RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM - Langkah para santri Lapas Banjarbaru menyusuri lorong-lorong blok hunian bukan sekadar berpindah tempat. Di setiap pemberhentian, mereka mengajak sesama warga binaan berhenti sejenak untuk mendengarkan tausiyah.
****
Didampingi petugas pembinaan, para santri secara rutin menyampaikan materi tentang penguatan keimanan, perbaikan akhlak, serta pentingnya berbenah diri selama menjalani masa pidana.
Suasana berlangsung khidmat. Warga binaan di setiap blok tampak antusias mengikuti tausiyah yang disampaikan rekan mereka sendiri.
Program ini merupakan bagian dari pembinaan kepribadian berbasis keagamaan. Sekaligus menjadi wadah bagi para santri untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh selama mengikuti pendidikan pesantren di dalam lapas.
Bagi salah seorang santri, Syarifudin, kesempatan berdiri di hadapan sesama warga binaan bukan hanya untuk berbagi ilmu, tetapi juga mengingatkan dirinya sendiri. "Semoga ini menjadi pengingat bagi kami semua agar terus memperbaiki diri," ucapnya.
Di balik tembok tinggi lapas, langkah sederhana para santri itu menghadirkan pesan yang terus bergema. Kesempatan memperbaiki diri tidak menunggu pintu kebebasan terbuka, tetapi dapat dimulai dari lorong-lorong blok hunian, saat seseorang memilih saling mengingatkan dalam kebaikan.
Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja Lapas Banjarbaru, Rifaldi Shandri Akbar, mengatakan tausiyah keliling sengaja dirancang agar pembinaan keagamaan tidak berhenti di ruang kelas pesantren. "Kami ingin nilai-nilai keagamaan menjangkau seluruh warga binaan," ujarnya.
Menurut Rifaldi, melalui kegiatan ini para santri tidak hanya belajar menyampaikan dakwah, tetapi juga mengasah kepedulian terhadap sesama. "Ketika mereka menyampaikan tausiyah kepada teman-temannya, pembinaan tidak hanya dirasakan oleh santri, tetapi juga menyebar ke seluruh blok hunian," tambahnya.
Dengan demikian, pembinaan keagamaan tidak lagi berlangsung satu arah. Para santri menjadi bagian dari proses pembinaan itu sendiri. Mereka belajar berbicara di hadapan orang lain, sementara warga binaan lain memperoleh ruang untuk saling menguatkan.
Tausiyah keliling diharapkan tidak hanya memperkuat pemahaman agama, tetapi juga menumbuhkan kepedulian, kebersamaan, dan semangat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief