Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Lorong Gua Baramban di Tapin Menyimpan Berjuta Kejutan, Ini Ceritanya

Rasidi Fadli • Senin, 22 Juni 2026 | 11:38 WIB
Anggota Pokdarwis dan pegiat wisata bersama jajaran Disbudpar Tapin saat menyusuri gua Baramban. (Andrie untuk Radar Banjarmasin) 
Anggota Pokdarwis dan pegiat wisata bersama jajaran Disbudpar Tapin saat menyusuri gua Baramban. (Andrie untuk Radar Banjarmasin) 

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau – Dari luar, mulut Gua Baramban di Desa Baramban, Kecamatan Piani, tampak biasa saja. Bahkan nyaris tersembunyi di balik akar-akar pepohonan yang menjuntai. Siapa sangka, di balik gua tersebut, tersimpan dunia lain yang belum banyak tersentuh manusia.

Pengalaman itu dirasakan Andrie Nashuha, staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tapin saat mengikuti praktik lapangan dalam Pelatihan Dasar Teknik Susur Gua (Caving) bersama para anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), beberapa hari tadi.

Diceritakan Andrie sekitar pukul 13.00 Wita, rombongan mulai memasuki perut bumi.

"Sebelum masuk, pendamping berpesan, bawa pulang jejak kaki saja, jangan yang lain," kenangnya, Senin (22/6/2026).

Kalimat sederhana itu seolah menjadi pengingat bahwa Gua Baramban bukan sekadar objek wisata. Ia adalah rumah bagi ekosistem yang telah terbentuk selama ribuan tahun.

Begitu melewati mulut gua, suasana langsung berubah drastis. Lorong curam yang diapit bebatuan menyambut setiap langkah. Cahaya senter terasa kalah oleh pekatnya gelap.

"Bukan karena baterainya lemah, tapi memang gelapnya berbeda. Gelap yang seperti menyerap suara," ujar Andrie.

Suara tetesan air menjadi musik pengiring perjalanan. Tak ada jalur khusus. Hanya tanah basah, batuan licin dan lorong sempit yang memaksa setiap orang berhati-hati. Kadang batu yang diinjak bergoyang. Jantung pun ikut berdebar.

Menurut Andrie, setiap sudut gua menyimpan cerita. Jejak kaki yang tertinggal hari ini, beberapa waktu kemudian bisa hilang tertutup endapan air yang terus bekerja membentuk ornamen baru.

Di langit-langit gua, stalaktit berwarna putih tampak menggantung indah. Namun keindahan itu sedikit ternoda oleh sejumlah coretan tangan-tangan jahil yang meninggalkan bekas di dinding batu kapur.

"Sayang sekali. Padahal alam sudah menciptakan keindahan yang luar biasa," katanya.

Semakin jauh masuk ke dalam, lorong sempit berganti dengan ruang raksasa yang membuat siapa pun terdiam.

Di sana terbentang formasi batuan menyerupai air terjun membeku. Pendamping menyebutnya flowstone.

Cahaya senter yang diarahkan ke ujung ruangan hanya terlihat remang-remang, pertanda betapa luasnya ruang bawah tanah tersebut.

Setelah beristirahat sejenak, perjalanan kembali dilanjutkan. Dinding gua berwarna cokelat kehijauan tampak berkilau ketika tetesan air dari stalaktit jatuh mengenai stalagmit di bawahnya.

Pantulan cahaya senter membuatnya terlihat seperti taburan berlian. Udara di dalam gua terasa dingin dan lembap. Aroma tanah basah, lumut, batuan tua, serta kotoran kelelawar bercampur menjadi satu. Aneh.

Bukan mengganggu, justru menghadirkan sensasi yang sulit dijelaskan.

Di atas kepala, koloni kelelawar bergelantungan dengan tenang. Sesekali terlihat ular merayap perlahan di dinding gua, seakan sedang mengintai mangsa yang tertidur.

Namun kejutan terbesar datang dari penghuni-penghuni kecil yang jarang diperhatikan manusia.

Ketika cahaya senter menyorot celah dinding kalsit, tampak seekor laba-laba berukuran cukup besar diam tak bergerak.

Tubuhnya pipih dengan kaki panjang menjulur ke segala arah. "Itu laba-laba pemburu gua. Jangan disorot terlalu lama," bisik pendamping.

Hasil identifikasi sementara menunjukkan laba-laba tersebut termasuk kelompok Huntsman Spider dari famili Sparassidae dengan genus Heteropoda.

Berbeda dengan laba-laba pada umumnya, spesies ini tidak membuat jaring. Mereka berburu dengan cara mengendap dan mendekati mangsa secara langsung.

Fauna ini tergolong troglofil atau penghuni gua fakultatif, yakni satwa yang menyukai lingkungan gelap namun tidak sepenuhnya bergantung pada gua untuk menjalani seluruh siklus hidupnya.

Tak lama kemudian, terdengar suara berirama dari balik celah batu. Bukan suara tetesan air. Melainkan seekor jangkrik gua.

Tubuhnya pucat hampir transparan dengan kaki-kaki panjang menyerupai lidi.

Diduga termasuk keluarga Rhaphidophoridae atau yang dikenal sebagai cave cricket.

Makhluk ini merupakan salah satu penghuni khas ekosistem gua yang jarang terlihat di permukaan.

Hampir dua jam menjelajah, rombongan akhirnya menemukan jalur keluar.

Lutut dipenuhi lumpur akibat harus merangkak di beberapa bagian lorong sempit. Baju basah oleh keringat dan percikan air.

Namun rasa lelah terbayar lunas. "Rasanya seperti baru keluar dari planet lain," ujar Andrie.

Baginya, Gua Baramban bukan hanya tentang batuan, lorong atau kegelapan.

Lebih dari itu, gua tersebut mengajarkan tentang kerendahan hati manusia di hadapan alam. "Gua yang asri itu bukan yang paling indah. Tapi yang paling jujur," tuturnya.

Ia berharap Gua Baramban tetap terjaga dari kerusakan dan keserakahan manusia, sehingga generasi mendatang masih bisa merasakan sensasi memasuki dunia sunyi yang menyimpan berjuta kejutan di bawah perut bumi Tapin.

Editor : M Oscar Fraby
#Baramban #kalah #Wisata #Tapin