Hasil Panen bisa Turun 30 Persen, Begini Perjuangan Petani Daun Bawang Melawan Kemarau

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 23:41 WIB
MENGAMBIL AIR: Suhardadi saat mengambil air untuk menyiram tanaman daun bawangnya di Jalan Rahmat Kampung Baru, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Banjarbaru, Kamis (30/7).
(Foto: M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN) 
MENGAMBIL AIR: Suhardadi saat mengambil air untuk menyiram tanaman daun bawangnya di Jalan Rahmat Kampung Baru, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Banjarbaru, Kamis (30/7). (Foto: M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Di bawah terik matahari yang hampir tanpa jeda, Suhardadi berdiri di tepi lahan daun bawangnya di Jalan Rahmat Kampung Baru, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Banjarbaru, Kamis (30/7).

              ****
Kedua tangan Suhardadi masih dipenuhi bercak putih bekas menggali sumur baru. Sesekali ia membungkuk mengangkat ember berisi air, lalu berjalan menyusuri bedengan demi bedengan untuk menyiram tanaman yang mulai kehausan.

Di belakangnya tampak gundukan tanah berwarna putih, sisa galian sumur yang baru selesai dibuat. 

Sumur lama tak lagi mampu memenuhi kebutuhan air sejak musim kemarau berlangsung lebih dari sebulan.

Hamparan daun bawang di bawah naungan paranet memang masih terlihat hijau. Namun ketika didekati, sebagian daun memperlihatkan bekas gigitan ulat. Ada yang berlubang, ada pula yang mulai mengering di bagian ujungnya.

Kemarau ternyata tidak datang sendirian. Selain mengurangi cadangan air, cuaca kering juga memicu serangan hama yang menggerus pertumbuhan tanaman.

"Kebetulan saat ini musim kemarau sudah satu bulan lebih. Dampak ke tanaman sayuran di sini ada hama ulat, kemudian kekeringan," ujar Suhardadi.

Awalnya ia mencoba mengendalikan hama dengan pestisida. Cara itu tidak memberikan hasil yang diharapkan. 

Akhirnya, Suhardadi memilih memangkas daun-daun yang sudah terserang agar ulat tidak berpindah ke tanaman lain.

Pekerjaan itu dilakukan hampir setiap hari. Satu per satu tanaman diperiksa. Daun yang rusak dipotong. Sisanya dipertahankan agar tetap bisa tumbuh hingga masa panen.

Persoalan lain datang dari pasokan listrik. Pompa air yang biasa digunakan berhenti bekerja setiap kali listrik padam. 

Padahal pada musim kemarau, penyiraman tidak bisa ditunda terlalu lama. Tak ingin tanamannya semakin layu, Suhardadi kembali menggunakan cara yang jauh lebih menguras tenaga.

"Kalau pas mati listrik kadang disiram, tapi kalau yang terlalu kering sekali itu kita menggunakan manual, menggunakan ember, disiram satu per satu," katanya.

MEMPERLIHATKAN: Suhardadi saat memperlihatkan tanaman daun bawangnya, Kamis (30/7).
(Foto: M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN) 
MEMPERLIHATKAN: Suhardadi saat memperlihatkan tanaman daun bawangnya, Kamis (30/7). (Foto: M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN) 

Hasil Panen Bisa Turun 30 Persen

Ember demi ember air diangkut Suhardadi menuju bedengan. Jarak yang harus ditempuh memang tidak terlalu jauh. Namun pekerjaan itu harus diulang berkali-kali hingga seluruh tanaman mendapatkan air.

 

Di lahan milik Suhardadi terdapat empat jalur daun bawang atau bawang prei. Masing-masing memiliki panjang sekitar 40 meter dengan lebar satu meter.

Pada kondisi normal, empat jalur tersebut mampu menghasilkan sekitar Rp12 juta setiap panen. Dua kali panen sebelumnya bahkan masih memberikan hasil yang cukup baik.

Kini, harapan itu mulai terkikis. Kemarau yang berkepanjangan ditambah serangan hama diperkirakan memangkas produktivitas hingga sekitar 30 persen. 

Ironisnya, ketika hasil panen menurun, biaya produksi justru terus bertambah. Mulai dari pembuatan sumur baru, pengendalian hama, hingga tenaga tambahan untuk penyiraman manual.

"Dalam 4 balur ini hasilnya bisa mencapai Rp12 juta, itu kalau dalam kondisi normal. Tapi kalau dalam kondisi kekeringan dan hama ulat seperti ini tentu hasilnya merosot atau turun," ujarnya.

Bagi Suhardadi, kondisi tersebut tidak hanya dirasakan dirinya. Ia berharap pemerintah turun langsung melihat persoalan yang dihadapi petani di lapangan sehingga bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan.

"Harapannya kepada pemerintah pada saat kondisi pertanian terdampak kekeringan dan ada hama seperti ini, kalau bisa pemerintah turun ke lapangan melihat kondisi petani, apa yang perlu dibantu, dan eksekusinya seperti apa," tuturnya.

Di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, Suhardadi masih terus mengangkat ember demi ember air ke atas bedengan. 

Bagi petani, menjaga tanaman tetap hidup hari ini menjadi harapan agar masih ada yang bisa dipanen beberapa pekan mendatang

 

Harapan itu bukan tanpa alasan. Daun bawang menjadi salah satu komoditas hortikultura andalan Kalimantan Selatan yang dipasarkan hingga Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Ketika hasil panen petani mulai menyusut, dampaknya tidak berhenti di lahan pertanian. "Jika produksi terus berkurang, maka pasokan ke pasar tentu akan berkurang dan memicu kenaikan harga," pungkas Suhardadi. (al/ris)

Editor : Arief
Berita Banjarbaru petani kemarau kekeringan