Ruang Rapuh di Lirik Lagu, Begini Tanggapan Pemuda Banjarmasin

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 11:40 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Di media sosial, berseliweran potongan video merekam anak-anak muda yang menitikkan air mata sambil bernyanyi histeris mengikuti aksi panggung For Revenge. Di tengah budaya anak muda yang dituntut selalu terlihat kuat, lagu patah hati yang dibawakan band asal Bandung itu justru mengena di hati mereka.

          ***

Ada sesuatu yang unik dari lagu-lagu patah hati. Temanya mungkin terdengar personal. Bahkan sangat dekat dengan luka masing-masing orang. Tapi justru karena itu, lagu seperti Serana, Jentaka, hingga Sadrah milik For Revenge mampu menemukan tempat khusus di hati banyak anak muda. Rasa kehilangan, penyesalan, gagal mengikhlaskan seseorang, sampai keharusan menerima keadaan, tidak terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan.

Semua dibiarkan hadir apa adanya.

Mungkin di situlah kekuatan mereka. Banyak orang terlihat baik-baik saja di depan publik. Di media sosial, semuanya tampak berjalan normal. Senyum tetap dipasang, aktivitas tetap dijalani, bahkan kehidupan seolah tanpa masalah. Padahal, siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar? Ada yang masih menyimpan cerita lama. Ada yang belum benar-benar selesai dengan kehilangan. Ada pula yang cuma butuh satu lagu untuk menjelaskan perasaan yang bahkan sulit dirangkai menjadi kalimat.

For Revenge seperti menyediakan ruang untuk itu. Lirik-liriknya tidak berusaha membuat patah hati terdengar keren atau dramatis. Sebaliknya, rasa rapuh, kecewa, penyesalan dan kehilangan dibiarkan muncul secara jujur. Musik kemudian menjadi penguatnya.

Bagi sebagian pendengar, mendengarkan For Revenge akhirnya bukan cuma soal menikmati musik. Ada rasa seperti, “Oh, ternyata bukan cuma aku yang merasakan ini”.

Dan perasaan semacam itu bisa terasa melegakan. Apalagi di tengah budaya media sosial yang sering mendorong orang untuk selalu terlihat kuat, bahagia dan baik-baik saja. Lagu patah hati justru memberikan ruang untuk mengakui sisi lain manusia yang sering disembunyikan.

Bahwa sedih itu wajar. Bahwa kecewa itu manusiawi. Dan bahwa menjadi rapuh tidak otomatis berarti kalah.

Relate dengan Kehidupan Sehari-hari

Hal tersebut juga dirasakan Ahmad Ikhsan, 23 tahun. Sebagai pendengar For Revenge dari Banjarmasin, ia mengaku tidak selalu bisa menjelaskan secara detail arti dari setiap lirik yang didengarkannya. Namun, ada bagian-bagian tertentu yang terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya penggalan lirik dalam lagu Sadrah yang berbicara tentang menerima keadaan.

Menurut Ikhsan, pesan tersebut menggambarkan situasi ketika sesuatu yang diinginkan ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Pada akhirnya, seseorang harus belajar menerima apapun yang terjadi. Seperti ada hal yang kita mau, tetapi tidak sejalan. ”Keadaan mengharuskan kita menerima apapun yang terjadi. Itu sangat relate dengan saya, entah di pekerjaan, lingkungan maupun keseharian yang saya lalui,” ujarnya, Minggu (16/8).

Bagi Ikhsan, kedekatan anak muda dengan lagu patah hati juga tidak selalu berarti mereka sedang mengalami putus cinta atau kehilangan seseorang.

“Besar kemungkinan karena ada kenyamanan saat mendengarkan lagu patah hati dibandingkan dengan lagu lainnya. Bukan karena memang patah hati, tetapi ada perasaan atau feel yang tidak bisa dijelaskan ketika mendengarkan lagu patah hati tersebut,” katanya.

Dengan kata lain, lagu patah hati tidak selalu didengarkan ketika hati sedang patah. Kadang, orang hanya ingin berada dalam suasana yang terasa dekat dengan dirinya.

Rapuh Bukan Berarti Pasrah

Bicara soal kerapuhan, Ikhsan punya pandangan yang cukup sederhana.

Menurutnya, manusia memang memiliki naluri untuk menunjukkan berbagai macam ekspresi. Sedih, bahagia, kecewa atau bahkan ketika sedang merasa biasa saja. Karena itu, mengakui perasaan bukan berarti seseorang sedang menyerah. “Rapuh bukan berarti pasrah. Ada hal yang tidak bisa ditutupi, yaitu ekspresi saat kita sedang sedih, saat kita sedang bahagia ataupun biasa saja. Jadi bukan mengakui, tetapi memang tentang naluri,” ungkapnya.

Barangkali, itulah alasan lagu-lagu For Revenge terasa begitu personal bagi pendengarnya. Bukan karena semua orang punya kisah yang sama, tetapi karena hampir setiap orang pernah merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Ada fase ketika harus kehilangan. Ada masa ketika harus menerima. Ada cerita yang belum selesai. Dan ada saat ketika seseorang hanya ingin berhenti sejenak dari tuntutan untuk selalu terlihat kuat. For Revenge hadir di ruang itu.

Mereka bukan sekadar grup musik yang menyanyikan kisah patah hati. Bagi sebagian anak muda, musik mereka menjadi semacam teman ketika harus berhadapan dengan sisi diri yang paling rapuh. Sebab, mungkin menjadi kuat tidak selalu berarti menahan semuanya sendirian. Kadang, langkah pertama untuk kembali berdiri justru dimulai dari keberanian mengakui, “Ya, aku sedang tidak baik-baik saja”. Dan tidak apa-apa.

Sebab, pada akhirnya, manusia memang tidak harus selalu kuat.

Amirah Oktaviani juga menilai lagu patah hati begitu dekat dengan anak muda, karena banyak lirik yang menggambarkan pengalaman dan perasaan mereka. Menurutnya, usia muda merupakan fase ketika seseorang mengalami banyak hal baru. Mulai dari persoalan cinta, kehilangan, kekecewaan hingga proses mengenal diri sendiri. “Ketika mendengar lagu dengan lirik yang menggambarkan perasaan yang sedang kita alami, rasanya seperti ada orang lain yang memahami apa yang kita rasakan,” ucapnya.

Bagi Amirah, kedekatan itu juga terasa melalui sejumlah lirik For Revenge. Salah satunya penggalan “berpura-pura pulih sendiri” yang menurutnya menggambarkan proses panjang ketika seseorang berusaha merelakan orang yang dicintai. Kenangan yang telah dilalui bersama, lanjutnya, tidak mungkin hilang begitu saja dalam waktu singkat. Seseorang bisa terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain, meski sebenarnya masih berusaha berdamai dengan kehilangan. “Lirik For Revenge terasa seperti menggambarkan pengalaman yang pernah atau sedang dirasakan orang,” kata wanita 22 tahun ini.

Ia juga memandang mengakui kerapuhan bukan berarti menunjukkan kelemahan. Sebaliknya, hal tersebut menjadi bagian dari proses menerima diri sendiri. Di tengah budaya yang kerap menuntut seseorang terlihat baik-baik saja, perasaan sedih, kecewa dan kehilangan justru perlu diberi ruang. “Dengan mengakui kerapuhan, kita bisa lebih jujur terhadap perasaan sendiri dan memberi ruang untuk benar-benar pulih, bukan sekadar berpura-pura sudah baik-baik saja,” pungkasnya.(van/az/dye)

Editor : Arief
ZPEAK UP musik pemuda berita Banjarmasin