RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Gelombang protes pemadaman listrik terus mengalir. Bahkan emak-emak meluapkan kekesalannya.
****
Di bawah terik matahari, Alint Markani berdiri di antara barisan pengunjuk rasa di depan Kantor PLN UP3 Banjarmasin, Jalan Lambung Mangkurat, Rabu (29/7).
Perempuan berusia 31 tahun itu tidak datang sekadar menyuarakan kekecewaan. Ia membawa cerita tentang dampak pemadaman listrik yang dalam beberapa pekan terakhir perlahan mengganggu kehidupan keluarganya hingga usaha yang ia jalankan.
Bagi Alint, listrik padam bukan lagi sekadar persoalan gelapnya rumah atau berhentinya peralatan elektronik. Gangguan pasokan listrik telah menjalar ke persoalan yang lebih serius: kesehatan anak, keberlangsungan usaha, hingga kekhawatiran para ibu menyusui.
Alint tinggal di kawasan Pal 7 Jalan Ahmad Yani, Kabupaten Banjar. Sementara aktivitas usahanya berada di Kota Banjarmasin. Sejak pemadaman bergilir dengan durasi tiga hingga enam jam terjadi, roda bisnisnya ikut tersendat.
Pengiriman barang sering tertunda karena proses pencetakan resi tidak bisa dilakukan saat listrik mati. Namun, kerugian usaha bukan hal yang paling membuatnya resah.
Di rumah, Alint harus memastikan kondisi anaknya yang sedang menjalani kemoterapi tetap nyaman. Efek pengobatan membuat suhu tubuh sang buah hati mudah meningkat.
Saat listrik padam, kipas angin berhenti berputar. Udara di dalam rumah menjadi panas dan pengap. Kondisi itu membuat anaknya harus bertahan dalam situasi yang tidak ideal ketika tubuhnya sedang membutuhkan pemulihan. "Kondisi anak saya harus dijaga agar tetap nyaman. Ketika listrik padam, dia kepanasan," ujar Alint.
Untuk sementara, keluarga hanya mengandalkan kipas portabel dan lampu darurat. Namun, solusi itu tidak selalu mampu menggantikan kebutuhan listrik yang stabil.
Kekhawatiran Alint juga tertuju kepada para pekerjanya yang sebagian merupakan ibu menyusui. Selama bekerja, mereka menyimpan ASI perah di dalam kulkas agar tetap aman dikonsumsi bayi.
Namun, ketika listrik padam berjam-jam, suhu penyimpanan tidak lagi terjaga. Risiko ASI rusak pun menjadi ancaman. "Banyak ibu bekerja yang khawatir stok ASI rusak. Kalau sudah basi, tentu tidak bisa diberikan lagi kepada bayinya," katanya.
Tidak hanya pemadaman, persoalan lain yang dikeluhkan adalah tegangan listrik yang naik turun. Kondisi tersebut membuat sejumlah peralatan elektronik tidak bekerja maksimal.
Bagi Alint, pelanggan tidak cukup hanya diberikan permintaan maaf. Ia berharap PLN memberikan kompensasi yang sepadan atas dampak yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, kompensasi bisa berupa pemotongan hingga pembebasan tagihan listrik selama masa perbaikan berlangsung. Selain itu, ia meminta adanya dukungan darurat bagi warga yang memiliki kebutuhan khusus, seperti penyediaan genset atau sumber listrik portabel.
Meski belum mengambil langkah hukum secara pribadi, Alint menyatakan siap bergabung apabila ada pihak yang mengoordinasikan gugatan warga atas kerugian akibat pemadaman berkepanjangan.
Di tengah rasa kecewa, ia tetap mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang turun langsung menemui warga dan menyampaikan aspirasi kepada PLN.
Sebab, baginya, persoalan listrik bukan hanya tentang mesin pembangkit atau jaringan distribusi. Di balik saklar yang mati, ada keluarga yang kepanasan, usaha yang terhenti, dan ibu-ibu yang cemas kehilangan stok ASI untuk buah hati mereka.(van/az/dye)
Editor : Arief