Inflasi Rating Game Bola, Pemain Biasa Bisa Kalahkan Skuat Mewah

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 08:58 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Sebagai mantan penggemar game bola mobile, bermain eFootball dulu begitu mengesankan. Namun semakin lama, kesannya justru terbalik jika dibandingkan ketika masih bernama Pro Evolution Soccer (PES).

        ****

Dulu, main game sepak bola terasa lebih sederhana. Punya skuat biasa bukan berarti auto kalah dari lawan yang punya pemain bintang. Selama jago membaca permainan, pintar menyusun strategi, dan lihai mengontrol pemain, peluang menang tetap terbuka. Pengalaman seperti itu masih lekat di ingatan pemain lama PES.

Rating pemain pun dulu terasa lebih “bermakna”. Angka 93 sampai 96 sudah cukup bikin sebuah kartu dianggap spesial. Sekarang? Rating 100 bukan lagi sesuatu yang bikin melongo.

Di eFootball, kartu pemain baru terus bermunculan. Hampir setiap pekan, setiap bulan, atau mengikuti momen tertentu, selalu ada versi baru yang ditawarkan. Rating-nya pun makin tinggi, bahkan bisa menembus angka 110.

Zlatan Ibrahimovic, misalnya, bisa punya rating hingga 110. Pemain seperti Justin Hubner dan Ferdi Kadioglu juga bisa menembus rating 100.

Buat sebagian pemain lama, kondisi ini memunculkan satu istilah: inflasi rating.

Masalahnya bukan cuma angka yang makin tinggi. Ketika kartu dengan atribut super dikombinasikan dengan kartu biasa, pengalaman bermain juga bisa terasa berubah.

Kartu lawas yang dulu nyaman dipakai terkadang terasa tidak lagi sama. Passing bisa melenceng. Pergerakan pemain terasa berbeda. Bahkan skema permainan yang sudah menjadi kebiasaan bisa mendadak berantakan.

Akhirnya, pemain dituntut terus beradaptasi. Bukan cuma belajar gameplay, tetapi juga mengikuti kartu-kartu terbaru yang terus bermunculan.

Pertanyaannya kemudian sederhana: eFootball masih benar-benar mengutamakan skill pemain, ataukah sudah makin bergantung pada kualitas kartu?

Kartu Makin Berpengaruh

Akhmad Nor Irfansyah menilai skill pemain masih menjadi fondasi utama dalam eFootball. Kemampuan membaca permainan, menentukan posisi, mengatur timing, melakukan passing, bertahan, hingga mengambil keputusan tetap punya pengaruh besar terhadap hasil pertandingan. “Masih, tetapi tidak sepenuhnya. Skill pemain tetap berpengaruh besar. Mengambil keputusan tetap bisa menentukan hasil pertandingan,” ujar gamer asal Banjarmasin itu, Minggu (6/9).

Namun, menurut Irfan, kualitas kartu sekarang juga semakin sulit diabaikan. Atribut, player skill, playstyle, booster, hingga karakteristik khusus pada kartu bisa memberikan keuntungan tersendiri. Artinya, pemain yang punya skuat lebih kuat memang bisa mendapatkan keunggulan tertentu. “Skill masih menjadi fondasi, tetapi kualitas skuat semakin sulit diabaikan,” kata ASN ini.

Ia juga menyoroti soal rating yang semakin “gemuk”. Dulu, melihat pemain dengan rating 95 terasa istimewa. Sekarang, angka 100 lebih terasa biasa karena semakin banyak kartu yang melewati batas tersebut. “Angka tersebut tidak lagi memberikan sensasi yang sama,” jelasnya.

Menurut Irfan, kondisi ini berpotensi menciptakan power creep. Kartu baru secara perlahan dibuat semakin menarik atau kuat dibandingkan kartu-kartu sebelumnya. Efeknya, pemain yang ingin tetap kompetitif bisa merasa harus terus mengikuti perkembangan kartu. “Kalau ingin tetap kompetitif, saya harus mengikuti perkembangan kartu. Di titik tersebut, game bisa terasa seperti mengejar konten, bukan sekadar menikmati pertandingan,” tuturnya.

Meski begitu, Irfan tidak menganggap semua kartu baru sebagai masalah. “Bisa dua-duanya. Kartu baru justru membuat game tetap hidup. Ada sesuatu yang ditunggu, skuat bisa diperbarui, pemain favorit mendapatkan versi baru, dan ada alasan untuk kembali bermain,” katanya.

Yang menurutnya perlu dijaga adalah keseimbangan antara skill dan kekuatan kartu. “Yang paling mengkhawatirkan bukan rating 110-nya. Yang mengkhawatirkan adalah ketika pemain merasa untuk tetap menikmati permainan, mereka harus terus mengejar kartu terbaru,” ungkap pria 27 tahun ini.

Irfan berharap kartu baru ke depan lebih banyak memberikan variasi gaya bermain tanpa membuat kartu lama kehilangan relevansinya. Sebab, menurutnya, kemenangan paling memuaskan bukan ketika memiliki skuat paling mahal, tetapi ketika bisa mengalahkan lawan karena memang bermain lebih baik. “Game sepak bola yang paling menyenangkan bukanlah game ketika semua orang memiliki kartu dengan rating tertinggi. Tetapi ketika kita masih bisa berkata, ‘Gue kalah karena lawan memang lebih jago, bukan karena kartunya lebih mahal’,” tegasnya.

Rating Tinggi Makin Gampang

Pandangan lebih kritis disampaikan Luqmannul Hakim. Menurutnya, eFootball sekarang justru sudah tidak terlalu mengutamakan skill pemain. Salah satu penyebabnya adalah semakin mudahnya developer memberikan rating tinggi kepada pemain. “eFootball sekarang tidak mengutamakan skill pemain lagi, karena mudahnya menaruh rating,” nilainya.

Menurut Luqman, kondisi tersebut membuat sejumlah kartu terasa terlalu overrated. Inflasi rating juga membuat tantangan untuk mendapatkan pemain dengan rating tinggi tidak lagi seperti dulu.

Sekarang, pemain dengan rating 100 ke atas relatif lebih mudah ditemukan.

“Cukup besar memengaruhinya. Sekarang seolah-olah mengoleksi kartu pemain di atas seratus terlalu mudah. No challenging anymore,” katanya.

Ia juga menyoroti kebiasaan pemain yang semakin sering mengejar kartu baru melalui sistem gacha.

Alih-alih fokus menikmati pertandingan, pemain bisa terjebak dalam siklus mengejar kartu terbaru. “Kebanyakan pemain sering mengejar gacha pemain dan kurang menikmati proses yang ada. Dahulu tembus Divisi 1 terasa adil,” tutur pria 25 tahun ini.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan lain: apakah eFootball perlahan bergerak ke arah pay to win, ketika kualitas kartu semakin menentukan pengalaman kompetitif?

Rating Tinggi Bukan Jaminan Menang

Taufiq Rama punya pandangan yang sedikit berbeda. Pria 23 tahun yang bekerja sebagai pekerja lepas ini masih menganggap skill pemain sebagai faktor penting dalam eFootball. Menurutnya, atribut dan skill yang dimiliki kartu memang membantu ketika pertandingan berlangsung. Namun, rating tinggi bukan tiket otomatis untuk menang. “Skill pemain sangat diutamakan dalam game eFootball, karena kita sebagai player terbantu oleh skill pemain tersebut dalam sebuah pertandingan,” ujarnya.

Ia menilai rating tidak terlalu menentukan hasil akhir. Pemain dengan rating lebih rendah tetap bisa mengalahkan skuat yang penuh pemain ber-rating tinggi. Kuncinya kembali kepada orang yang memegang kontrol. “Rating tidak sangat memengaruhi. Tetapi bukan berarti rating rendah tidak bisa menang melawan rating tinggi. Tergantung skill player yang memainkan,” katanya.

Bagi Taufiq, hadirnya kartu baru justru menjadi salah satu alasan eFootball tetap menarik dimainkan. Kartu baru memberikan variasi dan sensasi berbeda. Ada rasa penasaran untuk mencoba pemain anyar dan membangun skuat yang lebih sesuai dengan gaya bermain masing-masing.

“Kartu baru membuat sensasi bermain lebih seru. Kartu baru mempunyai daya tarik bermain dan lebih memberikan semangat saat bermain eFootball,” pungkasnya

Jadi, Skill atau Kartu?

Pada akhirnya, perdebatan ini belum punya jawaban tunggal. Skill tetap penting. Pemain yang tidak bisa membaca permainan, salah mengambil keputusan, atau buruk dalam mengontrol pemain tetap bisa kalah meski punya skuat mahal.

Namun, di sisi lain, perkembangan kartu dengan rating dan atribut yang semakin tinggi membuat kualitas skuat terasa semakin berpengaruh.

Di era PES, kepuasan terbesar mungkin datang ketika pemain biasa bisa mengalahkan skuat mewah karena strategi dan kemampuan bermain.

Kini, tantangannya sedikit berbeda. Bukan cuma “seberapa jago lo main?”, tetapi juga “seberapa kuat skuat lo?”

Dan mungkin itu yang membuat sebagian pemain lama terus membandingkan eFootball dengan PES. Bukan semata karena rindu game lama, melainkan karena rindu sensasi ketika kemenangan benar-benar terasa sebagai hasil dari skill orang di balik layar, bukan sekadar angka di kartu.(van/az/dye)

Editor : Arief M
Esport berita Banjarmasin game Sepak Bola