RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Di tengah kepungan asap dan kobaran api, M. Fahriza tetap maju memadamkan karhutla. Keberaniannya berujung luka bakar, tetapi tak menyurutkan tekadnya untuk kembali membantu warga.
****
Asap tebal mengepul di langit Pengayuan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru. Di tengah kobaran api yang merambat cepat, M. Fahriza tak banyak berpikir. Remaja yang aktif sebagai relawan pemadam kebakaran itu bergegas membantu memadamkan api yang mengancam permukiman warga.
Namun, keberaniannya berhadapan dengan karhutla pada Jumat (21/8) sore itu berujung petaka. Hempasan hawa panas membuat wajah dan kedua tangannya mengalami luka bakar.
Peristiwa itu terjadi di kawasan Jalan A Yani jurusan Pelaihari. Saat itu, Fahriza bersama relawan lainnya berupaya menjinakkan api yang terus bergerak mendekati rumah warga.
Ia sempat memarkirkan sepeda motornya di tempat yang dianggap aman. Namun, kondisi berubah cepat ketika angin bertiup kencang. “Saya taruh kendaraan dekat api, saya kira aman saja. Ternyata saat melihat di belakang, api hampir kena rumah warga. Saya langsung kejar untuk memadamkan,” kenang Fahriza saat ditemui di kediamannya, Selasa (25/8).
Setelah membantu mengamankan rumah warga, Fahriza kembali menuju lokasi tempat sepeda motornya diparkir. Saat itu, kobaran api justru telah mengepung area tersebut.
Lidah api semakin mendekat. Fahriza berusaha menyelamatkan diri, tetapi hembusan angin membawa hawa panas langsung menerpa tubuhnya. Wajah dan kedua tangannya terkena panas api.
Dalam kondisi sadar dan menahan rasa perih, Fahriza kemudian dievakuasi menggunakan ambulans menuju rumah sakit. Petugas medis segera memberikan penanganan, termasuk memasang infus dan membalut luka bakarnya dengan perban.
Beruntung, kondisi Fahriza tidak kritis. Setelah mendapat perawatan, ia diperbolehkan menjalani rawat jalan kurang dari 24 jam.
Kini, aktivitasnya terhenti sementara. Luka bakar membuatnya harus beristirahat dan menjalani masa pemulihan. Namun, semangat untuk kembali membantu memadamkan karhutla ternyata belum padam.
“Sekarang istirahat dulu. Belum tahu sampai kapan. Tapi kalau sudah sembuh, saya mau ikut memadamkan api lagi,” ucapnya.
Ucapan itu membuat ayahnya, Mansyah, tak bisa menyembunyikan rasa khawatir sekaligus bangga. Saat pertama kali mendapat kabar Fahriza terluka dan dibawa ke rumah sakit, kecemasan langsung menyelimuti pikirannya.
Namun, bagi Mansyah, keinginan putranya membantu orang lain bukan sesuatu yang baru. Sejak beberapa waktu terakhir, Fahriza memang kerap turun membantu warga ketika terjadi bencana. “Mulai dari kecelakaan, kebakaran, sampai kebanjiran, dia memang selalu paling depan membantu warga,” ujar Mansyah.
Ia mengaku tidak akan menghalangi keinginan putranya untuk kembali menjadi relawan setelah kondisi fisiknya pulih. Mansyah memahami risiko yang dihadapi, tetapi juga melihat kepedulian Fahriza kepada masyarakat. “Insyaallah tetap kami izinkan. Karena apa yang dia lakukan ini murni untuk membantu masyarakat,” katanya.
Luka di wajah dan kedua tangannya kini menjadi bagian dari pengalaman Fahriza berhadapan dengan karhutla. Api memang sempat membuat langkahnya terhenti, tetapi tidak memadamkan tekadnya untuk kembali membantu ketika warga membutuhkan. (al/ris)
Editor : Arief