Kisah Sauqi-Amnah, Pasangan Suami Istri Penghafal Al-Qur’an di MTQ Nasional

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 01:49 WIB

SERASI: Muhammad Sauqi dan Amnah Abdullah, pasangan suami istri asal Kalimantan Selatan, tampil pada cabang Tafsir Bahasa Inggris MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang. (Foto: Raju Jntuk/Radar Banjarmasin)
SERASI: Muhammad Sauqi dan Amnah Abdullah, pasangan suami istri asal Kalimantan Selatan, tampil pada cabang Tafsir Bahasa Inggris MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang. (Foto: Raju Jntuk/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura - Muhammad Sauqi dan Amnah Abdullah terbiasa menjadi teman menghafal Al-Qur’an di rumah. Kini, pasangan suami istri asal Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, itu sama-sama membawa kebiasaan tersebut ke panggung MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang.

Keduanya menjadi bagian Kafilah Kalimantan Selatan pada cabang Tafsir Bahasa Inggris. Cabang yang mempertemukan tiga kemampuan yang mereka bangun selama bertahun-tahun: hafalan Al-Qur’an, pemahaman tafsir, dan Bahasa Inggris.

Namun, perjalanan menuju panggung nasional itu tidak dimulai ketika mereka tiba di Semarang.

Jauh sebelumnya, rumah telah menjadi tempat Sauqi dan Amnah mengulang ayat, saling menyimak hafalan, membuka kitab tafsir, hingga berlatih menyampaikan kandungan Al-Qur’an dalam Bahasa Inggris.

Ada yang membaca, ada yang menyimak. Ada yang mengoreksi, ada pula yang mengingatkan. Peran itu mereka jalankan bergantian.

Bagi Sauqi, kedekatan dengan Al-Qur’an bermula sejak kecil.

“Sejak kecil saya sudah diperkenalkan dengan membaca Al-Qur’an. Kemudian tumbuh keinginan untuk tidak hanya membacanya, tetapi juga menghafal dan memahami kandungannya,” tuturnya.

Sauqi mulai menghafal Al-Qur’an ketika berusia 12 tahun. Amnah bahkan memulainya sejak usia 10 tahun.

Tahun demi tahun berlalu. Hafalan mereka bertambah hingga 30 juz. Namun, bagi keduanya, menyelesaikan hafalan bukan garis akhir.

Menjaga Hafalan Bersama

Sauqi dan Amnah memahami tantangan seorang penghafal Al-Qur’an bukan hanya menuntaskan 30 juz. Hafalan yang sudah dikuasai harus terus dijaga melalui murajaah.

Ada ayat yang cepat melekat. Ada pula yang harus berkali-kali diulang.

“Menghafal 30 juz bagi kami bukan perjalanan yang singkat. Menyelesaikan hafalan bukan berarti perjalanan selesai. Justru setelah 30 juz selesai, tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankannya,” ungkap mereka.

Karena itu, murajaah menjadi bagian dari keseharian pasangan tersebut. Mereka menyediakan waktu untuk mengulang hafalan lama, mempelajari tafsir, dan mengasah kemampuan Bahasa Inggris.

Prinsipnya sederhana. Mereka tidak menunggu memiliki waktu luang untuk membuka Al-Qur’an. Waktu untuk Al-Qur’an justru harus disediakan.

Kebiasaan itu kemudian menyatu dengan kehidupan rumah tangga mereka.

Ketika salah seorang sibuk, pasangannya mengingatkan. Saat salah seorang mulai lelah, yang lain memberikan semangat. Ketika hafalan terasa sulit, keduanya kembali saling menyimak.

“Di rumah bukan hanya berbagi kehidupan sebagai suami istri, tetapi juga berbagi perjuangan bersama Al-Qur’an,” kata keduanya.

Menjelang MTQ Nasional XXXI, kebiasaan tersebut menjadi semakin intensif. Mereka saling menguji hafalan, mendiskusikan ayat dan tafsir, serta berlatih menyampaikan materi dalam Bahasa Inggris.

Tidak ada pembagian tetap mengenai siapa yang mengajar dan siapa yang belajar. Keduanya bergantian mengambil peran.

“Kalau soal mengingatkan, sebenarnya kami saling mengingatkan. Kadang saya yang mengingatkan, kadang Amnah,” ujar Sauqi.

Amnah mengatakan, proses latihan dijalani tanpa menjadikannya sebagai beban bagi pasangan.

“Kami berusaha agar saling menguatkan, bukan saling membebani. Karena kami sama-sama tahu bahwa menjaga hafalan itu membutuhkan proses yang panjang,” katanya.

Tafsir Bahasa Inggris sendiri menuntut lebih dari sekadar kekuatan hafalan. Peserta juga harus memahami kandungan ayat dan mampu menyampaikannya dengan Bahasa Inggris yang baik.

“Tidak cukup hanya hafal ayat kalau tidak memahami kandungannya. Sebaliknya, memahami tafsir juga harus didukung kemampuan menyampaikan dengan bahasa yang baik,” jelas mereka.

Karena itu, persiapan Sauqi dan Amnah berjalan dalam tiga jalur sekaligus. Hafalan terus dimurajaah, tafsir dipelajari, sedangkan Bahasa Inggris terus diasah.

Proses panjang tersebut akhirnya membawa keduanya ke Semarang sebagai dua peserta yang sama-sama membawa nama Kalimantan Selatan.

Di arena, mereka memiliki tanggung jawab atas penampilan masing-masing. Namun, keberadaan pasangan tetap menjadi sumber kekuatan.

Orang yang biasanya menyimak hafalan di rumah kini berada di arena yang sama dan mengetahui persis panjangnya perjalanan menuju panggung nasional tersebut.

“Ada rasa haru ketika melihat pasangan juga berdiri di arena yang sama, berjuang dengan hafalan Al-Qur’an dan kemampuan yang dimilikinya. Rasanya seperti melihat sebagian dari perjuangan rumah tangga kami hadir di atas panggung MTQ,” ungkap mereka.

Perjalanan Tak Berakhir di Panggung

Bagi Sauqi dan Amnah, MTQ Nasional bukan semata-mata tentang siapa yang tampil lebih baik. Ada kebanggaan karena dapat membawa nama Kalimantan Selatan, tetapi hasil perlombaan tetap mereka tempatkan sebagai bagian dari ikhtiar.

Jika kelak mengenang MTQ Nasional XXXI di Semarang, keduanya ingin mengingat perjalanan menuju panggung tersebut.

Ada hafalan yang berulang kali dimurajaah, waktu belajar, proses saling menyimak, kelelahan yang dilewati bersama, serta dukungan orang tua dan guru.

“Kalau suatu hari nanti kami mengenang MTQ Nasional XXXI di Semarang, kami ingin mengingatnya bukan hanya sebagai sebuah perlombaan,” kata mereka.

Bagi keduanya, kemenangan juga tidak semata-mata berbentuk piala.

“Kemenangan yang paling utama adalah ketika Al-Qur’an semakin dekat dengan kehidupan kami dan perjalanan ini membuat kami semakin bersyukur kepada Allah,” imbuh Sauqi.

Setelah MTQ Nasional XXXI berakhir, peserta akan kembali ke daerah masing-masing. Arena perlombaan pun akan ditinggalkan.

Namun, bagi Sauqi dan Amnah, perjalanan bersama Al-Qur’an tidak ikut selesai.

Masih ada 30 juz yang harus dijaga. Masih ada tafsir yang perlu terus dipahami. Ada pula nilai-nilai Al-Qur’an yang ingin mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari.

Dan, ada rumah yang menjadi tempat keduanya melanjutkan semua itu.

Rutinitasnya mungkin kembali sederhana: membuka mushaf, mengulang hafalan, saling menyimak, saling mengingatkan, lalu kembali belajar.

Sebab, bagi Sauqi dan Amnah, Al-Qur’an bukan sekadar jalan yang membawa mereka dari Kabupaten Banjar menuju panggung MTQ Nasional.

Al-Qur’an adalah jalan yang ingin terus mereka tempuh bersama.

“Kami tidak ingin Al-Qur’an hanya mempertemukan kami di panggung MTQ. Kami ingin Al-Qur’an terus menemani kami sampai kembali ke rumah, sampai menjalani kehidupan sehari-hari, dan sampai akhir perjalanan kami,” lugas Sauqi. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
Sauqi dan Amnah MTQ Nasional 2026 Tafsir Bahasa Inggris Kafilah Kalimantan Selatan penghafal Al-Qur’an Banjar