RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Deru mesin pompa air terdengar bersahutan dengan gemuruh angin di kawasan lahan gambut di Landasan Ulin Selatan, Liang Anggang.
***
Di tengah hamparan lahan yang usai terbakar hebat, tampak Hendra berdiri, menyeka keringat di keningnya.
Pria itu baru saja menghela napas panjang setelah bertarung dengan api hingga menjelang larut malam.
"Semalaman suntuk kami di lapangan, baru bisa balik ke rumah sekitar jam 10 malam. Alhamdulillah, pagi ini titik api sudah aman," ujar Hendra kepada Radar Banjarmasin, Senin (20/7).
Hendra merupakan Sekretaris Rescue Pengayuan sekaligus Ketua Masyarakat Peduli Bencana (MPB) di Kecamatan Liang Anggang.
Bagi Hendra dan rekan-rekannya, musim kemarau bukan sekadar siklus cuaca, namun sebuan alarm kesiapsiagaan.
Wilayah Liang Anggang yang dikenal rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi medan tahunan yang menguras energi.
Sebab menaklukkan karhutla di lahan gambut Banjarbaru punya tingkat kesulitan tersendiri. Apalagi sumber air di sekitar lokasi saat ini mulai surut.
"Airnya surut, otomatis lumpur yang banyak tersedot ke pompa. Kami harus bercebur ke dalam kubangan, membersihkan sumbatan, baru airnya bisa keluar deras lagi," tutur Hendra.
Tantangan tak berhenti di situ. Titik api yang posisinya terus menjauh ke dalam hutan turut menjadi cerita tersendiri.
Selang-selang pemadam milik relawan sudah diulur maksimal, namun ujungnya tetap tak mampu menjangkau lidah api. Jika sudah begitu, para relawan di darat hanya bisa mengandalkan "bantuan dari langit".
"Kalau posisinya sudah terlalu jauh dan selang tidak sampai, ya mau bagaimana lagi. Untungnya ada bantuan helikopter water bombing," katanya.
Karhutla Muncul Bersamaan di Sejumlah Titik
Saat ditanya apakah dua unit helikopter water bombing yang disiagakan di Kalsel saat ini cukup untuk memadamkan karhutla di Banjarbaru dan sekitarnya, Hendra tersenyum realistis.
Menurut Hendra, dengan kondisi Banjarbaru sekarang, keberadaan water bombing sangat krusial untuk memutus titik api yang sulit ditembus lewat jalur darat.
Di Liang Anggang sendiri, titik karhutla kerap muncul bersamaan di beberapa tempat. Beruntung, rescue Pengayuan tidak berjalan sendiri. Memiliki sekitar 15 anggota aktif, mereka langsung berkoordinasi dan melebur ke dalam Satgas bentukan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan dan BPBD Kota Banjarbaru.
Sinergi ini sudah terbangun sejak tahun 2019, ketika organisasi relawan mereka resmi bermitra dengan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana.
"Kami saling bahu-membahu dengan Satgas BPBD. Penanganan titik api kami bagi supaya cepat teratasi. Kalau tidak bagi tugas, armada bisa kedodoran," jelas pria yang sudah terjun ke dunia rescue sejak 2015 ini.
Menengok ke belakang, langkah Hendra di dunia kemanusiaan dipicu oleh kegelisahannya yang mendalam. Sebab, ia jengah melihat kampung halamannya terus-menerus dikepung asap setiap kemarau datang.
"Motivasi saya sederhana. Kebakaran hutan ini terjadi di wilayah kita sendiri, di Pengayuan. Kebetulan anak-anak mudanya ada dan mau bergerak. Kalau kita cuma mengharapkan orang luar datang, keburu habis barang-barang warga terbakar," tuturnya.
Ketakutan terbesar Hendra adalah jika api menjalar hingga ke pemukiman warga. Ketakutan itulah yang melahirkan inisiatif membakar semangat gotong royong, yang dimulai dari modal super minim pada 2015 silam.
"Waktu awal-awal dulu, kami modalnya cuma ember. Dikasih oleh masyarakat setempat untuk menyiram api. Dari ember itu, pelan-pelan kami berkembang sampai punya peralatan seperti sekarang," kenang Hendra.
Kini, Rescue Pengayuan telah bertransformasi. Anggotanya bukan lagi sekadar bapak-bapak, melainkan didominasi oleh generasi muda.
Menariknya, aksi kemanusiaan ini juga memikat para perempuan muda setempat untuk ikut ambil bagian menjadi srikandi pemadam.
Mereka yang bergabung bukan hanya warga Landasan Ulin Selatan, melainkan juga pemuda-pemudi dari wilayah tetangga di Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut. (al/ris)
Editor : Arief