aira. Persoalan asap akibat kebakaran juga menjadi bagian dari pembicaraan mereka.
Nunung mengatakan, kondisi asap di sekitar tempat tinggalnya memang cukup mengkhawatirkan. Ia menyebut banyak terjadi kebakaran di wilayah tersebut sehingga asap turut dirasakan masyarakat.
Bagi keluarga Aira, karhutla bukan lagi sekadar kepulan asap yang terlihat dari kejauhan.
Dampaknya terasa langsung ketika sang anak terpapar asap dalam perjalanan menuju sekolah. Jatuh sakit, hingga akhirnya harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Pengalaman itu membuat persoalan kabut asap terasa semakin dekat dengan keluarga Nunung. Ia berharap kebakaran yang menjadi sumber asap segera ditangani sehingga masyarakat, terutama anak-anak, dapat kembali beraktivitas dengan aman.
“Mudah-mudahan kebakarannya cepat padam, asapnya cepat hilang. Kasihan anak-anak,” harap Nunung.
Jadi Gambaran Tentang Dampak Karhutla
Perjalanan Aira menuju sekolah memang hanya berlangsung dalam hitungan waktu. Namun, dampaknya membuat aktivitas belajar harus terhenti.
Ada bangku sekolah yang sementara harus ditinggalkan. Ada pula seorang anak yang harus menggantinya dengan ranjang rumah sakit.
Kisah Aira menjadi gambaran kecil tentang bagaimana dampak karhutla dapat menjalar jauh dari lokasi lahan yang terbakar. Asap bergerak mengikuti arah angin, memasuki permukiman, mengganggu aktivitas warga, hingga akhirnya berhadapan dengan persoalan kesehatan.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika kualitas udara memburuk.
Kepala Staf Medis Fungsional Anak RSD Idaman Banjarbaru, Dr. dr. Harapan Parlindungan Ringoringo, Sp.A, Subsp.H.Onk(K), mengatakan persoalan asap harus ditangani dari sumbernya.
Menurut dia, penanganan terhadap masyarakat yang sudah terdampak asap saja tidak cukup. Kebakaran yang menjadi sumber asap juga harus segera dihentikan.
“Bagaimana caranya ini asap segera berhenti, entah pakai hujan buatan, entah pakai apa, karena sumber utamanya kan kebakarannya,” ujarnya.
Dokter yang telah sekitar 30 tahun bekerja di daerah tersebut mengatakan, kabut asap seperti yang terjadi saat ini bukan kali pertama muncul.
Kondisi serupa, menurutnya, biasanya terjadi dalam rentang beberapa tahun sekali. Namun, kondisi tahun ini dinilainya lebih luar biasa dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sekitar tiga sampai empat tahun sekali kayak begini. Tidak setiap tahun, tapi yang saat ini memang luar biasa dibandingkan tahun lalu,” katanya.
Karena itu, ia berharap mitigasi terhadap dampak kabut asap turut diperkuat.
Penanganan, kata Harapan, tidak semestinya baru dilakukan ketika asap sudah menyelimuti permukiman dan masyarakat mulai berdatangan ke fasilitas kesehatan.
Upaya pencegahan harus berjalan lebih awal agar paparan asap tidak semakin meluas, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak. (al/ris)
Editor : Arief M