RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Di tengah biaya hidup yang terus merangkak naik, setiap liter BBM kini menjadi hitungan penting bagi pekerja berusia muda. Beralih ke Pertalite bukan lagi sekadar pilihan, melainkan cara bertahan agar roda kehidupan tetap berjalan.
****
Sejak harga Pertamax naik, pernahkah merasakan antrean Pertalite sekarang makin panjang? Ternyata kamu nggak sendirian.
Data PT Pertamina Patra Niaga menunjukkan konsumsi Pertalite pada Juli 2026, naik sekitar 9,4 persen. Sementara itu, pengguna Pertamax justru mengalami penurunan. Bahkan sepanjang Januari–Mei 2026, porsi penjualan Pertalite sudah mencapai 80 persen, naik dari sebelumnya sekitar 75 persen.
Buat banyak orang, keputusan pindah ke Pertalite bukan soal gengsi atau kualitas BBM. Alasannya sederhana: lebih ramah di kantong.
Di Banjarmasin, pemandangan antrean kendaraan di jalur Pertalite hampir selalu terlihat. Mulai pagi sebelum berangkat kerja, siang saat jam istirahat, sore ketika pulang, sampai malam hari. Jalur BBM subsidi nyaris tak pernah sepi.
Karyawan swasta muda, Wardati Laili Roja (23) tetap memilih Pertalite karena pengeluaran hidup makin besar. "Kalau harga BBM naik, biasanya harga kebutuhan pokok juga ikut naik. Sementara gaji belum bertambah, jadi menggunakan Pertalite menjadi pilihan yang paling memungkinkan agar pengeluaran tetap terkendali," ujarnya, Minggu (2/8).
Karena ingin lebih hemat, Wardati kini juga mulai mengurangi aktivitas yang tidak terlalu penting. "Kalau tidak ada keperluan penting, saya lebih memilih tetap di rumah. Supaya pengeluaran untuk BBM bisa ditekan," katanya. Ia berharap pemerintah tidak hanya memperhatikan harga BBM, tetapi juga menjaga harga sembako agar tetap stabil.
Pendapat serupa disampaikan Abizhar (23), seorang pekerja lepas. Menurutnya, selisih harga Pertamax dan Pertalite cukup terasa. Apalagi bagi pengguna kendaraan yang rutin mengisi tangki penuh. "Kalau dihitung dari Rp12 ribu menjadi Rp16 ribu per liter, selisihnya lumayan. Apalagi kalau isi full tank, pengeluarannya pasti terasa. Maka tidak heran banyak yang beralih ke Pertalite," ujarnya.
Meski begitu, Abizhar tetap bertahan menggunakan Pertamax, karena menyesuaikan spesifikasi mesin motornya. Saat mencoba Pertalite, ia merasa konsumsi BBM justru lebih boros dan mesin menjadi lebih panas.
Selain soal harga, Abizhar juga menyoroti antrean panjang di SPBU yang menurutnya masih dipenuhi pembeli untuk dijual kembali. "Sebaiknya ada pengaturan agar pembeli eceran tidak satu antrean dengan masyarakat. Mereka membeli BBM untuk kebutuhan sehari-hari, bukan dijual kembali," katanya.
Ia berharap pemerintah juga memperhatikan peningkatan pendapatan masyarakat. "BBM sekarang sudah menjadi kebutuhan dasar untuk bekerja dan beraktivitas. Kalau pengeluaran naik, seharusnya pendapatan masyarakat juga ikut diperhatikan," tegasnya.
Naiknya konsumsi Pertalite menunjukkan satu hal: banyak masyarakat sedang mencari cara agar pengeluaran tetap terkendali. Di tengah biaya hidup yang terus naik, memilih BBM yang lebih terjangkau menjadi salah satu strategi untuk menjaga agar roda aktivitas dan penghasilan tetap berjalan.(van/az/dye)
Editor : Arief