RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Tidak semua orang membuka media sosial hanya untuk mencari hiburan. Bagi Sarah Nia Karyanto, layar ponsel adalah ruang kerja.
****
Dari media sosial, Sarah membangun karier sebagai influencer, berkomunikasi dengan ribuan pengikut, sekaligus menjaga kepercayaan berbagai klien yang mempercayakan promosi kepadanya.
Namun, di balik unggahan yang tampak rapi dan senyum yang selalu hadir di layar, ada sisi lain yang jarang terlihat.
Perempuan kelahiran 1995 yang menetap di Kelurahan Sungai Ulin, Kecamatan Banjarbaru Utara, itu mengakui dunia digital tidak selalu menyenangkan. Semakin lama berkecimpung di media sosial, semakin ia menyadari bahwa menjadi kreator konten juga menghadirkan tekanan yang tak ringan.
Ada kalanya Sarah merasa dituntut untuk selalu terlihat bahagia, produktif, dan penuh semangat. Padahal, seperti manusia pada umumnya, ia juga memiliki hari-hari ketika lelah datang, semangat menurun, bahkan ingin berhenti sejenak.
"Tekanan itu nyata. Kadang kita dituntut selalu terlihat bahagia, padahal sebagai manusia pasti ada masa capek dan ingin istirahat," ujarnya.
Menurut Sarah, pekerjaan seorang kreator konten tidak benar-benar selesai ketika kamera dimatikan. Algoritma media sosial menuntut konsistensi, sementara publik berharap sosok yang mereka ikuti selalu hadir dengan energi yang sama setiap hari.
Di tengah tuntutan tersebut, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi perlahan menjadi semakin kabur.
Karena itu, Sarah memilih membuat batas yang tegas. Tidak semua cerita harus dibagikan kepada publik. Ada ruang yang sengaja ia simpan hanya untuk dirinya dan keluarga.
"Ada hal-hal yang memang cukup menjadi milik aku dan keluarga. Privasi tetap harus dijaga," katanya.
Tak Lagi Mengejar Kesempurnaan
Tidak semua hari harus diisi dengan unggahan baru. Bagi Sarah, ada kalanya layar ponsel perlu dimatikan agar pikiran mendapat kesempatan untuk beristirahat.
Saat merasa energi mental mulai terkuras, Sarah tak ragu mengambil jeda dari media sosial. Baginya, menjaga kesehatan mental jauh lebih penting daripada terus mengejar angka tayangan, komentar, atau keterlibatan pengikut.
Cara yang paling sering ia lakukan adalah digital detox. Sarah sengaja mengurangi waktu menatap layar dan membatasi akses ke media sosial selama beberapa waktu. Jeda itu menjadi ruang baginya untuk mengembalikan energi sebelum kembali berkarya.
Di luar itu, Sarah memiliki cara-cara sederhana untuk memulihkan diri. Sesekali ia memilih menjalani hari tanpa agenda. Menonton film, memanjakan diri di salon, berendam air hangat, atau sekadar menikmati tidur siang tanpa gangguan.
Jika ingin benar-benar menjauh dari hiruk-pikuk rutinitas, Sarah memilih mendekat ke alam. Berjalan santai, bersepeda, atau mengunjungi tempat-tempat baru menjadi caranya memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas.
"Me time itu bukan soal bermewah-mewahan. Yang penting ada waktu untuk memulihkan tenaga dan menenangkan diri," tuturnya.
Sebagai seorang ibu sekaligus single parent, Sarah memahami bahwa menyediakan waktu untuk diri sendiri sering kali terasa seperti sebuah kemewahan. Namun, baginya, itu bukanlah bentuk egoisme, melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi.
Sarah percaya seseorang tidak akan mampu merawat orang lain jika dirinya sendiri terus-menerus kelelahan. Karena itu, ia selalu berusaha mengingatkan diri untuk mencintai diri sendiri lebih dulu.
"Luv yourself first. Support system terbaik tetap diri kita sendiri, lalu orang-orang terdekat yang tulus mendukung tanpa menghakimi," ujarnya.
Meski demikian, Sarah tidak menutup mata terhadap pentingnya kehadiran orang-orang terdekat. Keluarga dan sahabat, menurutnya, memiliki peran besar dalam melewati masa-masa sulit. Sosok yang bersedia mendengarkan, memberi semangat, sekaligus mengingatkan saat melakukan kesalahan merupakan kekuatan yang tak tergantikan.
Di tengah derasnya arus media sosial yang bergerak begitu cepat, Sarah kini memilih berjalan dengan ritmenya sendiri. Ia tak lagi merasa harus selalu tampil sempurna atau terlihat baik-baik saja di hadapan publik.
Baginya, menjadi pribadi yang autentik jauh lebih berharga daripada mempertahankan citra yang sempurna. (al/ris)
Editor : Arief