RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Di mata daerah luar, warga Kalimantan Selatan kelewat sabar. Kehidupan yang aslinya penuh cobaan, justru dijahit menjadi meme siklus hidupan. Alias, puncak sarkasme yang dikemas menjadi lelucon di media sosial.
****
Bukan tanpa alasan, meme siklus kehidupan berkaitan dengan rentetan pengalaman yang terlalu sering berulang. Sampai akhirnya, terasa seperti bagian dari kalender tahunan.
Awal dan akhir tahun, banjir kembali menyambut. Jalan tergenang, permukiman kebanjiran, bahkan sebagian rumah harus menerima air masuk ke dalam.
Setelah surut, kehidupan berjalan lagi seolah tidak terjadi apa-apa, sebelum pada tahun berikutnya persoalan serupa kembali datang.
Ketika musim kemarau tiba, ceritanya berganti. Karhutla membuat kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah.
Masker kembali dipakai, aktivitas sekolah bisa terganggu, sementara fasilitas kesehatan menghadapi warga yang mengalami gangguan pernapasan.
Di tengah kondisi itu, warga tetap harus menjalani rutinitas. Termasuk mengisi BBM.
Ketika harga Pertamax naik, antrean Pertalite ikut menjadi pemandangan yang ramai diperbincangkan.
Warga harus berhadapan dengan antrean panjang, sementara kendaraan yang digunakan untuk melangsir BBM menjadi pesaing di barisan yang sama. Saking panjangnya antrean, sabar pun seolah menjadi keahlian tambahan. Yang tidak sempat atau tidak kuat menunggu tinggal membeli eceran. Harganya? Tinggal pilih, Rp12 ribu atau Rp13 ribu per liter.
Selesai urusan BBM, belum tentu persoalan selesai ketika sampai di rumah. Pada musim kemarau, distribusi air bersih bisa tidak stabil. Sebagian warga bahkan harus menghadapi aliran yang mati total.
Listrik pun sesekali ikut padam, membuat daftar keluhan semakin panjang. Kemudian siklus itu kembali berputar.
Di sinilah sarkasme terasa paling kuat. Warga Kalsel memang penyabar. Meme tersebut lucu ketika dilihat sekilas, tetapi semakin diperhatikan justru terasa menyedihkan.
Di balik humor itu ada pengalaman yang benar-benar dialami. Lelucon menjadi cara untuk mengataan “begini ini lah hidup kami.”
Masalahnya, jika sesuatu terlalu sering dijadikan bahan bercanda, ada risiko persoalan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, dampaknya tidak pernah benar-benar lucu.
Maka, meme sebenarnya bukan tanda warga Kalsel tidak peduli. Sebaliknya, meme bisa menjadi bentuk kritik paling sederhana, akibat terlalu sering berhadapan dengan masalah yang sama.
Lantas bagaimana kaca mata Gen Z memandang fenomena tersebut?
Ahmad Rais menilai, meme yang dibuat warga Kalsel justru merupakan bentuk kritik yang cukup pedas terhadap persoalan daerah yang terus berulang.
Ia menilai, banjir saat musim hujan, kebakaran karhutla ketika kemarau, hingga persoalan pelayanan dasar bukanlah masalah yang datang tanpa pola.
“Pemangku kepentingan daerah seharusnya sudah paham dan hafal permasalahan di daerah ini yang polanya pasti berulang. Seluruh persoalan bukan baru datang sore kemarin,” ujarnya, Minggu (20/9/2026).
Menurutnya, berulangnya persoalan tersebut semestinya diikuti dengan mitigasi dan persiapan sejak awal.
Meme yang beredar justru menunjukkan bagaimana masyarakat telah begitu akrab dengan pola masalah tersebut.
“Penyuaraan warga melalui meme ini bukan berarti sudah menganggap masalah itu biasa, melainkan betapa biasanya masyarakat dengan ketidakpuasan penanganan,” katanya.
Ia menilai, kondisi tersebut juga dapat menjadi gambaran tentang tingkat kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah daerah.
Terlebih, menurutnya, persoalan yang sama masih kerap muncul meski sebelumnya telah mendapat perhatian publik.
“Bayangkan saja pola yang berulang dan mudah dipahami. Masa tidak ada mitigasi awal sebelum itu terjadi,” singgungnya.
Sementara itu, Putri Salsabila melihat kemunculan meme dari sisi yang sedikit berbeda.
Menurutnya, warga Kalsel bisa saja sudah lelah menghadapi persoalan yang terus berulang.
Ketika keluhan dirasa tidak banyak mengubah keadaan, masalah tersebut kemudian diubah menjadi lelucon agar lebih mudah dihadapi.
“Mungkin karena warga Kalsel sudah sangat muak dengan segala permasalahan yang terus terulang akhir-akhir ini, sehingga warga Kalsel lebih memilih menjadikannya jokes daripada terus mengeluh tapi tidak ada perubahan,” tuturnya.
Menurut Putri, menjadikan persoalan sebagai bahan humor juga bisa menjadi cara seseorang mengurangi beban psikologis dari situasi yang tidak menyenangkan.
Dengan membuat lelucon, masalah yang berat seolah dapat diterima dengan cara yang lebih ringan.
“Sekaligus membohongi diri supaya masalah yang dihadapi tidak tambah berat, dan melarikannya menjadi lelucon,” katanya.
Namun, Putri menegaskan bahwa meme tidak serta-merta menunjukkan masyarakat telah menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang wajar.
Sebaliknya, humor bisa menjadi medium kritik yang disampaikan secara sarkastis. Di saat bersamaan, meme juga dapat menjadi hiburan bagi masyarakat ketika menghadapi kondisi yang tidak mengenakkan.
“Belum tentu itu berarti warga sudah menganggap masalah itu biasa. Bisa jadi itu adalah salah satu cara warga Kalsel untuk memberi kritikan, tetapi dengan cara yang sarkas. Bisa juga sebagai hiburan diri sendiri dalam menghadapi kondisi yang tidak mengenakkan saat ini,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengingatkan ada titik ketika siklus tersebut menjadi berbahaya. Yakni saat masalah yang seharusnya ditangani justru dianggap biasa hanya karena terlalu sering terjadi.
“Ketika masalah yang seharusnya ditangani malah dianggap biasa saja karena terlalu sering terjadi atau berulang-ulang,” pungkasnya. (van)
Editor : Arief MSumber : RADAR BANJARMASIN edisi cetak