Pemeran Boleh Berganti, Film Spider Man Tetap Diminati

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 13:55 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Pemeran boleh berganti, tapi pesona Spider-Man tak pernah kehilangan penggemar.  Dari generasi ke generasi, kisah Peter Parker tetap terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

            ***

Spider-Man kayaknya memang punya tempat spesial di hati penonton. Buktinya, baru 12 hari tayang di bioskop Indonesia, Spider-Man: Brand New Day sudah mengumpulkan 5,3 juta penonton.

Angka tersebut sekaligus membuat film ini menjadi film dengan jumlah penonton terbesar di Indonesia sepanjang 2026.

Antusiasme penonton sebenarnya sudah kelihatan sejak hari pertama. Data Cinepoint mencatat sebanyak 592.434 orang langsung menyerbu bioskop dalam sehari. Angka itu menjadi pembukaan terbesar tahun ini, baik untuk film lokal maupun internasional.

Yang menarik, Spider-Man sudah diperankan tiga aktor berbeda, yakni Tobey Maguire, Andrew Garfield, dan Tom Holland. Pemerannya boleh gonta-ganti, tapi fans-nya tetap setia.

Lantas, apa sih yang bikin Spider-Man nggak kehilangan pamor meski sudah hadir lintas generasi?

Jawabannya mungkin ada pada Peter Parker. Karakter yang diciptakan Stan Lee dan Steve Ditko pada 1962 ini memang beda dari kebanyakan superhero. Peter Parker bukan sosok yang serba sempurna. Dia cuma anak muda biasa yang kebetulan mendapat kekuatan super setelah digigit laba-laba.

Setelah itu, hidupnya juga nggak otomatis jadi gampang. Peter tetap harus menghadapi sekolah, pekerjaan, keluarga, pertemanan, percintaan, masalah keuangan, kegagalan hingga keputusan-keputusan sulit. Bedanya, di tengah semua masalah itu, dia juga harus menyelamatkan kota. Justru sisi manusiawi itulah yang membuat Spider-Man terasa dekat dengan penonton.

Salah seorang penggemar Spider-Man asal Banjarmasin, Maulidina mengaku sudah lama tertarik dengan karakter tersebut. Baginya, daya tarik Spider-Man bukan cuma soal aksi dan kemampuan bertarung. “Sebenarnya susah dijelasin, karena dari dulu memang selalu tertarik sama ceritanya. Yang bikin aku betah bukan cuma adegan aksinya, tapi perjalanan karakternya,” ujarnya, Minggu (23/8).

Menurut perempuan 23 tahun itu, Peter Parker bukan karakter yang selalu benar. Ia bisa jatuh, salah mengambil keputusan. “Kehilangan orang yang dia sayang, seperti keluarga, pacar dan sahabat. Tapi, tetap berusaha jadi lebih baik,” katanya.

Sisi emosional tersebut makin terasa dalam film terbaru. Peter Parker digambarkan harus kehilangan banyak orang penting dalam hidupnya. Bahkan, orang-orang yang sebelumnya dekat dengannya, kini tidak lagi mengingat keberadaannya. “Bayangin saja kehilangan banyak keluarga sampai nggak punya keluarga lagi. Padahal punya pacar yang baik dan sahabat yang baik, tapi sekarang semua sudah melupakan dia. Dia tetap berusaha menghadapi semuanya sendiri,” tuturnya.

Bagi Maulidina, kondisi tersebut membuat Spider-Man terasa lebih manusiawi dibanding superhero lainnya. “Menurutku itu yang bikin Spider-Man terasa lebih dekat dibanding superhero lainnya,” tambahnya.

Bukan cuma anak muda, Spider-Man juga bisa dinikmati berbagai kelompok usia. Anak-anak bisa menikmati kekuatan super, visual keren, dan adegan aksinya. Sementara penonton yang lebih dewasa bisa melihat sisi lain Peter Parker, terutama soal kehidupan, kehilangan, pilihan, dan tanggung jawab. “Karena itu Spider-Man bisa disukai dari berbagai usia. Anak-anak bisa menikmati visual dan orang dewasa melihat dari perjalanan karakternya,” jelasnya.

Ada satu hal lagi yang menurut Maulidina membuat Spider-Man punya daya tarik unik: topeng. Wajah Peter Parker yang tertutup membuat penonton lebih fokus pada karakter Spider-Man, bukan aktor di balik kostumnya.

“Karena adanya topeng yang menutupi wajah, penonton tidak terlalu memikirkan siapa yang ada di balik topeng tersebut. Jadi penonton lebih fokus menyukai sosok Spider-Man-nya, bukan siapa aktor yang memerankannya,” katanya.

Pendapat serupa disampaikan penggemar lainnya, Bagas Ferdiansyah. Menurutnya, kunci popularitas Spider-Man ada pada sosok Peter Parker yang jauh dari kata sempurna. Berbeda dengan Tony Stark yang dikenal tajir atau Steve Rogers yang merupakan tentara, Peter Parker justru hadir sebagai anak muda dengan masalah yang sangat relatable. “Spider-Man tetap populer di lintas generasi karena tokoh Peter Parker-nya. Peter Parker bukan tokoh sempurna,” ucapnya.

Mulai dari sekolah, keluarga, keuangan, percintaan, kegagalan sampai rasa nggak percaya diri. Masalah-masalah tersebut membuat penonton bisa merasa, “Wah, ini gue banget”. “Semua masalah itulah yang membuat Peter Parker ataupun Spider-Man sangat populer di semua kalangan, karena kita bisa merasakan apa yang dialaminya,” katanya.

Hal tersebut pula yang membuat fans tetap bisa menerima ketika Spider-Man diperankan aktor berbeda.

Bagi Bagas, setiap generasi punya Spider-Man versinya sendiri. Tobey Maguire punya karakter Peter Parker yang kuat dan ikonik. Sementara Andrew Garfield dikenal dengan gaya Spider-Man yang lebih lincah.

“Setiap generasi memiliki versinya sendiri. Contohnya Tobey Maguire, saya melihat dia sangat bagus untuk memerankan Peter Parker, sedangkan Andrew Garfield ada pada ciri khas Spider-Man-nya yang lincah,” jelasnya.

Nostalgia juga menjadi bumbu yang bikin fans susah move on. Penonton lama bisa membandingkan versi Tobey, Andrew, maupun Tom Holland. Bukannya bosan, perbedaan tersebut malah menjadi keseruan tersendiri.

Pada akhirnya, Spider-Man bisa terus bertahan karena karakternya mampu beradaptasi. Kostum bisa berubah. Cerita bisa diperbarui. Musuh bisa berganti. Aktornya pun bisa berganti.

Namun satu hal tetap sama: Peter Parker, seorang anak muda biasa yang berusaha menjalani hidup sambil memikul tanggung jawab luar biasa.

“Kostum, cerita, musuh dan interpretasinya dapat berubah mengikuti zaman tanpa menghilangkan sosok Peter Parker,” pungkas Bagas.(van/az/dye)

Editor : Arief
ZPEAK UP ENTERTAIMENT pemuda berita Banjarmasin Film