RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Punya rumah di usia muda? Dulu mungkin terasa seperti target yang cukup masuk akal. Tapi sekarang, buat sebagian anak muda, mimpi punya hunian sendiri mulai terasa kayak misi yang levelnya makin tinggi.
***
Harga rumah, termasuk rumah subsidi, terus naik tiap tahun. Di kawasan perkotaan, harga rumah subsidi tipe 36 saja kini bisa menyentuh sekitar Rp182 juta. Padahal itu baru harga bangunan dengan luas tanah 10x14 meter. Setelah punya rumah, masih ada banyak biaya lain yang harus dipikirkan.
Mulai dari isi perabot, listrik, air, sampai kebutuhan sehari-hari. Belum lagi kalau harus menyiapkan biaya menikah, atau kebutuhan keluarga.
Buat kalangan muda yang sudah mapan, mungkin angka tersebut masih bisa dikejar. Tapi bagi sebagian Gen Z yang baru mulai membangun karier, harga rumah saat ini terasa cukup bikin mikir keras.
Akhirnya, banyak yang memilih jalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Cicilannya mulai dari sekitar Rp1 juta per bulan dengan tenor 10 hingga 20 tahun.
Memang bukan keputusan kecil. Tapi menunggu terlalu lama juga punya risiko. Sebab harga properti terus naik dari tahun ke tahun.
Kenaikan harga rumah dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari harga tanah makin mahal, jumlah penduduk bertambah, hingga biaya material bangunan yang ikut meningkat. Rata-rata harga properti bahkan bisa naik sekitar 7 hingga 10 persen setiap tahun.
Masalah utamanya bukan cuma rumah yang makin mahal. Tantangan terbesar adalah apakah penghasilan anak muda bisa ikut mengejar kenaikan harga hunian. Kalau harga rumah terus melesat, sementara gaji naiknya pelan, punya rumah sendiri bisa makin terasa jauh.
KPR atau Tunggu?
Meski begitu, memiliki rumah di usia muda ternyata masih dianggap realistis. Kuncinya ada di cara mengatur keuangan dan menentukan prioritas.
Agen Properti Independen, Ahmad Hasyim Setiadi menilai generasi muda tidak perlu takut mengambil KPR selama kondisi finansial sudah siap.
Menurutnya, KPR subsidi bisa menjadi pilihan karena kesempatan mendapat fasilitas tersebut hanya sekali seumur hidup. "Kalau memang memenuhi syarat, KPR bisa jadi alternatif yang direkomendasikan. Kesempatan ini hanya sekali seumur hidup, jadi sebaiknya dimanfaatkan sejak masih muda," ujar Hasyim, Minggu (19/8/2026).
Pria berusia 23 tahun itu menjelaskan, KPR subsidi memiliki keuntungan karena bunga bersifat tetap atau flat hingga kredit selesai. Artinya, cicilan tidak berubah meski jangka waktunya panjang.
Berbeda dengan rumah komersial yang harganya bisa jauh lebih tinggi. Untuk tipe 36 saja, rumah komersial biasanya berada di atas Rp300 juta dengan skema bunga yang bisa berubah mengikuti kondisi pasar.
Menurut Hasyim, terlalu lama menunda membeli rumah juga bukan pilihan terbaik karena harga properti terus naik. "Semakin lama ditunda, harga rumah juga akan semakin tinggi," kata warga Banjar ini.
Ia menilai punya rumah sejak muda masih sangat mungkin dilakukan selama menjadi prioritas. "Pada akhirnya semua orang akan membutuhkan rumah, baik saat menikah maupun sudah berkeluarga. Kalau memang menjadi prioritas, sangat mungkin diwujudkan sejak muda," jelasnya.
Namun, bagi yang belum siap mengambil KPR, langkah awal bisa dimulai dengan membangun kebiasaan menabung secara konsisten. Dengan disiplin mengatur uang, target membeli rumah dalam empat sampai lima tahun masih memungkinkan.
Harga Rumah atau Gaya Hidup?
Hasyim melihat ada dua tantangan besar Gen Z untuk memiliki rumah.
Pertama, penghasilan yang belum sebanding dengan harga hunian. Kedua, banyak anak muda masih sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
"Gaya hidup dan berbagai kebutuhan lain sering membuat rumah baru dipikirkan ketika sudah menikah," ujarnya.
Sementara itu, Nur Yasmin menilai punya rumah di usia muda bukan sesuatu yang mustahil. Menurutnya, kunci utamanya adalah perencanaan keuangan dan kemampuan mengubah penghasilan menjadi aset jangka panjang. "Rumah adalah investasi jangka panjang. Nantinya juga akan dibutuhkan ketika mulai berkeluarga, sehingga lebih baik diprioritaskan sejak dini," kata wirausahawan muda berusia 23 tahun ini.
Yasmin menyarankan anak muda mulai mengatur penghasilan sejak awal. Jangan sampai uang habis hanya untuk memenuhi gaya hidup sementara.
Menurutnya, keputusan membeli rumah tetap harus disesuaikan dengan kondisi finansial. Kalau belum siap, menunda sambil menyiapkan dana juga bukan masalah. Namun, jika penghasilan sudah cukup, jangan terlalu lama menunggu. "Kalau gaji sudah cukup, sebenarnya tidak perlu menunda. Sekarang banyak pilihan skema pembiayaan yang bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing," ujar warga HSS ini.
Yasmin menilai tantangan terbesar Gen Z bukan hanya harga rumah yang tinggi, tetapi juga kebiasaan konsumtif. Banyak anak muda lebih memilih membeli barang yang memberi kepuasan sesaat dibanding membangun aset untuk masa depan. Karena itu, perlu komitmen untuk lebih bijak mengelola uang.
Bagi Gen Z, punya rumah mungkin bukan target yang gampang. Tapi bukan berarti mustahil. Yang penting bukan sekadar punya mimpi, tetapi mulai menyusun strategi: atur penghasilan, kurangi pengeluaran yang tidak perlu, dan berani mengambil langkah untuk masa depan.(van/az/dye)
Editor : Arief