RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Perjalanan Zydan dan Almeera di Yogyakarta tidaklah instan. Di balik gemerlap lampu panggung, ada hari-hari panjang yang melelahkan.
****
Lampu sorot panggung utama di Yogyakarta terasa begitu hangat, sehangat detak jantung dua bocah asal Banjarbaru yang sedang menunggu pengumuman krusial.
Selasa (30/6) itu, ribuan pasang mata menjadi saksi bagaimana kota yang dijuluki Kota Idaman ini melahirkan dua permata baru di panggung kebudayaan nasional.
Mereka adalah Muhammad Rasydan Zunnurain Risyand dan Nur Rizky Almeera Azwar. Mereka akrab disapa Zydan dan Almeera.
Dua nama yang kini resmi terpatri sebagai pemenang dalam ajang bergengsi Pemilihan Putra Putri Kebudayaan Cilik Indonesia 2026.
Zydan dan Almeera dua latar belakang yang berbeda, namun disatukan oleh satu misi besar: membawa marwah kebudayaan Banua ke level tertinggi.
Perjalanan mereka di Yogyakarta tidaklah mudah. Latihan fisik, pendalaman materi kebudayaan, hingga olah bakat harus mereka lahap di usia yang terbilang masih sangat belia. Namun, kedewasaan mental jugalah yang akhirnya membedakan mereka dari kontestan lain.
Saat nama Zydan dipanggil sebagai Grand Winner Putera Kebudayaan Cilik Indonesia 2026 untuk Kategori B, gemuruh tepuk tangan langsung pecah.
Seolah tak mau kalah, Almeera yang tampil memukau dengan pembawaannya yang anggun nan tegas, sukses menyabet mahkota Grand Winner Puteri Kebudayaan Cilik Indonesia 2026 untuk Kategori A.
Dua gelar tertinggi di kategori berbeda berhasil diborong sekaligus ke tanah Kalimantan.
"Sejak awal, kami sangat optimis bahwa Zydan dan Almeera mampu membawa pulang hasil terbaik dalam ajang ini," kata Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Kota Banjarbaru, Rahmi Fahrina.
Sukses Hipnotis Juri Lewat Tari
Pada sesi talent show, Zydan dan Almeera benar-benar menghipnotis para juri lewat penampilan yang mereka bawakan di atas pentas modern.
Zydan, putra dari pasangan Septiyandi Pradirja dan Ramadina Riski Saputri, menggebrak panggung lewat Tari Prajurit Bakuda Gipang.
Dengan kuda gipang yang dijepit di ketiak—replika dari legenda militer Banjar masa lampau—Zydan bergerak tangkas.
Gerakannya merefleksikan semangat, ketangkasan, dan keberanian pasukan kavaleri berdarah Banjar yang dulu menjadi garda terdepan arak-arakan Raja.
Di era modern, tarian perang ini telah bertransformasi menjadi media dakwah Islam sekaligus penyambutan tamu agung di Kalimantan Selatan.
Penampilan teatrikal penuh energi dari Zydan inilah yang membuatnya tak hanya menggondol piala utama, tapi juga mengunci gelar bergengsi Best Talent.
Sementara itu, Almeera menyuguhkan atmosfer yang berbeda namun tak kalah magis. Ia membawakan Tari Parigal Wayang, sebuah tarian yang terinspirasi dari Wayang Kulit Purwa Banjar.
Lewat lekuk jemari dan tatapan matanya, putri dari Azwar Noviandy dan Yuliana Nurzahra ini seperti sedang merajut kembali kisah Pangeran Suryanata dari Majapahit yang datang ke tanah Banjar untuk mempersunting Putri Junjung Buih.
Bagi Kota Banjarbaru, kemenangan ini bukan sekadar urusan membawa pulang piala atau selempang juara. Ada pesan mendalam yang tersirat dari senyum kemenangan Zydan dan Almeera.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Banjarbaru, Noor Purbani Sukma Alamsyah, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
Menurut Purbani, apa yang diikuti Zydan dan Almeera bukan sekadar kompetisi unjuk bakat musiman. Di era gempuran modernisasi, ajang ini adalah benteng pertahanan. "Lebih dari itu, ajang ini memegang misi penting sebagai wadah strategis dalam menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap identitas budaya bangsa sejak usia dini," tegasnya. (al/ris)
Editor : Arief