RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kota memang harus terus berkembang. Jalan dibenahi, kawasan ditata, wajah kota dibuat makin nyaman dan kekinian. Tapi, ada satu hal yang jangan sampai ikut hilang saat kota berbenah: sejarah.
***
PEMBONGKARAN Monumen Gerbang Kota Kayuh Baimbai di kawasan Jalan Pangeran Antasari sempat menjadi polemik. Pembongkaran monumen sempat menuai protes dari kalangan seniman. Mereka menilai persoalannya bukan sekadar soal bangunan lama yang dibongkar, tetapi juga menyangkut karya seni dan memori masyarakat Banjarmasin. Dewan Kesenian Kota Banjarmasin bahkan meminta Pemko Banjarmasin menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Respons itu kemudian datang. Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR meminta maaf dan mengakui adanya miskomunikasi dengan kalangan seniman.
Yamin menegaskan, pembongkaran monumen bukan untuk menghilangkan karya seni ataupun menghapus sejarah. Ornamen dan relief yang ada disebut tetap akan dipertahankan dalam konsep penataan kawasan yang baru.
Yang menarik, pencipta monumen, Misbach Tamrin, justru memilih meredakan polemik tersebut.
Di usianya yang sudah 85 tahun, maestro seni rupa itu mengaku tidak keberatan dan memaafkan pemerintah. Bahkan, Misbach merasa sungkan ketika wali kota datang langsung ke rumahnya untuk meminta maaf.
Sikap tersebut seperti mengingatkan bahwa persoalannya sebenarnya bukan sekadar monumen dibongkar atau tidak. Tapi, bagaimana seharusnya karya seni dan aset bersejarah diperlakukan ketika sebuah kota ingin berubah?
Pegiat Komunitas Arkalitera, Muhammad Daffa menilai sebenarnya sudah ada upaya untuk menghidupkan kembali aset bersejarah di Kalsel. Salah satu contohnya adalah Rumah Anno di kawasan Siring Menara Pandang, Jalan Piere Tendean. Bangunan tersebut kerap digunakan untuk kegiatan seni, forum, hingga berbagai acara. Menurut Daffa, pemanfaatan Rumah Anno menjadi salah satu cara agar masyarakat, termasuk pendatang, bisa kembali mengenal sisi historis Banjarmasin.
"Rumah Anno sering digunakan untuk kegiatan kesenian, forum, maupun berbagai acara. Itu salah satu bentuk pengenalan terhadap sisi historis Banjarmasin sebagai kota yang menyimpan banyak potensi sejarah," ujar pemuda berusia 27 tahun ini, Minggu (9/8).
Namun, menurutnya, langkah tersebut jangan berhenti di satu tempat saja.
Bangunan dan monumen bernilai sejarah perlu didata dan dikaji untuk melihat mana yang layak ditetapkan sebagai cagar budaya. Status cagar budaya, kata Daffa, bukan cuma soal mempertahankan bangunan. Lebih jauh, aset tersebut bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata, sekaligus ruang belajar sejarah bagi pelajar. "Harus ada upaya dari pemerintah maupun kawan-kawan lintas bidang untuk menjadikan bangunan yang punya sisi historis sebagai cagar budaya," katanya.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana membuat sejarah tetap relevan di tengah generasi yang makin akrab dengan dunia digital. Menurut Daffa, sejarah tidak harus selalu disampaikan lewat buku tebal atau cerita formal. Konten digital bisa menjadi cara yang lebih santai dan dekat dengan generasi muda. "Sejarah dikenalkan melalui konten digital yang lebih kekinian, dan bisa dinikmati generasi sekarang," jelasnya.
Seniman juga bisa ikut ambil bagian. Cerita tentang tokoh, bangunan, maupun perjalanan sejarah Banua bisa diangkat lewat teater, karya visual, video, hingga berbagai bentuk seni lainnya.
Sebab, menjaga sejarah bukan berarti membuat kota berhenti berkembang.
Justru sebaliknya, sejarah bisa menjadi bagian dari wajah kota yang baru.
"Bangunan bersejarah bukan hal yang usang atau harus dikubur. Ada upaya dari pemerintah, masyarakat dan seniman untuk mengangkatnya kembali sebagai nilai yang harus dihadirkan dalam berbagai bentuk," bebernya.
Salah satu pegiat seni tari, Syaidatul Fitria menilai polemik tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan kota dan pelestarian budaya tidak semestinya dipertentangkan. Menurutnya, komunikasi menjadi kunci sebelum pemerintah mengambil keputusan terhadap aset yang memiliki nilai seni maupun historis. "Alangkah baiknya pemerintah melibatkan seniman, ahli sejarah, budayawan dan masyarakat sebelum mengambil keputusan," ujarnya.
Menurut Fitria, komunikasi sejak awal dapat meminimalkan potensi polemik di tengah masyarakat. "Kota Banjarmasin boleh terus berkembang, tapi jangan sampai kehilangan histori maupun aset sejarah," ingat wanita 24 tahun ini. (van/az/dye)
Editor : Arief M